Industri Sawit Eropa Dukung Indonesia Lawan Diskriminasi Uni Eropa

Michael Reily
13 Februari 2018, 19:32
Kelapa sawit
Arief Kamaludin|KATADATA
Petani memanen buah kelapa sawit di salah satu perkebunan kelapa sawit di Desa Delima Jaya, Kecamatan Kerinci, Kabupaten Siak, Riau.

Diskriminasi semakin kental karena minyak nabati lainnya baru dilarang pada 2030. Terlebih, pada 28 Februari mendatang, Uni Eropa akan kembali melakukan pembahasan antara parlemen, organisasi, dan komisi. “Rencananya, EPOA dalam setahun ke depan akan melakukan lobi ke negara di Eropa,” ujar Paulus.

Ketua EPOA Frans Claassen mengungkapkan, diskriminasi produk minyak sawit merupakan salah satu hal yang bertentangan dengan World Trade Organization (WTO). EPOA hadir bukan untuk mempromosikan kelapa sawit Indonesia maupun Malaysia di Uni Eropa, tetapi menunjukkan fakta terkait manfaat minyak sawit yang keberlanjutan.

Frans pun menekankan bahwa ada kesamaan level dalam minyak nabati. “Pelarangan minyak sawit malah menghambat keberlanjutan kelapa sawit Indonesia yang menjadi salah satu unsur penting dalam pembangunan aspek ekonomi sosial Indonesia,” jelasnya.

Menurutnya, pelarangan impor oleh Uni Eropa justru berpotensi menghambat pertumbuhan petani kecil dan sektor yang berkaitan dengan CPO di Indonesia. Sebab, secara tidak langsung, CPO berhubungan dengan 17 juta tenaga kerja.

EPOA pun bakal menjelaskan miskonsepsi yang terjadi terhadap minyak kelapa sawit di Eropa. “Saya akan menceritakan inisiatif seperti ISPO atau program penanaman kembali yang dilakukan di Indonesia,” ujar Frans.

Halaman:
Reporter: Michael Reily
Editor: Ekarina

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...