Bukalapak Untung Rp 3,14 T Usai Tak Lagi Berfokus di E-Commerce, Apa Rahasianya?
PT Bukalapak.com Tbk mencatatkan laba bersih Rp 3,14 triliun sepanjang tahun lalu, melonjak dibandingkan 2024 yang merugi Rp 1,54 triliun, setelah mengurangi fokus pada e-commerce.
Merujuk pada laporan keuangan Bukalapak (BUKA) yang diunggah di laman BEI, laba nilai investasi meningkat, dari rugi Rp 1,54 triliun menjadi untung Rp 2,37 triliun. Hal ini mendongkrak laba usaha menjadi Rp 2,41 triliun.
Pendapatan Bukalapak tercatat naik 46% secara tahunan alias year on year (yoy) menjadi Rp 6,5 triliun. Raihan ini ditopang oleh segmen gim atau gaming. Rinciannya sebagai berikut:
- Gaming: melesat 205,09% menjadi Rp 5,34 triliun
- Online to offline atau omnichannel: turun 61,74% menjadi Rp 794,47 miliar
- Ritel: susut 48,12% menjadi Rp 301,77 miliar
- Investasi: naik 34,46% menjadi Rp 66,58 miliar
Keuntungan yang berhasil dicatat Bukalapak tidak datang begitu saja. Ada beberapa strategi dan segmen bisnis baru yang menjadi mesin pertumbuhan perusahaan. Rinciannya sebagai berikut:
1. Bisnis Gaming Jadi Penyumbang Terbesar
Segmen gaming menjadi kontributor utama bagi pendapatan Bukalapak. Pertumbuhan positif pada kuartal terakhir tahun lalu itu terutama didorong dari segmen gaming Bukalapak yang mengoperasikan marketplace game seperti Itemku dan Lapakgaming.
Kedua marketplace ini mencatatkan pendapatan Rp 1,5 triliun pada kuartal IV 2025, naik 8% secara kuartalan.
Pertumbuhan ini didorong meningkatnya transaksi pemain game serta strategi pemasaran yang lebih efektif menjelang akhir tahun.
2. Mitra Bukalapak Dorong Transaksi Produk Digital
Program pemberdayaan warung melalui Mitra Bukalapak juga menunjukkan kinerja positif. Pada kuartal IV 2025, segmen yang fokus dalam memberdayakan UMKM melalui penyediaan akses kepada produk virtual itu mencatat pendapatan Rp 191 miliar atau naik 12% secara kuartalan.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan produk digital seperti voucher isi ulang, token, hingga mata uang gim.
3. Platform Investasi Tumbuh Pesat
Lini bisnis investasi melalui platform B-Money juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup agresif. Bukalapak mencatat pendapatan segmen ini naik 39% secara kuartalan menjadi Rp 25 miliar.
Peningkatan ini dipicu oleh bertambahnya jumlah investor serta frekuensi transaksi di platform investasi digital tersebut.
4. Strategi Ritel Omnichannel Tetap Dipertahankan
Meski fokus utama bergeser, Bukalapak tetap mempertahankan segmen ritel sebagai bagian dari ekosistem digitalnya melalui pendekatan omnichannel. Segmen ini mencatat pendapatan Rp 74 miliar pada kuartal IV 2025, tumbuh 12% dibanding kuartal sebelumnya.
Kenaikan ini didorong tingginya permintaan akhir tahun serta strategi cuci gudang untuk mempercepat perputaran stok.
5. Kinerja Operasional Makin Sehat
Direktur Bukalapak Victor Putra Lesmana mengatakan 2025 menjadi momen penting bagi perusahaan untuk memperkuat fondasi bisnis, Perusahaan juga fokus pada pertumbuhan berkelanjutan.
"Pada 2025 adalah momen penting bagi kami untuk memperkuat fondasi perusahaan dengan berfokus pada strategi yang dapat memberikan nilai jangka panjang kepada stakeholders kami,” kata Victor dalam pernyataan tertulisnya dikutip Selasa (17/3).
Perbaikan juga terlihat dari sisi profitabilitas. Adjusted EBITDA Bukalapak berhasil ditekan dari negatif Rp 340 miliar pada 2024 menjadi negatif Rp 62 miliar pada 2025. Bahkan pada kuartal IV 2025, EBITDA yang disesuaikan sudah mendekati titik impas atau break even dengan minus Rp 9 miliar.
Selain itu, perusahaan memiliki cadangan kas, setara kas, dan investasi likuid mencapai Rp 17,8 triliun. Modal besar ini memberi ruang bagi Bukalapak untuk terus mengembangkan inovasi dan memperluas peluang bisnis di sektor ekonomi digital.
