Belanja di Cina Kini Cukup Ngobrol dengan AI, Tak Lagi Buka E-Commerce

Rahayu Subekti
12 Mei 2026, 13:33
Belanja online di aplikasi chatbot AI, cina,
ChatGPT, Katadata/Desy Setyowati
Belanja online di aplikasi chatbot AI
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Warga Cina mulai beralih ke berbelanja online lewat aplikasi kecerdasan buatan (AI), bukan lagi sekadar membuka platform e-commerce seperti di Indonesia. Tren baru ini muncul setelah raksasa teknologi Cina, Alibaba mengintegrasikan model AI Qwen dengan platform belanja Taobao, sehingga pengguna bisa mencari produk, membandingkan harga hingga menyelesaikan transaksi hanya melalui percakapan dengan chatbot AI.

Alibaba mengumumkan integrasi penuh aplikasi model bahasa besar alias large language model (LLM) Qwen dengan platform e-commerce Taobao. Hal ini memungkinkan pengguna menyelesaikan seluruh transaksi belanja melalui interaksi yang didukung oleh AI.

Langkah itu menandai integrasi mendalam pertama secara global antara platform e-commerce berskala besar dan aplikasi AI. Hal ini menciptakan pengalaman belanja AI tertutup yang mencakup rekomendasi produk, penempatan pesanan, pemenuhan, dan layanan purna jual, menurut Securities Times.

Alibaba mengatakan, pengguna kini dapat membuka aplikasi AI Qwen yang dikembangkan Alibaba dan menyelesaikan pemilihan produk, perbandingan, dan penempatan pesanan untuk barang yang tersedia di Taobao melalui chatbot AI.

Di aplikasi Taobao, pengguna dapat mengakses ‘Asisten Belanja AI Qwen’ yang menawarkan fungsi termasuk uji coba virtual bertenaga AI, perhitungan diskon otomatis, dan layanan pelacakan harga rendah.

Alibaba menyampaikan peluncuran ini merupakan peningkatan signifikan dari awal tahun ini, ketika fungsi terkait perdagangan Qwen terbatas pada beberapa kategori uji coba.

Dengan integrasi penuh, AI Qwen kini dapat mengakses katalog Taobao dan Tmall yang berisi lebih dari empat miliar produk, didukung oleh agen AI yang dilengkapi dengan keterampilan yang mencakup manajemen pesanan, logistik, dan layanan purna jual, menurut perusahaan tersebut.

Integrasi AI Qwen dan platform e-commerce Taobao dirancang untuk mempermudah belanja online dalam beberapa situasi umum: ketika pengguna tahu apa yang mereka inginkan tetapi dihadapkan pada terlalu banyak filter, ketika mereka hanya mengingat sebagian fitur produk, atau ketika mereka membutuhkan serangkaian produk untuk skenario tertentu, menurut pernyataan Alibaba.

Dalam kasus seperti itu, asisten AI dapat mempersempit pilihan, memperbaiki persyaratan yang tidak sesuai, dan menawarkan rekomendasi gabungan.

Dalam uji coba yang dilakukan jurnalis Global Times, aplikasi AI Qwen mampu menghasilkan rekomendasi produk melalui beberapa putaran percakapan setelah pengguna memasukkan kata kunci terkait produk. 

Perkembangan ini terjadi ketika raksasa internet Cina berlomba-lomba untuk mengomersialkan kemampuan AI di tengah persaingan yang semakin ketat di pasar AI yang berkembang pesat di negara tersebut.

Selama ini, persaingan e-commerce di Cina berfokus pada harga murah dan pengiriman cepat. “Industri ini kini menuju tahap baru, ketika platform lebih bersaing dalam hal efisiensi operasional dan pengalaman pengguna, menjadikan integrasi yang lebih dalam dengan AI sebagai arah yang tak terhindarkan bagi sektor ini,” kata analis industri teknologi Tiongkok Ma Jihua dikutip dari Global Times, Senin (11/5) waktu setempat.

Mengintegrasikan AI secara langsung ke alur transaksi belanja dapat menurunkan biaya pengambilan keputusan konsumen. "Saat AI diterapkan pada lebih banyak skenario belanja, AI juga dapat menciptakan layanan yang lebih interaktif dan menarik, membantu platform meningkatkan retensi pengguna dan memperkuat loyalitas pelangganm,” kata Ma.

Menurut Ma, langkah Alibaba untuk menanamkan AI lebih dalam ke ekosistem belanja bukan hanya bagian dari upaya komersialisasi perusahaan sendiri, tetapi juga upaya mengeksplorasi jalur pengembangan yang lebih jelas bagi industri e-commerce AI yang lebih luas.

Cina Dinilai Lebih Unggul soal Adopsi AI untuk Belanja Online Ketimbang Barat

Reuters melaporkan pada Senin (11/5), bahwa langkah baru Alibaba itu menggarisbawahi ‘kesenjangan’ antara platform e-commerce Cina dengan Barat. Sebab, model Tiongkok memungkinkan AI untuk disematkan langsung ke dalam transaksi langsung, sementara platform AS tetap lebih terfragmentasi dan berhati-hati tentang belanja otonom sepenuhnya.

Langkah terbaru Alibaba ini mengikuti upaya sebelumnya untuk menghubungkan AI Qwen dengan skenario layanan konsumen nyata di seluruh ekosistemnya.

Pada 15 Januari, Alibaba mengumumkan bahwa aplikasi Qwen telah terhubung dengan Taobao, Alipay, Taobao Instant Commerce, Fliggy, dan Amap. Membuka layanan berbasis AI seperti pemesanan makanan, belanja, pemesanan penerbangan, dan reservasi hotel untuk semua pengguna untuk pengujian publik, menurut Kantor Berita Xinhua.

Perusahaan teknologi Tiongkok lainnya juga mendorong LLM AI ke dalam skenario pengguna sehari-hari yang lebih luas. Model pratinjau Hy3 milik Tencent telah diintegrasikan ke dalam produk seperti Tencent Yuanbao, QQ Browser, dan WeRead, platform membaca digital perusahaan tersebut, menurut laporan media.

Pergeseran besar di sektor aplikasi AI Cina pada 2026 yakni, perusahaan semakin menemukan skenario dunia nyata untuk penerapan dan membentuk kembali narasi komersial mereka di sekitarnya. Investasi besar dalam daya komputasi dan talenta juga membuat komersialisasi menjadi lebih mendesak bagi para pelaku industri, kata laporan Xinhua.

Ma mencatat bahwa platform yang mampu mengubah kemampuan teknis menjadi pengalaman dan layanan konsumen yang konkret melalui skenario praktis lebih mungkin menemukan jalan yang layak untuk komersialisasi model bahasa besar, dan menambahkan bahwa skenario konsumsi baru yang didukung AI juga dapat membantu merangsang permintaan dan membuka momentum pertumbuhan baru bagi ekonomi digital.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...