Lazada Genjot Transaksi Lewat Diskon 6.6 saat Inflasi Naik dan Rupiah Rp 18.000
Lazada menggelar Lazada 6.6 Super WOW Sale selama 5 – 8 Juni. Pesta diskon ini dinilai bisa menjadi momen bagi penjual untuk menggenjot transaksi di tengah kenaikan inflasi dan pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat.
Commercial Director Lazada Indonesia Erika Agustine menyampaikan, transaksi biasanya meningkat saat Ramadan dan Idul Fitri maupun libur Natal dan Tahan Baru. Setelah momen ini, biasanya permintaan menurun.
“Pertengahan tahun ini, peran Lazada mendorong konsumen untuk berbelanja,” kata Erika dalam acara konferensi pers di Jakarta, Kamis (4/6). Caranya, dengan rutin menggelar kampanye promosi seperti 6.6. “Dengan adanya Lazada 6.6 Super WOW Sale, kami memberi kesempatan konsumen untuk berbelanja dengan promosi yang menarik.”
Diskon yang ditawarkan selama periode Lazada 6.6 Super WOW Sale di antaranya bonus voucer hingga Rp 66 juta, diskon merek, diskon hingga 95% dan promo beli tiga dapat enam.
Erika menyampaikan, periode diskon juga bisa dimanfaatkan oleh penjual untuk menggenjot transaksi. Terlebih lagi, ada momen libur sekolah yang biasanya dibarengi dengan peningkatan penjualan buku hingga tas sekolah anak.
Selain itu, berdasarkan data historis Lazada pada Juni 2025, produk kategori elektronik menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, terutama laptop, smartphone, tablet, dan gaming device sebagai perangkat-perangkat yang mendukung kelancaran belajar, bekerja, dan hiburan.
Produk kategori fesyen untuk perlengkapan liburan juga tumbuh signifikan pada Juni 2025, terutama tas dan perlengkapan perjalanan, fesyen anak, serta sportswear.
Director of Online Business Samsung Indonesia Selvia Gofar mengatakan, pesta diskon e-commerce pada pertengahan tahun menjadi pendorong penjualan dan menjangkau konsumen baru.
“Melalui official store Samsung Indonesia di LazMall, kami mempermudah akses untuk memiliki inovasi canggih yang membantu kreativitas dan produktivitas pengguna Samsung,” Selvia menambahkkan.
Penawaran yang disampaikan yakni gratis TV Samsung 32 inci untuk setiap pembelian Samsung S26 Ultra, harga spesial khusus member Lazada untuk Exclusive SKU TV 43 inci, dan fasilitas cicilan kartu kredit 0% serta berbagai metode pembayaran lainnya.
Inflasi Naik, Rupiah Melemah Jadi Rp 18.000 per US$
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,08% pada Mei 2026, naik tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu 1,6%. Meski masih berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5% hingga 3,5%, laju kenaikan inflasi dinilai perlu diwaspadai.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, yang perlu dicermati bukan hanya posisi inflasi yang masih dalam target BI, melainkan percepatan kenaikannya dalam setahun terakhir.
“Dalam kurun satu tahun angkanya hampir berlipat ganda. Namun, kenaikan ini tidak bisa langsung ditafsirkan sebagai tanda melemahnya daya beli masyarakat secara umum,” ujar Yusuf kepada Katadata.co.id, Kamis (4/6).
Yusuf mengatakan, indikator yang lebih relevan untuk melihat tekanan permintaan masyarakat adalah inflasi inti. Pada Mei 2026, inflasi inti tercatat sebesar 2,59% secara tahunan dan masih tergolong moderat. “Data saat ini menunjukkan bahwa tekanan harga yang terjadi belum bersifat struktural,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengingatkan dampak inflasi pangan tidak dirasakan secara merata. Rumah tangga berpendapatan rendah akan lebih terpukul karena sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pangan. “Secara rata-rata inflasi memang masih terkendali, tetapi tekanan terhadap daya beli kelompok bawah kemungkinan sudah jauh lebih besar daripada yang tercermin dalam angka agregat,” katanya.
Akan tetapi, daya beli masyarakat juga berpotensi terkena dampak pelemahan rupiah yang menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan Kamis (4/6). Melansir Bloomberg pada Kamis (4/6) pukul 13.26 WIB, rupiah berada di level Rp 18.046 per dolar AS atau melemah 0,44% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan rupiah terjadi ketika mayoritas mata uang Asia justru bergerak menguat terhadap dolar AS.
