Riset Lazada: Konsumen Kian Selektif, Selisih Belanja Online Rp 65 Triliun

Desy Setyowati
30 September 2026, 16:21
LazMall Lazada, belanja online,
Lazada
LazMall Lazada
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pembeli di sektor perdagangan elektronik atau e-commerce Indonesia semakin cermat dalam mengambil keputusan belanja. Riset Lazada bersama perusahaan e-commerce intelligence Cube memperkirakan selisih pengeluaran antara kelompok pembeli yang cermat dan pembeli biasa mencapai Rp 65 triliun pada 2026.

Dalam laporan bertajuk The 2026 ECommerce Savvy Shopper Report: Indonesia, sekitar 28% konsumen e-commerce di Indonesia dikategorikan sebagai Savvy Shoppers atau Konsumen Cerdas. Kelompok ini tercatat memiliki pengeluaran bulanan 19% lebih tinggi dibandingkan General Shoppers atau Konsumen Biasa.

Laporan tersebut mendefinisikan Konsumen Cerdas dalam empat dimensi. Pertama, verifikasi, yakni kemampuan konsumen menilai produk, ulasan, penjual, serta indikator keaslian barang sebelum melakukan pembelian.

Kedua, optimalisasi nilai belanja, yaitu kemampuan membandingkan berbagai penawaran, promosi, dan manfaat yang diperoleh dari suatu transaksi.

Ketiga, rasa yakin dan aman, yang mencakup pemahaman konsumen mengenai perlindungan belanja, kebijakan pengembalian barang, serta kredibilitas penjual.

Keempat, kecakapan digital, yakni kemampuan menggunakan platform, informasi digital, perdagangan melalui media sosial atau social commerce, serta teknologi terkini, termasuk kecerdasan buatan (AI).

Sementara itu, Konsumen Biasa merupakan kelompok pembeli yang tidak memenuhi kriteria penilaian Konsumen Cerdas dalam studi tersebut.

Laporan itu disusun berdasarkan survei terhadap 6.000 konsumen daring berusia 18–61 tahun di enam negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Di tingkat Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi kedua dalam proporsi Konsumen Cerdas, dengan persentase 28%. Posisi pertama ditempati Filipina dengan 36%. Urutan ketiga yakni Vietnam 25%, disusul Thailand 22%, Malaysia 20%, dan Singapura 9%.

Estimasi selisih pengeluaran Rp 65 triliun itu mencerminkan potensi nilai belanja yang lebih tinggi dari kelompok Konsumen Cerdas di pasar e-commerce Indonesia pada 2026.

Lazada dan Cube menegaskan bahwa angka tersebut bukan merupakan pertumbuhan belanja yang sepenuhnya disebabkan oleh perilaku belanja cerdas, melainkan estimasi perbedaan pengeluaran antara kedua kelompok konsumen.

Pembeli Tak Sekadar Cari Harga Murah

Riset itu juga menunjukkan bahwa konsumen yang cermat tidak hanya mempertimbangkan harga terendah ketika berbelanja. Mereka turut memperhitungkan nilai keseluruhan transaksi, keamanan, keaslian produk, dan manfaat yang diperoleh.

Di Indonesia, sebanyak 34% Konsumen Cerdas bersedia membayar lebih untuk mendapatkan diskon tambahan. Selain itu, 36% memilih berbelanja pada momen tertentu, sedangkan 30% bersedia meluangkan waktu lebih banyak untuk membandingkan berbagai penawaran.

Dari sisi perlindungan transaksi, sebanyak 49% Konsumen Cerdas bersedia membayar lebih untuk memperoleh perlindungan belanja tambahan. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan Konsumen Biasa yang mencapai 27%.

Sebanyak 39% Konsumen Cerdas juga bersedia menunggu lebih lama untuk pengiriman apabila opsi tersebut memberikan nilai belanja yang lebih baik.

Di sisi lain, konsumen Indonesia relatif enggan mengorbankan kepercayaan demi harga yang lebih murah. Hanya 9% responden yang bersedia berbelanja ketika indikator keaslian produk lebih sedikit. Sementara itu, hanya 15% yang bersedia membeli produk dari penjual yang kurang dikenal.

Kedua persentase tersebut berada di bawah rata-rata Asia Tenggara, menurut laporan Lazada dan Cube.

Gen Z Cari Produk Bundling dan Promo

Perbedaan perilaku belanja juga terlihat antargenerasi. Riset tersebut menemukan bahwa konsumen Generasi Z (Gen Z) lebih aktif mengoptimalkan nilai belanja melalui paket bundling dan promosi.

Sebanyak 65% konsumen Gen Z mengisi keranjang belanja dengan paket bundling dan promo untuk mendapatkan nilai terbaik. Angka ini lebih tinggi dibandingkan konsumen Generasi X (Gen X), yang mencapai 37%.

Temuan tersebut menunjukkan perbedaan pendekatan antargenerasi dalam memanfaatkan promosi dan penawaran saat berbelanja daring.

Menurut CEO Lazada Indonesia Carlos Otermin Barrera, fase pertumbuhan berikutnya bagi industri e-commerce Asia Tenggara akan ditentukan oleh kemampuan platform dalam membantu konsumen berbelanja dengan lebih yakin dan terarah.

Ia mengatakan Konsumen Cerdas mencerminkan perkembangan perilaku belanja, ketika konsumen semakin memperhatikan nilai transaksi, kepercayaan, perlindungan konsumen, dan pemanfaatan teknologi.

Sementara itu, Co-Founder Cube Simon Torring mengatakan kecerdasan konsumen menjadi salah satu indikator kematangan pasar. Menurut dia, konsumen yang cermat tidak hanya sensitif terhadap harga, tetapi juga mampu memastikan keaslian produk, mempertimbangkan risiko, dan memanfaatkan teknologi secara optimal.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...