Ajaib Raih Investasi US$270 Juta dari SBI Holdings, Sinyal Kepercayaan Global

Try Surya Anditya
Oleh Try Surya Anditya - Tim Publikasi Katadata
28 Agustus 2026, 10:38
Ajaib
Ajaib
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ajaib mengumumkan investasi strategis senilai US$270 juta atau sekitar Rp4,8 triliun dari SBI Holdings, raksasa keuangan asal Jepang yang tercatat di Bursa Tokyo dan menaungi perusahaan sekuritas terbesar di Jepang.

Investasi tersebut menjadi pendanaan terbesar yang diraih perusahaan teknologi Indonesia dalam lebih dari empat tahun terakhir. Dengan tambahan modal ini, total pendanaan yang telah dihimpun Ajaib sejak berdiri pada 2019 telah melampaui US$500 juta atau sekitar Rp8,9 triliun.

Di tengah perlambatan pendanaan teknologi global, masuknya investasi dalam skala besar tersebut menjadi sinyal kepercayaan dunia terhadap arah ekonomi digital Indonesia.

Pendanaan ini sekaligus menunjukkan perusahaan teknologi yang dibangun di dalam negeri dengan talenta lokal mampu mendapatkan kepercayaan investor global dan bersaing di panggung internasional.

Kepercayaan tersebut tidak hanya ditujukan kepada Ajaib, tetapi juga mencerminkan keyakinan terhadap perusahaan teknologi Indonesia, ekonomi nasional, serta talenta yang dimiliki Indonesia.

SBI Holdings didirikan oleh Yoshitaka Kitao, tokoh yang dikenal luas sebagai salah satu pelopor industri keuangan digital Jepang. Sebelum SBI Holdings, Ajaib telah didukung sejumlah investor kelas dunia, termasuk Horizons Ventures milik Li Ka-shing, yang pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di Asia, serta DST Global dan Ribbit Capital, investor di balik Robinhood dan Coinbase.

Memperluas Akses Investasi

Sejak diluncurkan pada 2019, jutaan orang Indonesia telah mempercayakan kebutuhan investasinya kepada Ajaib, mulai dari saham Indonesia, aset kripto, hingga saham Amerika Serikat.

Mayoritas nasabah Ajaib merupakan investor pemula. Sebagian besar juga berasal dari kota-kota lapis kedua dan ketiga di berbagai wilayah Indonesia.

Akses investasi dirancang agar dapat dijangkau masyarakat secara lebih luas. Rekening dapat dibuka melalui telepon genggam dalam hitungan menit tanpa setoran minimum. Dengan demikian, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat mulai memiliki aset dan ikut menikmati pertumbuhan ekonomi.

Di luar aplikasi, Ajaib juga aktif menjalankan berbagai program literasi keuangan bersama sekolah, kampus, komunitas, dan para pegiat edukasi keuangan. Langkah tersebut sejalan dengan agenda nasional untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

“Nasabah pertama kami adalah mahasiswa yang beli saham satu lot demi satu lot. Sampai saat ini saya masih ingat betul rasanya — deg-degan melihat portofolio investasi naik-turun meski hanya beberapa ribu rupiah,” kata Anderson Sumarli, Co-Founder dan CEO Ajaib dikutip Jum'at (28/8).

Hari ini, imbuhnya, jutaan orang Indonesia menabung dan berinvestasi lewat Ajaib sebagian besar investor pemula, banyak dari kota-kota kecil.

"Jadi kalau ditanya investasi US$270 juta ini sebenarnya untuk siapa, jawabannya sederhana: untuk teman-teman yang setiap gajian menyisihkan sedikit demi sedikit untuk nabung saham dan kripto. Ini kepercayaan dunia kepada kalian, bukan cuma kepada kami, ungkapnya.

Pertumbuhan tersebut berlangsung ketika potensi pasar investasi Indonesia masih sangat besar. Chainalysis menempatkan Indonesia di tujuh besar dunia dalam adopsi aset digital dan menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan usia median sekitar 30 tahun, Indonesia memiliki basis masyarakat yang besar untuk mendorong pertumbuhan investor baru. Sebagian masyarakat Indonesia juga masih berada pada tahap awal dalam perjalanan investasinya.

Teknologi menjadi salah satu kunci untuk memperluas akses tersebut. Dengan layanan digital, investasi dapat menjangkau masyarakat di berbagai wilayah tanpa harus bergantung pada kedekatan dengan pusat-pusat ekonomi dan keuangan.

“Komunitas saham dan kripto di Indonesia itu luar biasa, mungkin yang paling semangat belajar di dunia,” kata Sumarli.

Lebih lanjut, ia mengatakan, pasar saham Indonesia, saham Amerika, dan kripto belakangan mulai menunjukkan tanda-tanda awal penguatan. Sehingga wajar ketika terdapat antusiasme yang tinggi.

"Pesan saya santai saja, cuan itu datang dari sabar, belajar, dan konsisten, bukan dari FOMO. Tugas kami memastikan begitu kalian siap mulai, semuanya aman, murah, dan gampang," saran dia.

Mendorong Kepemilikan Aset

Ajaib menilai, perluasan akses investasi memiliki arti lebih besar dari sekadar pertumbuhan bisnis. Kemudahan masyarakat dalam memiliki saham dan aset digital dapat menjadi bagian dari upaya memperluas kepemilikan aset di tengah pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ekonomi kita tumbuh sekitar lima persen setiap tahun. Pertanyaannya, siapa yang menikmati pertumbuhan itu?” kata Sumarli. “Menurut saya, pasar modal dan pasar aset digital adalah cara terbaik untuk mendistribusikan pertumbuhan ekonomi ke semua orang karena siapa pun bisa ikut memiliki dan tumbuh bersama perusahaan serta aset, di Indonesia maupun di seluruh dunia. Karena itu edukasi menjadi sangat penting, semakin banyak orang paham, semakin merata hasil pertumbuhan itu dirasakan.”

Pertumbuhan Ajaib juga dikaitkan dengan aspirasi nasional menuju Indonesia Emas 2045. Dengan mendorong lebih banyak masyarakat menjadi pemilik aset dalam perekonomian, perusahaan melihat investasi sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat fondasi finansial masyarakat dan membangun ekonomi yang lebih mandiri dan sejahtera.

Ajaib juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan Bappebti atas kerangka regulasi yang dinilai progresif serta berbagai inisiatif strategis yang membuka ruang bagi investasi asing dan pengembangan teknologi baru.

Menurut Ajaib, kepercayaan investor global tumbuh dari kepastian hukum, pengawasan yang sehat, dan keterbukaan terhadap inovasi. Kondisi tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan industri teknologi dan keuangan digital di Indonesia.

“Jujur saja, perjalanan membangun usaha ini tidak mudah sama sekali, banyak jatuh-bangun yang tidak terlihat dari luar. Tapi berkat dukungan jutaan nasabah kami, hari ini kami bisa sampai di titik ini. Jadi pencapaian ini milik mereka juga," kata Sumarli.

Perkuat Talenta Teknologi Indonesia

Investasi US$270 juta dari SBI Holdings juga akan digunakan untuk memperluas perekrutan Ajaib di Indonesia.

Ajaib meyakini kualitas talenta dalam negeri mampu bersaing dengan talenta terbaik dunia. Perusahaan juga melihat Indonesia memiliki berbagai prasyarat untuk berkembang menjadi salah satu pusat teknologi di Asia Tenggara.

Kepercayaan investor global tersebut diharapkan dapat membuka jalan bagi lebih banyak modal asing untuk masuk ke sektor teknologi Indonesia, termasuk industri kecerdasan buatan (AI) dan pusat data (data center). Pada saat yang sama, ekspansi tersebut berpotensi menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas bagi talenta Indonesia.

Sebagai kelompok usaha yang beroperasi secara regional, dana investasi ini juga akan dialokasikan ke berbagai lini bisnis Ajaib di Asia Tenggara.

“Harapan kami, porsi terbesar dari investasi ini terus tertanam di Indonesia. Selama pemerintah dan regulator terus membuka ruang bagi inovasi seperti selama ini, di sinilah komitmen kami akan terus tumbuh. Kami berkomitmen untuk terus membangun bersama Indonesia," ujar Sumarli.

Dengan pendanaan baru tersebut, Ajaib memasuki fase pertumbuhan berikutnya dengan dukungan investor global dan basis jutaan nasabah di Indonesia. Investasi ini sekaligus mempertegas ambisi Ajaib untuk terus memperluas akses layanan investasi dan membangun ekosistem keuangan digital yang dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...