Binance Ganti 90% Aset Kripto yang Dicuri, Siap Buka Penarikan Dana
Binance menyatakan telah menutupi sekitar 90% nilai aset kripto senilai US$ 6,3 miliar atau Rp 114,2 triliun(kurs Rp 18.127 pernUS$) yang dicuri dalam peretasan dompet panas (hot wallet). Bursa kripto terbesar di dunia ini juga berencana melanjutkan layanan penarikan dana bagi pengguna pada Minggu (1/11), setelah pemeriksaan keamanan dan konfirmasi akhir.
Dalam pernyataan resmi pada Sabtu (31/10), Binance mengatakan telah memulihkan dukungan untuk sekitar 90% dari nilai aset token yang dicuri. Namun, hal ini tidak berarti perusahaan telah berhasil mengambil kembali 90% dana tersebut dari tangan peretas.
Binance menyatakan perusahaan menggunakan sebagian dari Secure Asset Fund for Users (SAFU), sebagian dana asuransi berjangka (futures), serta kas perusahaan untuk menambah aset yang terdampak pencurian.
“Binance akan menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri ini, bukan pengguna kami,” demikian pernyataan Binance, seperti dikutip CNBC Internasional, Minggu (1/11).
Perusahaan menyatakan akan terus membeli aset token terkait yang tersisa melalui pasar dan saluran over-the-counter (OTC) hingga nilai aset yang didukung mencapai 100% untuk seluruh token yang terdampak.
Binance menyebut seluruh aset dalam bentuk Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Tether (USDT), BNB, Solana (SOL), USD Coin (USDC), XRP, USD1, RLUSD, dan Zcash (ZEC) telah dijamin sepenuhnya.
Sekitar 10% aset yang belum sepenuhnya didukung terdiri atas token di luar 10 aset teratas. Binance mengatakan token-token ini memiliki likuiditas lebih rendah, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk diperoleh dalam jumlah yang diperlukan.
Binance menegaskan komitmennya untuk menanggung seluruh dampak finansial dari pencurian tersebut. Perusahaan juga berjanji menunjukkan kemajuan melalui pelaporan yang transparan dan tindakan nyata.
Binance Siapkan Pembukaan Penarikan Dana
Binance menyebut pembukaan kembali layanan penarikan dana bagi pengguna sebagai tonggak penting berikutnya setelah insiden peretasan.
Perusahaan berencana melanjutkan layanan itu pada Minggu (1/11), dengan syarat pemeriksaan keamanan dan konfirmasi akhir telah dilakukan. Pada saat yang sama, Binance masih melanjutkan investigasi untuk mengungkap bagaimana serangan tersebut terjadi.
Penyebab pasti peretasan yang disebut sebagai pencurian kripto terbesar yang pernah tercatat itu masih belum jelas. Binance sebelumnya mengatakan serangan mungkin melibatkan laptop seorang engineer DevOps yang diretas. Kondisi itu diduga memungkinkan hacker memperoleh akses ke kontainer layanan dan mengirimkan transaksi penarikan yang tidak sah.
Namun, Co-CEO Binance Richard Teng kemudian mengatakan serangan tersebut melibatkan proses yang lebih kompleks daripada sekadar penyalahgunaan izin seorang engineer.
Binance menolak untuk memerinci perkembangan investigasi kepada CNBC dan mengarahkan pertanyaan ke pernyataan terbarunya.
FBI Sebut Korea Utara Dalang Peretasan Binance
Di tengah upaya pemulihan aset, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menyatakan nahwa Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian tersebut.
FBI mengatakan pelaku dari Korea Utara mencuci aset kripto hasil curian dengan mengonversinya menjadi Ethereum. Aset digital ini diperkirakan terus dikonversi sebagai bagian dari persiapan menuju tahap pencucian uang berikutnya.
Sebelumnya, perusahaan intelijen blockchain TRM Labs dan Chainalysis juga mengaitkan peretasan Binance dengan kelompok peretas yang didukung Korea Utara, yakni TraderTraitor.
TRM Labs menyebut sejumlah karakteristik serangan tersebut memiliki kemiripan dengan serangan siber yang sebelumnya dikaitkan dengan Korea Utara, termasuk peretasan Bybit dan KelpDAO pada April 2026.
Karakteristik tersebut antara lain penarikan Tornado Cash dalam jumlah kecil untuk mendanai dompet operator, persiapan yang dimulai jauh sebelum pencurian, serta penggunaan tanda tangan yang telah diperoleh sebelumnya dan kemudian dieksekusi dalam satu serangan.
Peretas Berpacu Menyamarkan Aset Curian
Perusahaan kripto dan penegak hukum disebut berlomba memulihkan lebih dari US$ 6 miliar dalam aset kripto yang dicuri dari Binance sebelum hacker berhasil menyamarkan jejak dana tersebut.
Para ahli menggambarkan upaya tersebut sebagai permainan kucing dan tikus antara penyelidik dan hacker yang diduga berasal dari Korea Utara.
Kepala Kebijakan Global di TRM Labs, Ari Redbord, mengatakan tantangan utamanya adalah mencegah peretas mengubah aset kripto hasil curian menjadi mata uang fiat.
“Pada akhirnya, mereka mencoba untuk mengalihkan kripto ke mata uang fiat. Dan itulah tantangannya, semacam perlombaan melawan waktu,” kata Redbord dikutip dari CNBC Internasional.
Setelah peretasan, sejumlah penerbit stablecoin, termasuk Circle sebagai penerbit USDC dan Tether sebagai penerbit USDT, bergerak membekukan dana terkait.
Stablecoin merupakan aset digital yang dirancang untuk mempertahankan nilai terhadap mata uang tertentu, seperti dolar AS, dengan dukungan aset berupa obligasi pemerintah atau mata uang fiat.
Binance memperkirakan sekitar US$ 3 miliar atau Rp 54,38 triliun dalam bentuk aset kripto telah dibekukan.
Penerbit stablecoin dapat membakar token yang dibekukan, sehingga tidak dapat diakses oleh hacker, kemudian menerbitkan kembali token baru untuk disimpan oleh entitas pemerintah yang sah dan berpotensi dikembalikan kepada Binance.
Namun, menurut TRM Labs, peretas bergerak cepat dengan menjual USDT kepada pelaku pasar dan meminjam Ethereum menggunakan stablecoin sebagai jaminan. Ethereum lebih sulit dibekukan, sedangkan pihak yang memberikan pinjaman akan tetap memegang stablecoin yang dicuri.
Mitra sekaligus kepala risiko siber dan investigasi kompleks di firma hukum Mishcon de Reya, Joe Hancock, mengatakan para hacker telah bergerak lebih dahulu sebelum jalur transaksi tersebut ditutup.
Penyelidik juga menghadapi tantangan karena peretas menggunakan teknik untuk menyamarkan perpindahan aset di blockchain.
Blockchain merupakan buku besar transaksi digital yang memungkinkan perusahaan forensik kripto melacak perpindahan aset di berbagai dompet. Untuk menghindari pelacakan, pelaku dapat menggunakan layanan pencampur kripto yang menggabungkan dana dari berbagai pengguna sehingga asal-usul transaksi menjadi lebih sulit diidentifikasi.
Namun, CEO Chainalysis Jonathan Levin mengatakan perusahaannya belum melihat indikasi penggunaan teknik pencampur tersebut dalam serangan ini.
Sebaliknya, Chainalysis mengamati pola pencucian uang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Peretas menggunakan otomatisasi untuk memindahkan dana bolak-balik di antara sejumlah dompet guna mengelabui penyelidik.
Dalam unggahan blog, Chainalysis menjelaskan bahwa dana tidak sekadar diteruskan ke alamat lain. Hacker berulang kali mengedarkan aset di antara berbagai alamat, termasuk mengirimkannya kembali ke alamat yang sebelumnya telah terlibat dalam rangkaian transaksi.
Levin juga mengatakan perusahaannya mengamati perpindahan dana dalam jumlah besar ke berbagai alamat di jaringan Tron. Chainalysis mengerahkan tim pemantauan sepanjang waktu serta menggunakan mekanisme otomatis untuk melacak pergerakan tersebut.
Jika hacker mengonversi stablecoin menjadi aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum, aset hasil konversi itu akan lebih sulit dibekukan dibandingkan stablecoin yang dapat dibekukan oleh penerbitnya.
Redbord mengatakan TRM Labs semakin mahir mengidentifikasi teknik penyamaran transaksi tersebut. Meski demikian, ia menekankan bahwa upaya pelacakan merupakan proses berkelanjutan karena pelaku terus mengubah cara mereka memindahkan dana.
Tantangan lain muncul ketika hacker menggunakan jaringan pencucian uang profesional untuk mengubah aset kripto menjadi uang tunai.
Menurut Levin dan Redbord, peretas semakin sering memanfaatkan organisasi pencucian uang asal Cina untuk mengonversi aset kripto menjadi mata uang fiat.
Levin menjelaskan bahwa organisasi tersebut dapat menawarkan pembelian aset kripto curian di pasar bebas dengan mengenakan biaya besar. Dana kemudian dicuci dan dikembalikan kepada peretas, berpotensi dalam bentuk stablecoin yang selanjutnya dapat ditukar menjadi mata uang fiat.
Pada tahap ini, peluang pemulihan aset menjadi semakin kecil karena dana telah berpindah melalui berbagai perantara dan jalur transaksi.
“Semakin jauh jaraknya, semakin sedikit peluang untuk melakukan penyitaan,” kata Levin.
Upaya Binance menutupi nilai aset yang dicuri menjadi langkah untuk melindungi pengguna dari dampak finansial langsung. Namun, proses ini berbeda dari upaya penegak hukum dan perusahaan intelijen blockchain untuk melacak serta mengambil kembali aset yang masih dikuasai peretas.
Binance masih melanjutkan investigasi atas serangan tersebut, sementara rencana pembukaan kembali penarikan dana tetap bergantung pada pemeriksaan keamanan dan konfirmasi akhir.
