Strategi Bukalapak Bertahan saat Banyak Startup Warung Tutup dan PHK

Lenny Septiani
8 Juni 2023, 09:49
Bukalapak, e-commerce, umkm, warung
Bukalapak
Ilustrasi. Bukalapak sebagai e-commerce menyasar UMKM atau warung membagikan strateginya untuk bertahan.

Perusahaan rintisan atau startup di bidang warung digital yang sempat digandrungi para investor, termasuk Jeff Bezzos kini meredup. Banyak di antaranya yang merugi hingga menutup operasional. Bukalapak sebagai e-commerce menyasar UMKM atau warung membagikan strateginya untuk bertahan.

AVP of Media and Communications Bukalapak Fairuza Ahmad Iqbal mengatakan, perusahaan kini fokus untuk terus tumbuh berkelanjutan. “Prioritas kami adalah memberikan layanan terbaik bagi para pelanggan dan mitra kami, baik dari sisi produk maupun infrastruktur,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Rabu (7/6).

Ia menjelaskan, perusahaan membantu para pemilik warung memperluas variasi produk dan layanan yang dijual, baik fisik maupun virtual melalui beragam fitur di aplikasi mitra Bukalapak. Dengan demikian, para pelaku bisnis tradisional ini dapat mentransformasi bisnisnya menjadi bisnis modern. 

Iqbal menyatakan bahwa para pemilik warung yang menggunakan aplikasi mitra Bukalapak bahkan tercatat dapat meningkatkan pendapatan mereka hingga 3x lipat.  “Jika para Mitra kami bertumbuh, kami secara perusahaan juga ikut bertumbuh,” kata dia.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa seluruh inisiatif atau langkah yang akan diambil kedepannya, perusahaan akan selalu mempertimbangkan aspek-aspek tersebut.

Perusahaan patungan GoTo Gojek Tokopedia dan Unilever, GoToko menutup layanan sejak bulan lalu (15/5). Berdasarkan tangkapan layar atau screenshot pengguna di Facebook, terdapat notifikasi bahwa GoToko berhenti beroperasi per 15 Mei. 

“Sebuah kebanggaan bagi kami telah menjadi sahabat terbaik warung saat ini,” kata GoToko dalam pengumuman tersebut, (15/5). “Dengan berat hati kami informasikan bahwa GoToko akan berhenti beroperasi per 15 Mei.”

Katadata.co.id mengonfirmasi hal tersebut kepada GoTo Gojek Tokopedia dan Unilever terkait alasan penutupan. Namun, belum ada tanggapan. 

Nasib tak jauh berbeda juga dialami oleh layanan startup yang turut dimiliki Jeff Bezos. Perusahaan milik Jeff Bezos menyuntik modal dua startup warung digital yakni Ula dan Lummo pada akhir 2021 dan awal 2022. Lummo kini dikabarkan menutup aplikasi Bukukas, sedangkan Ula disebut-sebut mencatatkan kerugian.

Berdasarkan laporan keuangan yang diajukan oleh perusahaan induk yang terdaftar di Singapura kepada Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA), kerugian startup Ula melonjak 4,3 kali lipat secara tahunan atau year on year (yoy) pada 2021. 

“Perusahaan membukukan rugi bersih $ 1,943 miliar tahun ini,” menurut laporan keuangan dikutip dari DealStreetAsia, Senin (15/5). Utamanya disebabkan oleh kenaikan beban pokok penjualan dan beban yang lebih tinggi sepanjang tahun.

Katadata.co.id mengonfirmasi hal itu kepada Ula melalui email. Namun belum ada tanggapan. Startup Ula melakukan PHK terhadap 134 orang atau 23% dari total pegawai pada akhir tahun lalu. 

Ula menyampaikan bahwa saat peluncuran pada Januari 2020, pertumbuhan bisnis pesat dan kebanjiran minat para investor sepanjang 2020 dan 2021. Namun situasi mulai menantang tahun lalu. 

“Kami telah berusaha melakukan berbagai inisiatif untuk menghadapi tantangan ini dengan mengurangi biaya operasi, meningkatkan efektivitas penjualan, mengubah kebijakan perjalanan, dan menghemat biaya penggunaan server,” demikian dikutip dari siaran pers Ula.

Sementara itu, startup Lummo dikabarkan tutup aplikasi Bukukas pada akhir bulan lalu (26/5). Perusahaan rintisan ini juga disebut-sebut sedang mengkaji merger dengan Mobile Premier League atau MPL.

Startup Lummo sebelumnya bernama Bukukas. Perusahaan rintisan ini berubah nama pada Januari 2022. 

Beredar kabar di media sosial bahwa startup Lummo mengirimkan pesan kepada pengguna bahwa layanan Bukukas akan ditutup. 

“Aplikasi Bukukas tidak lagi dapat digunakan setelah 26 Mei,” demikian dikutip dari tangkapan layar (screenshot) yang beredar di Twitter. 

Berdasarkan pantauan Katadata.co.id, aplikasi Bukukas pun sudah tidak tersedia di Google Play Store. Katadata.co.id mengonfirmasi hal itu dan kabar mengkaji merger dengan MPL kepada Lummo. Namun belum ada tanggapan.

Investor ungkap alasan jatuhnya bisnis warung

Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro mengatakan sektor ini masih menantang.

Dia memaparkan terdapat beberapa alasan startup warung digital mengalami kerugian, di antaranya:

  • Product market fit atau kesesuaian produk dengan pasar yang belum ditemukan
  • Biaya untuk akuisisi konsumen yang tinggi dan rendahnya minat konsumen untuk membayar layanan sejenis
  • Margin tipis dan perlu volume besar
  • Ada startup yang fokus cross selling terutama lending, sedangkan belum tentu itu yang dibutuhkan

Eddi menjelaskan naiknya biaya modal dan inflasi menyebabkan biaya modal meningkat drastis dan menyebabkan startup sektor ini kesulitan mendapatkan modal tambahan. “Karena model bisnis yg masih belum memberikan kinerja positif,” katanya kepada Katadata.co.id, bulan lalu (17/5).

Ia mengatakan ada beberapa startup sudah melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK dan pemotongan biaya. Hal tersebut dilakukan dengan harapan menjadi lebih atraktif di mata investor.

“Namun ternyata modal dari investor justru lari ke perusahaan yang lebih kuat fundamental finansialnya,” ujarnya.

Reporter: Lenny Septiani
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...