Investasi ke Startup Indonesia Hanya Rp 1,7 Triliun karena Investor Incar AI

Kamila Meilina
13 November 2025, 16:22
Investasi ke startup, investasi ke startup ai
Katadata
Diskusi KatadataForum dengan tema "Transformasi Indonesia Menuju Raksasa Ekonomi Digital" di Jakarta, pada 2018
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Investasi ke startup Indonesia hanya US$ 100 juta atau Rp 1,7 triliun (kurs Rp 16.733 per US$) selama Januari – Juni. Sebagai perbandingan, Singapura mencapai US$ 2,1 miliar berkat perusahaan berbasis AI.

Sebanyak 57% di antaranya masuk ke sektor baru, di luar e-commerce, fintech, transportasi digital dan pesan-antar makanan, online travel agent alias OTA, media online maupun jasa keuangan, menurut laporan Google, Temasek, dan Bain & Company bertajuk eConomy SEA 2025.

Selain itu, hanya 50% investor yang memperkirakan pendanaan swasta akan meningkat selama 2025 – 2029. Persentasenya di bawah Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Rinciannya sebagai berikut:

  • Singapura: 100%
  • Vietnam: 79%
  • Malaysia: 64%
  • Indonesia: 50%
  • Filipina: 43%

Hanya 50% investor di Indonesia yang memproyeksikan investasi ke startup meningkat pada 2025 – 2029. Namun Google, Temasek, dan Bain & Company tidak memerinci alasannya.

“Pertama, fokus investor jauh lebih besar untuk startup AI, baik sebagai fitur maupun produk inti,” kata Senior Partner Bain & Company Aadarsh Baijal dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (13/11).

Hal itu terjadi secara global. “Ekspektasi para investor, mereka kemungkinan besar akan menemukan startup seperti itu yang berbasis di Singapura, mengingat rekam jejak dan cara negara ini membangun ekosistem,” Aadarsh menambahkan.

Indonesia Bersaing Dengan Vietnam untuk Merebut Investor dari Singapura

Menurut Aadarsh, perkembangan startup AI di Indonesia justru lebih menarik, karena perkembangan pasar dan pertumbuhan inovasinya.

“Seiring dengan matangnya pasar dan bertambahnya pendanaan ke startup AI, fokus investor akan mulai berpindah dari Singapura ke pasar besar seperti Indonesia, yang membutuhkan penyesuaian produk dan strategi sesuai kondisi lokal,” kata dia.

Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa negara dengan ekosistem pendukung, seperti banyak tidaknya pengembang perangkat lunak alias developer software, penyedia layanan, dan komunitas teknologi aktif, akan lebih menarik investor yang mengincar startup AI.

“Saat ini, semua negara di kawasan sedang berlomba membangun ekosistem AI. Jika Vietnam lebih cepat berkembang karena punya banyak talenta teknik, maka sebagian investasi akan mengalir ke sana.

Data lima tahun terakhir menunjukkan fluktuasi yang tajam dalam pendanaan startup di kawasan Asia Tenggara:

  • 2020: US$ 12 miliar (1.853 kesepakatan)
  • 2021: US$ 27 miliar (2.697 kesepakatan)
  • 2022: US$ 22 miliar (2.080 kesepakatan)
  • 2023: US$ 8 miliar (883 kesepakatan)
  • Semester 1 2024: US$ 3 Miliar (305 kesepakatan) 
  • Semester 2 2024: US$ 5 Miliar (270 kesepakatan) 
  • Semester 1 2025: US$ 3 miliar (191 kesepakatan)

Laporan mencatat bahwa sebagian besar investasi kini berfokus pada pendanaan tahap akhir, sementara dana untuk startup tahap awal turun dari sekitar 30% menjadi 20% dalam setahun terakhir. Akibatnya, nilai setiap transaksi meningkat, tetapi jumlah kesepakatan turun sekitar 25%.

Sektor startup yang dibidik oleh investor di antaranya:

  • Software & Services: 79% (persentase investor Asia Tenggara yang berminat)
  • AI & Deep Tech: 71%
  • Healthtech/Medtech: 50%
  • Sustainability Tech: 50%
  • Fintech: 36%
  • Consumer Products: 36%

Sektor kecerdasan buatan alias AI menjadi salah satu incaran utama investor dalam mengalirkan pendanaan ke startup di kawasan Asia Tenggara. Dalam 12 bulan terakhir, tercatat lebih dari US$ 2,3 miliar telah diinvestasikan pada startup terkait AI di Asia Tenggara.

Startup berbasis AI kini menyerap lebih dari 30% total nilai pendanaan swasta di regional, naik dari 30% pada paruh kedua 2024 menjadi 32% pada paruh pertama 2025. 

Sebagian besar dana ini masih mengalir ke perusahaan yang menggunakan AI sebagai fitur tambahan (AI as a feature), seperti untuk meningkatkan efisiensi layanan utama, sementara porsi untuk startup yang menjadikan AI sebagai produk inti (AI as a core product) masih lebih kecil.

Asia Tenggara kini menampung lebih dari 680 startup AI aktif yang berdiri sejak 2020 dengan rincian sebagai berikut:

  • Singapura menjadi pusat utama dengan lebih dari 495 perusahaan, 
  • Malaysia 60
  • Indonesia 45
  • Vietnam 40
  • Thailand 20
  • Filipina 10

Meski investasi AI di kawasan ini baru mewakili sekitar 2% dari total global, proporsinya sudah sebanding dengan kontribusi Asia Tenggara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia yang mencapai 4%. 

Investor memperkirakan pendanaan untuk startup berbasis AI akan terus meningkat. Saat ini, sekitar 50% investor sudah menempatkan sebagian besar investasi pada startup yang menjadikan AI sebagai produk utama. Angkanya diperkirakan naik menjadi 71% dalam setahun.

Selain itu, semua investor diprediksi akan berinvestasi pada startup yang memanfaatkan AI sebagai fitur pendukung.

Investasi ke Startup AI Indonesia

Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat investasi ke startup berbasis AI di Indonesia mencapai US$ 91 juta selama Juli 2024 – Juni 2025. Porsinya baru 4% dari total investasi ke perusahaan rintisan AI di Asia Tenggara.

Meski begitu, pertumbuhan pendapatan aplikasinya 127% secara tahunan alias year on year (yoy) selama Juli 2024 – Juni 2025.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...