Investasi Startup Baru 40% dari Target 2026 Sebesar Rp1 Triliun
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan investasi startup di Indonesia bisa menembus hingga Rp 1 triliun hingga akhir 2026. Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, mengatakan saat ini target yang sudah dicapai baru sekitar Rp 400 miliar.
“Kami targetnya mungkin bisa dapat lagi sekitar investasi Rp 600-an lah, kami berharapnya akhir tahun ini bisa close investasi di startup itu mencapai 1 triliun kurang lebih,” kata Edwin ketika ditemui sela-sela Bali Tech Week 2026 di Sanur, Bali, Rabu (21/10).
Komdigi saat ini tengah menggelar Bali Tech Week 2026 pada 19–23 Oktober untuk menarik investasi dan memperkuat ekosistem teknologi nasional. Edwin berharap rangkaian acara tersebut dapat menarik tambahan investasi startup sekitar Rp 600 miliar hingga Rp 700 miliar.
Adapun pendanaan startup Indonesia baru mencapai US$ 392 juta atau Rp 7,02 triliun hingga 5 Oktober 2026. Realisasi ini melampaui total pendanaan sepanjang tahun lalu yang mencapai US$ 358 juta atau sekitar Rp 6,41 triliun, berdasarkan data yang disampaikan pemerintah.
Namun, angka tersebut masih menunjukkan tantangan dalam mengembangkan ekosistem startup nasional agar lebih kompetitif dalam menarik modal. Berdasarkan laporan Southeast Asia Startup Funding Report Full Year 2025 dari DealStreetAsia, pendanaan startup Indonesia sepanjang 2025 tercatat US$ 340 juta atau Rp 5,72 triliun.
Nilai tersebut setara dengan 6,3% dari total pendanaan startup Asia Tenggara. Sementara itu, Singapura mencatat pendanaan US$ 4,2 miliar atau sekitar Rp 70,74 triliun sepanjang 2025, setara dengan 78,1% dari total investasi startup di kawasan tersebut. Kesenjangan juga terlihat dari pembentukan perusahaan rintisan berstatus unicorn, yakni startup dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar.
Mengutip laporan yang sama, Indonesia belum melahirkan unicorn baru sejak 2024, sementara sejumlah startup di negara lain, terutama Singapura, berhasil mencapai status tersebut.
Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan teknologi dunia. Namun, besarnya pasar belum sepenuhnya diikuti investasi dan pengembangan industri teknologi nasional.
Menurut Meutya, pertumbuhan ekonomi digital ke depan akan dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI), infrastruktur digital, kualitas data, ekosistem inovasi, dan strategi kemitraan.
Mengutip laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar US$ 99 miliar pada 2025. Angka itu tumbuh 14% secara tahunan atau year on year (yoy).
“Pemerintah tidak dapat membangun ekosistem digital tunggal. Oleh karena itu, Bali Tech Week 2026 menjadi wujud kerja bersama pemerintah, industri, investor, inovator, dan komunitas untuk memperkuat daya saing ekonomi digital Indonesia,” kata Meutya dalam keterangan resmi, Rabu (14/10).
