Alibaba hingga Tencent Dibayangi Gelombang PHK Dampak Lockdown di Cina

Fahmi Ahmad Burhan
23 Mei 2022, 10:05
alibaba, tencent, lockdown, cina
ANTARA FOTO/REUTERS/Aly Song
Logo Alibaba Group terlihat di kantor pusat perusahaan tersebut di Hangzhou, provinsi Zhejiang, China, Senin (18/11/2019).

Pemerintah Cina telah menerapkan penguncian atau lockdown kembali karena meningkatnya penularan virus corona. Ini berdampak pada perusahaan teknologi besar seperti Alibaba dan Tencent yang berada dalam bayang-bayang pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Pengurangan staf sedang terjadi di berbagai departemen di Tencent dan Alibaba," kata sumber yang mengerti masalah tersebut dikutip dari South China Morning Post, Minggu (22/5).

Advertisement

 Tencent akan memberhentikan sekitar 100 tenaga kerja. Mereka juga menyatakan bahwa banyak departemen di perusahaan yang mulai memangkas jumlah pegawai. Skala PHK ini bervariasi dari satu tim ke tim lainnya bergantung pada profitabilitas dan sifat masing-masing unit bisnis.

Lini bisnis Tencent dengan kerugian besar, seperti komputasi awan (cloud) dan video gim telah mengalami setidaknya dua putaran PHK sejak April. "Kadang-kadang, seluruh tim yang terdiri dari lebih dari 20 karyawan diberhentikan," kata sumber tersebut.

Tencent tidak memberikan tanggapan. Namun, pendiri dan CEO Tencent Pony Ma Huateng sempat mengatakan bahwa perusahaan akan menyesuaikan bisnis non-inti tertentu setelah mengumumkan laporan pendapatan yang buruk awal tahun ini.

Presiden Tencent Martin Lau Chi-ping juga mengatakan pada Maret bahwa perusahaan akan mengontrol jumlah karyawan. Akan tetapi, jumlah total staf masih akan lebih tinggi pada akhir tahun ini dibandingkan dengan 2021.

Begitu juga dengan Alibaba yang dikabarkan memangkas pekerjaan di sejumlah posisi. Alih-alih mengurangi staf dalam satu kali latihan, perusahaan melepaskan karyawan melalui beberapa putaran PHK. 

Upaya PHK akan memengaruhi unit bisnis Alibaba, termasuk DingTalk, Alibaba Cloud, Taobao dan Taobao Deals. Namun, Alibaba tidak menanggapi lantaran perusahaan teknologi Cina memang biasanya enggan untuk secara resmi mengakui adanya pemutusan.

Halaman:
Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement