Malaysia Gaet Arm Holdings dan Siapkan Rp 4 T untuk Bangun Industri Cip Sendiri
Pemerintah Malaysia akan menggelontorkan US$ 250 juta atau Rp 4,08 triliun (kurs Rp 16.336 per US$) dalam tahap awal pembangunan industri cip sendiri bagi perusahaan lokal. Negara ini menggandeng perusahaan semikonduktor Arm Holdings.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan pemerintah telah menandatangani kesepakatan dengan Arm Holdings untuk memperoleh rencana desain cip bagi produsen lokal dalam 10 tahun ke depan.
Langkah itu bertujuan memungkinkan Malaysia merancang, memproduksi, menguji, dan merakit cip AI guna bersaing di pasar global.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Arm akan mendirikan kantor Asia Tenggara pertama di Kuala Lumpur. Kantor ini akan berfungsi sebagai pusat ekspansi ke pasar lain di kawasan, termasuk Australia dan Selandia Baru.
CEO Arm Rene Haas menyampaikan Malaysia memiliki pengalaman panjang dalam industri semikonduktor, terutama di bidang pengemasan, perakitan, dan manufaktur canggih.
Menteri Ekonomi Malaysia Rafizi Ramli menyatakan pemerintah akan membayar Arm untuk hak kekayaan intelektual, termasuk tujuh cetak biru desain cip kelas atas.
Kesepakatan itu juga mencakup program pelatihan bagi 10 ribu engineer di Malaysia guna mempercepat pengembangan industri cip domestik.
Negara tetangga Indonesia itu menargetkan pembentukan 10 perusahaan cip lokal dalam beberapa tahun mendatang, masing-masing dengan pendapatan tahunan antara US$ 1,5 hingga US$ 2 miliar.
Pemerintah juga akan membangun rantai pasokan lengkap yang mendukung industri maju seperti server data AI, kendaraan otonom, Internet of Things alias IoT, dan robotika.
“Kami akan memprioritaskan pemain lokal sebagai pilihan utama dalam setiap bagian dari rantai pasokan,” ujar Rafizi, dikutip dari Reuters, Rabu (5/2).
Untuk memastikan keberhasilan produksi, Pemerintah Malaysia dan Arm akan menetapkan kriteria seleksi bagi perusahaan lokal yang berpotensi dalam industri ini.
Investasi besar dari berbagai raksasa teknologi global semakin memperkuat posisi Malaysia dalam industri digital. Sejak 2023, perusahaan seperti Microsoft, Nvidia, Google, dan ByteDance telah mengumumkan investasi miliaran dolar di Malaysia, terutama dalam layanan cloud dan pusat data untuk memenuhi permintaan AI yang terus meningkat.
Sebagai bagian dari inisiatif jangka panjang, pada April lalu, Malaysia mengumumkan rencana pembangunan taman desain sirkuit terpadu terbesar di Asia Tenggara. Pemerintah akan menawarkan insentif seperti keringanan pajak, subsidi, dan pembebasan biaya visa untuk menarik perusahaan teknologi global.
Anwar juga menegaskan bahwa taman tersebut akan bekerja sama dengan perusahaan kelas dunia, termasuk Arm, guna mempercepat pengembangan industri cip dalam negeri.
