Bos TikTok Investasi Rp 32 Triliun untuk Keamanan Platform

Kamila Meilina
31 Juli 2025, 17:27
TikTok
Unsplash
TikTok
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

TikTok mengalokasikan lebih dari US$ 2 miliar atau setara Rp 32 triliun (kurs Rp16.468 per US$) per tahun untuk mendukung upaya trust and safety atau kepercayaan dan keamanan pengguna di platformnya.

Head of Operations TikTok, Adam Presser, menyatakan perlindungan pengguna merupakan salah satu prioritas strategis utama perusahaan.

"Ini adalah salah satu prioritas paling signifikan bagi kami sebagai perusahaan. Komitmen ini tercermin dari perhatian, alokasi sumber daya, dan investasi yang kami tanamkan, bahkan menjadi bagian dari pembahasan dalam rapat manajemen setiap hari," ujar Presser dalam peluncuran global bertajuk Discover and Learn - Trust and Safety at TikTok, secara daring, Rabu (30/7).

Presser menegaskan semua upaya keamanan TikTok berakar pada community guidelines atau pedoman komunitas yang telah dirancang untuk melindungi pengguna dari konten yang berbahaya atau menyesatkan.

Segala bentuk pelanggaran terhadap pedoman tersebut, termasuk konten yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) yang bersifat menyesatkan atau tidak diberi label, akan dikenakan tindakan penegakan, mulai dari penghapusan hingga pembatasan distribusi konten.

TikTok juga menerapkan kebijakan yang mewajibkan kreator untuk secara aktif memberi label pada konten buatan AI. Jika tidak dilabeli, konten tersebut akan dikenakan sanksi sesuai kebijakan yang berlaku.

Perusahaan menyatakan perlindungan terhadap penyalahgunaan AI merupakan bagian integral dari strategi keamanan digital mereka.

Salah satu inovasi yang ditekankan TikTok adalah adopsi teknologi standar C2PA (Coalition for Content Provenance and Authenticity), yang menjadikan TikTok sebagai platform video pertama yang mengimplementasikannya.

Melalui C2PA, konten yang diciptakan di platform lain dengan AI, dan diunggah ke TikTok, akan otomatis diberi label sebagai buatan AI, selama platform asal konten tersebut juga mendukung standar C2PA. Langkah ini memungkinkan transparansi lebih tinggi atas asal-usul dan keaslian konten digital yang beredar.

Presser juga menyampaikan bahwa TikTok terus mengembangkan sistem pendeteksian proaktif terhadap penipuan dan hoaks digital. Deteksi tersebut dilakukan melalui gabungan kecanggihan teknologi dan penilaian manusia.

Perusahaan mengandalkan input dari tim lokal untuk memahami risiko-risiko spesifik di setiap negara, serta bekerja sama dengan pakar eksternal dan penyedia intelijen pihak ketiga untuk mengantisipasi potensi ancaman yang muncul secara dini.

"Kami sangat serius menangani tantangan seputar konten buatan AI dan misinformasi berbahaya. Mulai dari kebijakan yang ketat, penerapan teknologi deteksi canggih, hingga kerja sama lintas industri, semua kami tempuh untuk memastikan TikTok menjadi platform yang aman," kata Presser.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...