Pendanaan Startup Asia Tenggara Anjlok Terendah Selama Enam Tahun Terakhir

Kamila Meilina
12 September 2025, 16:15
Startup
Berbagai Sumber
Startup
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pendanaan untuk startup di Asia Tenggara jatuh ke level terendah dalam enam tahun terakhir pada paruh pertama 2025. Meski sempat ada perbaikan di kuartal II, tren jangka panjang masih menunjukkan pelemahan tajam sejak puncaknya pada 2021.

Laporan DealStreetAsia DATA VANTAGE: Southeast Asia Startup Funding Report H1 2025 mencatat hanya 229 kesepakatan ekuitas dengan total pendanaan US$ 1,85 miliar  atau Rp 30,3 triliun (kurs Rp16.395 per US$) sepanjang semester pertama 2025. 

Angka ini jauh merosot dibandingkan H2 atau paruh kedua 2021, ketika pendanaan menembus US$ 13,84 miliar atau Rp 226,8 triliun dari 529 transaksi, titik tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Setelah mencapai puncak pada 2021, pendanaan terus merosot akibat tekanan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, serta meningkatnya tuntutan tata kelola perusahaan. Volume transaksi yang semula ratusan, kini turun lebih dari separuh.

Meski tren keseluruhan lesu, ada sedikit stabilisasi pada kuartal II 2025. Nilai pendanaan tercatat naik menjadi US$ 1,28 miliar atau Rp 20,9 triliun, lebih dari dua kali lipat kuartal sebelumnya yang sebesar US$ 570 juta. 

Kenaikan ini tercatat bukan karena jumlah transaksi bertambah, melainkan karena investor mengucurkan dana lebih besar ke startup dengan prospek jelas menuju profitabilitas.

“Pasar sedang melakukan recalibrating, bukan runtuh,” tulis laporan tersebut, dikutip dari Deal Street Asia, Kamis (11/9). Investor kini lebih berhati-hati, menempatkan modal hanya pada perusahaan dengan fundamental kuat dan jalur monetisasi yang nyata.

Berdasarkan data, kemunduran paling jelas tercatat pada pendanaan tahap awal, di mana investor menunjukkan toleransi risiko tertinggi. Menurut laporan, kesepakatan hingga Seri B turun menjadi hanya 219 kesepakatan di paruh pertama tahun 2025 atau turun 15,4% dari enam bulan sebelumnya dan 38% dari tahun ke tahun. 

Hasil pendanaan tahap awal hanya berjumlah US$ 1,1 miliar atau Rp 18 triliun, tercatat 30% lebih rendah dari tahun sebelumnya atau hanya seperempat dari pencapaian pada masa puncak pendanaan di paruh pertama tahun 2022. 

Pendanaan tahap akhir atau late stage deal menunjukkan tren bertahan lebih baik. Kesepakatan Seri C sempat merosot tajam hingga 9 transaksi di H2 2024, namun sedikit naik menjadi 10 transaksi di H1 2025.

Modal yang dikumpulkan dari putaran pendanaan tahap akhir naik 69,7% menjadi US$ 756 juta atau Rp 12,3 triliun. 

Unicorn Baru Tetap Bermunculan

Meski pendanaan startup melambat, beberapa kesepakatan besar tetap terjadi. Ashita Group dari Malaysia mendapat US$ 155 juta dan resmi menyandang status unicorn menjelang ekspansi dan rencana IPO. 

Di Singapura, Thunes meraih US$ 150 juta dengan valuasi US$ 1,42 miliar atau Rp 23,2 triliun. Selain itu, Sygnum, bank aset digital yang berbasis di Singapura dan Swiss, memperoleh US$ 58 juta atau Rp 950 miliar pada Januari 2025.

Secara keseluruhan, laporan tersebut mencatat 58 perusahaan di Asia Tenggara kini sudah menembus valuasi di atas US$ 1 miliar.




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...