ChatGPT Teken Kontrak Rp 4.914 T, Bos Oracle Sempat Jadi Orang Terkaya Dunia
Induk ChatGPT yakni OpenAI meneken kontrak US$ 300 miliar atau Rp 4.914 triliun (kurs Rp 16.358 per US$) dengan Oracle untuk menggunakan layanan komputasi awan alias cloud. Bos Oracle, Larry Ellison sempat menjadi orang terkaya kedua di dunia mengalahkan Elon Musk.
Kesepakatan untuk lima tahun itu menjadi salah satu kontrak cloud terbesar sepanjang sejarah, sehingga mendorong harga saham Oracle 36% pekan ini. Kenaikan harga saham ini merupakan yang terbesar sejak perusahaan hadir pada 1992.
Kekayaan Larry Ellison juga sempat melonjak menjadi US$ 393 miliar pada Rabu (10/9) pagi, melampaui kekayaan Elon Musk US$ 385 miliar, menurut Indeks Miliarder Bloomberg. Hal ini terjadi setelah harga saham Oracle meroket 40%, berkat optimisme investor terhadap bisnis infrastruktur cloud dan kerja sama perusahaan terkait AI.
Melansir CNBC News Sabtu (13/9) waktu setempat, euforia ini cepat mereda karena saham Oracle terkoreksi lebih dari 10% dalam dua hari perdagangan berikutnya. Kekayaan Larry Ellison pun US$ 349 miliar di bawah Elon Musk US$ 419 miliar, menurut Indeks Miliarder Bloomberg pada Senin (15/9).
Dalam laporan keuangan kuartalan, Oracle mengungkapkan telah menandatangani empat kontrak multibillion dollar dengan tiga pelanggan besar, salah satunya pembuat ChatGPT, OpenAI.
Dikutip dari Wall Street Journal, kontrak itu membuat ‘performance obligations’ Oracle, yakni pendapatan yang sudah terikat kontrak namun belum terealisasi, melonjak hingga 359% menjadi US$ 455 miliar.
Analis D.A. Davidson, Gil Luria mengingatkan tingginya ketergantungan Oracle pada satu klien dapat menjadi risiko besar jika lebih dari 90% backlog berasal dari OpenAI.
Kesepakatan dengan Oracle bukan satu-satunya investasi jumbo OpenAI. Perusahaan yang kini bernilai US$ 500 miliar itu juga tercatat sudah menjalin kerja sama cloud dengan CoreWeave dan Google.
Selain itu, OpenAI berkomitmen menanam US$ 19 miliar dalam proyek Stargate, sebuah inisiatif infrastruktur AI di AS yang digagas bersama Oracle, SoftBank, dan didukung pemerintahan Donald Trump.
Menurut laporan, OpenAI memang masih membakar banyak uang, namun pertumbuhan pendapatan perusahaan berjalan cepat. Setelah mencapai US$ 10 miliar annual recurring revenue (ARR) pada Juni, angka ini diproyeksikan melesat menjadi US$ 125 miliar pada 2029.
Di sisi lain, OpenAI bersiap bertransformasi menjadi perusahaan public benefit corporation (PBC). Struktur baru ini diperlukan agar perusahaan dapat mengamankan pendanaan US$ 40 miliar dari SoftBank. Nantinya, entitas nonprofit induk OpenAI tetap memegang kendali dengan ekuitas lebih dari US$ 100 miliar.
