Amazon Dikabarkan Akan Gantikan 600.000 Pekerja dengan Robot
Amazon dikabarkan menyiapkan strategi untuk tidak merekrut 160 ribu lebih pekerja, yang sebenarnya dibutuhkan, pada 2027. Raksasa e-commerce Amerika Serikat ini berencana menggunakan robot untuk menutup kebutuhan tenaga kerja itu.
Hal itu diketahui dari dokumen strategi internal yang dilihat oleh The New York Times. Dari berkas ini diketahui bahwa Amazon menghemat sekitar 30 sen untuk setiap barang yang dipilih, dikemas, dan diantar Amazon kepada pelanggan, jika mengganti pekerja manusia dengan robot.
Para eksekutif menyampaikan kepada dewan direksi Amazon tahun lalu, bahwa mereka berharap otomatisasi robotik akan memungkinkan perusahaan untuk terus menghindari penambahan tenaga kerja di AS dalam beberapa tahun mendatang, meskipun mereka berharap dapat menjual produk dua kali lipat pada tahun 2033.
"Hal ini berarti lebih dari 600.000 orang tidak perlu direkrut oleh Amazon," demikian dikutip dari The New York Times, Selasa (21/10).
Selama dua dekade terakhir, perusahaan terbesar kedua di Amerika Serikat itu mempekerjakan ratusan ribu pekerja gudang hingga membangun tim pengemudi kontrak. Tenaga kerja Amazon di AS meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak 2018 menjadi hampir 1,2 juta .
Kini, para eksekutif Amazon yakin perusahaan itu berada di titik awal perubahan besar berikutnya di tempat kerja, yakni mengganti lebih dari setengah juta pekerjaan dengan robot.
Di fasilitas yang dirancang untuk pengiriman super cepat, Amazon berupaya menciptakan gudang yang hanya mempekerjakan sedikit manusia. Dan dokumen menunjukkan bahwa tim robotika Amazon memiliki tujuan akhir untuk mengotomatiskan 75% operasional.
Dari dokumen itu diketahui bahwa Amazon mempertimbangkan untuk menghindari penggunaan istilah seperti 'otomatisasi' dan 'AI' saat membahas robotika. Sebagai gantinya menggunakan istilah seperti 'teknologi canggih' atau mengganti kata 'robot' dengan 'cobot' yang menyiratkan kolaborasi dengan manusia.
Namun, Amazon menyatakan dalam pernyataan bahwa dokumen yang dilihat oleh The New York Times tidak lengkap dan tak mencerminkan strategi perekrutan perusahaan secara keseluruhan.
Juru bicara Amazon Kelly Nantel mengatakan dokumen itu mencerminkan sudut pandang salah satu kelompok di dalam perusahaan. Ia mengatakan perusahaan berencana mempekerjakan 250 ribu orang untuk musim liburan mendatang, meskipun perusahaan menolak untuk mengatakan berapa banyak dari posisi itu yang akan bersifat permanen.
Amazon juga mengatakan bahwa perusahaan tidak memaksa para eksekutif untuk menghindari istilah-istilah tertentu, dan keterlibatan masyarakat tidak terkait dengan otomatisasi.
Jika isi dokumen itu dijalankan, maka rencana Amazon dapat berdampak besar pada pekerjaan kerah biru di seluruh Amerika Serikat dan menjadi model bagi perusahaan lain seperti Walmart dan UPS.
Perusahaan e-commerce itu telah mentransformasi tenaga kerja AS dengan menciptakan lonjakan permintaan untuk pekerjaan di bidang pergudangan dan pengiriman. Namun kini, seiring dengan semakin terbukanya otomatisasi, peran-peran itu dapat menjadi lebih teknis, bergaji lebih tinggi, dan lebih langka.
"Tidak ada yang punya insentif sebesar Amazon untuk menemukan cara mengotomatiskan," kata seorang profesor di Massachusetts Institute of Technology Daron Acemoglu, yang mempelajari otomatisasi dan memenangkan Hadiah Nobel dalam ilmu ekonomi tahun lalu.
"Begitu mereka menemukan cara untuk melakukannya secara menguntungkan, hal itu akan menular ke orang lain juga," Daron Acemoglu menambahkan. "Jika rencana ini berhasil, salah satu perusahaan terbesar di Amerika Serikat akan menjadi penghancur lapangan kerja, bukan pencipta lapangan kerja."
The New York Times meninjau dokumen internal Amazon dari tahun lalu. Dokumen-dokumen itu mencakup makalah kerja yang menunjukkan bagaimana berbagai bagian perusahaan menavigasi upaya otomatisasinya yang ambisius, serta rencana formal untuk departemen yang beranggotakan lebih dari 3.000 karyawan korporat dan teknik yang sebagian besar mengembangkan operasi robotik dan otomatisasi perusahaan.
Udit Madan, yang memimpin operasi Amazon di seluruh dunia, mengatakan dalam wawancara bahwa perusahaan tersebut memiliki sejarah panjang dalam menggunakan penghematan dari otomatisasi untuk menciptakan lapangan kerja baru, seperti dorongan baru-baru ini untuk membuka lebih banyak depot pengiriman di daerah perdesaan.
“Bahwa Anda memiliki efisiensi di satu bagian bisnis tidak mencerminkan keseluruhan dampak yang mungkin ditimbulkannya, baik di komunitas tertentu maupun di negara secara keseluruhan," kata dia.
