Komdigi Catat Tantangan Startup RI, dari Pendanaan Seret hingga Minim Inovasi
Kementerian Komunikasi dan Digital alias Komdigi mencatat perkembangan startup di Indonesia selama lima tahun terakhir masih menghadapi beragam tantangan, mulai dari kendala modal hingga rendahnya tingkat inovasi.
Hal ini tertuang dalam dokumen Rencana Strategi Komdigi 2025–2029. Startup digital memainkan peran penting dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi digital nasional. Melalui inovasi dan solusi berbasis teknologi, startup dinilai bisa mendorong transformasi di berbagai sektor, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan digital.
“Namun, di tengah potensi besar tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat bahwa ekosistem startup di Indonesia masih menghadapi beragam tantangan, mulai dari kendala modal hingga rendahnya tingkat inovasi,” demikian dikutip dari dokumen tersebut, Selasa (28/10).
Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi digital Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan pesat. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2023, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$82 miliar atau sekitar Rp1.283 triliun pada 2023, dan diproyeksikan akan terus meningkat hingga 2030.
“Meski demikian, sebagian besar aktivitas ekonomi digital masih dikuasai oleh pemain asing, sementara kontribusi pelaku lokal belum tumbuh signifikan,” demikian tertulis.
Atas hal ini, Komdigi mencatat sejumlah kendala perkembangan startup di Indonesia di antaranya:
Ekosistem Startup Nasional Belum Berkembang Optimal
Startup menjadi motor penggerak utama ekonomi digital dengan kontribusi sekitar 4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Secara global, Indonesia berada di peringkat ke-36 dari 119 negara dalam Global Startup Ecosystem Index 2024. Namun, perkembangan ekosistemnya dinilai masih belum merata dan belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Komdigi mencatat, tingkat kesuksesan startup Indonesia hanya berkisar 1–5%, dengan lebih dari 57% masih terpusat di kota-kota besar di Pulau Jawa, seperti Jabodetabek, Bandung, dan Malang.
Sebanyak 48,1% startup masih berskala mikro dengan keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM) terampil, serta minimnya koneksi ke inkubator atau industri pendukung.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa meski Indonesia memiliki jumlah startup yang terus bertambah, distribusi dan daya saingnya masih timpang, terutama antara wilayah perkotaan dan daerah di luar Jawa,” demikian dikutip.
Kesulitan Mengakses Pendanaan
Salah satu tantangan terbesar bagi para pelaku startup adalah sulitnya memperoleh akses pendanaan. Sebanyak 34,1% startup di Indonesia mengaku mengalami kendala dalam modal usaha.
Meskipun total investasi ke Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, jumlah pendanaan untuk startup justru menurun tajam. Pada 2022, nilai investasi ke sektor startup anjlok dari US$11,35 miliar menjadi US$3,69 miliar.
Penurunan ini dinilai dipengaruhi oleh kehati-hatian investor, yang menilai kualitas sebagian besar startup Indonesia masih belum memenuhi ekspektasi dan standar global.
“Komdigi menilai, potensi investasi melalui angel investor di Indonesia sebenarnya besar, namun belum dimanfaatkan dengan optimal,” demikian tertulis.
Minimnya kesadaran dan pendekatan (awareness and approach) terhadap calon investor membuat potensi ini disebut belum bisa mendorong pertumbuhan startup secara maksimal.
Inovasi Startup Dinilai Masih Rendah
Dalam catatan selama lima tahun ke belakang, Komdigi menilai sebagian besar startup di Indonesia dinilai belum mampu menghasilkan inovasi yang berdampak luas.
Hal ini sebab, sekitar 32,7% startup masih bergerak di sektor general atau bidang yang terlalu umum, sehingga dinilai sulit menciptakan keunggulan kompetitif.
Keterbatasan fasilitas riset dan pengembangan juga menjadi masalah. Indonesia hanya memiliki sekitar 166 creative hub dan 14 lembaga inkubator tersertifikasi dari total 389 inkubator yang ada, sebagian besar berpusat di Jakarta, Bandung, dan Bali. Kondisi ini mempersempit ruang inovasi, terutama bagi startup di luar Jawa.
Masalah lain adalah keterbatasan talenta digital. Sebanyak 90% perusahaan di Indonesia mengaku tenaga kerja digital belum mampu memenuhi kebutuhan industri, sementara 52% mengalami kesulitan menemukan pekerja dengan keterampilan yang sesuai.
Founder dan talenta teknis juga masih dinilai kurang memiliki mindset global serta lambat dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Komdigi menyiapkan strategi pembenahan melalui rencana pembangunan ekonomi digital lima tahun ke depan. Kebijakan ini bertujuan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8% pada 2045 dengan fokus pada penguatan industri digital, termasuk startup, gim, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi baru.
Dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029, Komdigi merumuskan langkah utama untuk memperkuat ekosistem startup nasional.
Pertama, penguatan ekosistem startup digital nasional melalui peningkatan keberlanjutan bisnis, pelatihan bagi para pendiri (founder), serta perluasan pengembangan startup di luar Pulau Jawa. Pemerintah juga akan memperkuat peran inkubator, komunitas startup, dan membuka akses pendanaan yang lebih merata di seluruh wilayah.
Kedua, optimalisasi inovasi dan pengembangan teknologi. Komdigi berencana memperluas jaringan innovation hub di berbagai daerah guna mempercepat pertumbuhan startup berbasis teknologi.
