CEO Zoho Ungkap Alasan Perusahaan Enggan Jadi Perusahaan Publik

Hari Widowati
22 Januari 2026, 08:08
Zoho, India, software
Dok. ManageEngine
Shailesh Kumar Davey, Co-founder dan CEO Zoho Corporation
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

CHENNAI. Raksasa teknologi asal India, Zoho Corporation, telah beroperasi selama 30 tahun. Namun, perusahaan tidak tertarik menjadi perusahaan publik atau menggaet investor untuk mengembangkan bisnisnya.

Zoho Corporation yang berbasis di India adalah perusahaan teknologi global swasta asal India yang dikenal karena rangkaian perangkat lunak bisnis berbasis cloud yang luas, mencakup CRM, email, keuangan, dan alat kolaborasi untuk lebih dari 100 juta pengguna.

Shailesh Kumar Davey, Co-founder dan CEO Zoho Corporation, mengatakan Zoho merupakan bootstrap company. Perusahaan menggunakan sebagian pendapatannya untuk diinvestasikan kembali dalam riset dan pengembangan produk.

“Banyak perusahaan mencari jalan pintas karena mereka dituntut oleh investor. Perusahaan privat (swasta) lebih bebas,” ujar Shailesh dalam ManageEngine Media Day 2026, di Chennai, India.

Ia mencontohkan beberapa pesaing Zoho yang mendapatkan pendanaan dari investor modal ventura (private equity). Setelah tiga tahun, investor private equity itu ingin keluar dengan mengambil keuntungan. Perusahaan yang menerima pendanaan pun harus mencari cara untuk memenuhi keinginan investor, salah satunya dengan menaikkan harga produk agar bisa mengantongi penerimaan yang lebih besar.

“Kami selalu menjadi perusahaan swasta yang didanai sendiri dengan menggunakan sumber daya yang kami miliki. Jadi, ini adalah prinsip yang tidak dapat ditawar,” kata Shailesh kepada Katadata.co.id, dalam sesi one on one interview, di Chennai.

Ia mengatakan prinsip ini terbukti telah membantu Zoho berkembang dalam 30 tahun terakhir, terutama bahkan selama masa-masa puncak dan penurunan (boom and bust) dalam siklus keuangan. 

“Kami percaya ada kebijaksanaan dalam apa yang telah kami lakukan, dan semoga hal itu akan membantu kami melewati beberapa periode sulit yang mungkin akan datang di masa depan,” ujarnya. 

Sejarah Zoho

Sejarah Zoho dimulai pada 1996 ketika Sridhar Vembu dan Tony Thomas mendirikan AdventNet Inc, perusahaan yang membuat peranti lunak pengelola jaringan bernama WebNMS, di New Jersey, Amerika Serikat. 

Perusahaan berganti nama menjadi Zoho Corporation pada 2009, sesuai dengan produknya yang dikenal luas waktu itu, yakni Zoho Office Suit. Saat ini, produk-produk Zoho telah dipasarkan di lebih dari 80 negara.

Pada tahun-tahun awal beroperasi, perusahaan menginvestasikan kembali 80% dari pendapatannya untuk riset dan pengembangan produk. Shailesh mengatakan, saat ini Zoho memiliki anggaran pemasaran 30% dari yang dialokasikan para pesaingnya. Namun, dana yang disisihkan untuk riset dan pengembangan produk dua kali lipat lebih besar daripada perusahaan-perusahaan pesaing yang rata-rata adalah perusahaan publik.

Zoho juga dikenal sebagai perusahaan yang mengusung slogan "Make in India". Perusahaan ini ingin menjadikan India sebagai pusat produksi peranti lunak (software) bagi dunia.

Investasi pada Sumber Daya Manusia dan Produk

Dalam pernyataan yang dimuat di situs perusahaan, Sridhar Vembu, Co-founder dan Chief Scientist Zoho Corporation, mengatakan mantra atau moto yang selalu diusungnya adalah Zoho selalu berinvestasi pada sumber daya manusia dan produk. Itu sebabnya sebagian besar investasi perusahaan dialokasikan untuk riset dan pengembangan. 

“Keputusan kami untuk tidak menerima modal ventura, tidak melakukan IPO, dan tidak diakuisisi telah memberi kami kebebasan yang luar biasa—kebebasan untuk berinovasi, belajar dari kesalahan kami, dan menantang kebijaksanaan konvensional. Kami telah mencurahkan waktu dan kerja keras untuk membangun portofolio perangkat lunak kami dari nol, daripada mengakuisisi karya orang lain,” kata Sridhar.











Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...