Kisah Erwin Bebas dari Jeratan Judol: Rugi Rp 800 Juta hingga Terlilit Utang
Erwin Erlani (26 tahun) bercerita tentang dirinya menghabiskan delapan tahun dalam pusaran judi online atau judol , lingkaran yang bermula dari rasa penasaran, lalu berakhir pada kerugian.
Erwin pertama kali bersentuhan dengan judol pada 2017, saat ia masih berseragam SMA. Saat itu, istilah deposit terdengar asing sekaligus menggiurkan. Bersama seorang teman, ia mencoba keuntungan kecil-kecilan. Modal Rp 200 ribu, hasil Rp 5 juta. Bagi seorang pelajar, angka itu terasa seperti jackpot kehidupan.
“Awalnya cuma penasaran, deposit itu apa,” ujar Erwin, mengenang awal mula kisahnya dalam diskusi Judi Pasti Rugi: Perjalanan Lintas Nusantara Berantas Judi Online di Jakarta Selatan, Kamis (29/1).
Kemenangan awal itu menjadi pintu masuk. Dengan logika sederhana, modal kecil, hasil besar, Erwin merasa judol menjadi jalan pintas menuju uang cepat. Penghasilan Rp 2,5 juta dari Rp 200 ribu terasa mustahil ditolak. Ia terus bermain, mengejar sensasi yang sama. Namun, seperti pola perjudian klasik, keberuntungan tak pernah benar-benar kembali.
Setoran demi setoran ia kirimkan. Nilainya naik, hasilnya nihil. "Deposit bisa Rp 500 ribu, tapi tidak pernah kembali. Uang kemenangan di awal saja. Setelah itu habis," katanya. Uang hasil menang di awal perlahan terkikis, lalu hilang.
Meski sadar sedang kalah, Erwin tak mampu berhenti. Judol menjelma candu. Ia mulai berbohong pada keluarga, meminta uang dengan berbagai alasan. Dari kebutuhan harian, ponsel, hingga sepeda motor, semuanya pernah ia jual demi satu hal: modal berjudi.
“Titik terendahnya, delapan tahun tidak sebentar. Selama kuliah saya dapat beasiswa, tapi tetap berbohong ke orang tua minta uang besar,” kata dia.
Lulus kuliah dan bekerja di sektor pertambangan tak otomatis menghentikan kebiasaan itu. Gaji bulanan yang seharusnya menjadi pijakan hidup justru habis dalam hitungan menit di layar ponsel.
Akumulasi kerugian Erwin selama delapan tahun mencapai sekitar Rp 800 juta. Utang pun menumpuk lebih dari Rp 80 juta, demi terus bertahan di meja judi virtual.
Ingin berhenti sebenarnya sudah lama muncul. Hidayah datang perlahan, tapi prosesnya jauh dari instan. “Aku pribadi sudah mencoba berhenti dua sampai tiga tahun sebelum benar-benar bisa,” ujarnya.
Kini, setelah lepas dari jerat judol, Erwin berkeliling Indonesia. Bersama program edukasi JudiPastiRugi yang didukung Gopay, ia mendatangi 66 kabupaten dan kota dalam delapan bulan terakhir. Dari perjalanan itu, satu kesimpulan terus berulang: tak ada kisah sukses penjudi.
“Banyak yang berhenti bukan karena sadar, tapi karena terpaksa. Sudah tidak punya celah pinjam uang lagi,” katanya. Tidak ada yang kaya raya. Hidup layak pun sulit ditemui.
Pesan Erwin sederhana, tapi tegas. Jangan menunggu kerugian bertambah. “Kalau sekarang bisa berhenti, kapan lagi. Mari hidup nyaman,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah, pendekatan penanganan judol tak hanya soal penindakan. Pelaksana tugas Kepala Balai Pelatihan SDM Komunikasi dan Digital Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi Dea Rachman menekankan peran keluarga sebagai garda terdepan pemulihan.
Menurut Dea, respon emosional justru bisa ramah pada kondisi penjudi. “Kalau suami ketahuan judol jangan diomelin. Beban kepala keluarga itu berat. Harus dinasihati dengan cara yang baik dan penuh pengertian,” katanya.
Negara juga mengambil peran struktural. Pemerintah telah menerbitkan sejumlah regulasi, mulai dari Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi hingga Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Kementerian Komdigi secara aktif menurunkan konten, platform, dan iklan melakukan perjudian berani.
Namun Dea menegaskan, regulasi saja tidak cukup. Ekosistem pencegahan harus dibangun bersama, termasuk melalui edukasi publik seperti yang dilakukan Gopay dan lintas komunitas-sektor.
Di titik ini, kisah Erwin bukan sekadar kisah jatuh-bangun seorang mantan penjudi. Ia menjadi pengingat bahwa judi online bukan soal menang atau kalah, melainkan soal waktu, uang, dan hidup yang perlahan terkuras, tanpa pernah benar-benar memberi balik.
