Transformasi AI Bisa Terhambat Gara-Gara Kesenjangan Ini Masih Muncul

Rahayu Subekti
3 Februari 2026, 08:12
ChatGPT Go
Koran Jakarta
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Transformasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) makin masif. Laporan terbaru Dale Carnegie terbaru bertajuk State of Organizational Health 2025 menunjukkan, transformasi integrasi AI naik dari 12% pada 2025 menjadi 15% pada 2025.

Namun, perusahaan konsultan dan pelatihan pengembangan kepemimpinan ini menyoroti adanya kesenjangan yang mencolok dalam adopsi AI. Hal ini dinilai bisa menghambat transformasi AI yang penggunaannya saat ini mulai banyak diserap di banyak negara.

Dalam laporan ini dijelaskan, banyak organisasi menghadapi tantangan yang lebih mendasar dibandingkan teknologi itu sendiri. Tantangan ini, yaitu kesenjangan persepsi antara pimpinan dan contributor individual atau staf.

Sebanyak 54,2% responden di jenjang pimpinan puncak menyatakan bahwa integrasi teknologi dan AI di perusahaan sangat efektif. Namun di jenjang staf, hanya 11,2% responden yang menjawab hal yang sama.

“Hal ini menunjukkan bahwa integrasi AI tidak dikomunikasikan dengan baik hingga ke level bawah yang akan paling terdampak dengan kehadiran AI,” kata President and CEO Dale Carnegie Global Joe Hart dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (2/2).

Dengan adanya kesenjangan ini, Hart menyatakan setiap pemimpin perusahaan perlu membuat strategi jangka panjang, khususnya mengenai perubahan yang ingin dicapai dalam pemanfaatan teknologi AI.

“Pemimpin perlu punya strategi jangka panjang, AI ini nanti akan digunakan untuk transformasi apa, bagaimana melibatkan staf yang sudah ada supaya bisa mendukung program jangka panjang itu,” ujarnya.

Ia menyatakan, keberhasilan organisasi di era AI tidak ditentukan oleh kemampuan teknologi yang diadopsi, melainkan bagaimana para pemimpin mengelola dan mendayagunakan proses adopsi teknologi tersebut.

Berdasarkan laporan tersebut, percepatan adopsi teknologi dan AI belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan kepemimpinan manusia. Secara global, 42% responden yang melaporkan budaya komunikasi yang kuat atau sangat efektif, sementara 46% masih berada pada kategori developing.

Di saat yang sama, hanya 17% responden yang dinilai memiliki budaya empati yang mendalam. sementara tingkat psychological safety yang memberdayakan dirasakan oleh 15% responden.

Kesenjangan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan transformasi AI sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin dalam membangun kejelasan, kepercayaan, dan keterlibatan manusia di seluruh lapisan organisasi.

Hart mengatakan di era AI saat ini peran kepemimpinan justru menjadi semakin krusial. “Di tengah percepatan teknologi, kepemimpinan dituntut untuk hadir dengan kejelasan dan ketenangan,” katanya.

Terlebih laporan tersebut memperlihatkan proses integrasi atau adopsi AI tidak menguntungkan bagi level bawah dan mereka yang berusia lebih tua. Meski AI dapat meningkatkan efisiensi, Hart mengatakan manusia tetap yang paling menentukan bagaimana keputusan diambil, kepercayaan dibangun, dan organisasi bergerak maju.

“Ketika pemimpin mampu memimpin manusia dengan sadar, teknologi akan benar-benar memberi dampak,” ujar Hart.

Di kawasan Asia Pacific, laporan Dale Carnegie mencatat beberapa hal. Hanya 18% responden di kawasan ini yang melaporkan budaya komunikasi yang sangat efektif dalam penggunaan AI.

Sedangkan 49% responden menilai empati di tempat kerja masih berada pada tahap emerging. Selain itu, hanya 10% responden di Asia Pasifik yang merasa benar-benar memiliki psychological safety yang memberdayakan.

“Temuan ini menegaskan bahwa percepatan teknologi tanpa kepemimpinan yang kuat berisiko menciptakan kelelahan organisasi, menurunnya engagement, dan berkurangnya kepercayaan dalam jangka panjang,” kata Hart.

President Director Dale Carnegie Indonesia Paul J. Siregar menilai temuan Asia Pacific sangat relevan dengan kondisi organisasi di Indonesia. Paul menilai adopsi teknologi dan AI di Indonesia berlangsung sangat cepat namun tetap memiliki sejumlah tantangan.

“Namun tantangan kepemimpinan justru muncul pada aspek komunikasi, empati, dan rasa aman psikologis di dalam tim,” kata Paul.

Paul menjelaskan, temuan Dale Carnegie di Asia Pacific semakin memperkuat transformasi hanya akan berdampak ketika pemimpin mampu memimpin manusia secara sadar dan konsisten.

Menjawab tantangan tersebut, Dale Carnegie memperkenalkan kerangka Take Command sebagai panduan kepemimpinan yang relevan di era AI. Kerangka ini dibangun di atas tiga pilar utama:

  • Mindset: Membantu pemimpin bertindak dengan kejelasan, ketenangan, dan kepercayaan diri dalam menghadapi perubahan cepat.
  • Relationships: Membangun kepercayaan, menjembatani kesenjangan lintas generasi, serta memperkuat kolaborasi di lingkungan kerja yang semakin kompleks.
  • Future: Merancang strategi jangka panjang yang menyatukan kekuatan manusia dan teknologi secara intentional untuk pertumbuhan berkelanjutan.

“Kerangka ini menegaskan bahwa kepemimpinan di era AI bukan tentang menguasai teknologi, melainkan tentang mengambil kendali atas arah, budaya, dan perilaku organisasi,” kata Hart.

 

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...