Iran Bidik Satelit Starlink Milik Elon Musk, Perang Rambah Orbit Luar Angkasa

Rahayu Subekti
27 Maret 2026, 13:45
iran bidik starlink, spacex,
Satcenter
Starlink
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pertempuran di Iran kini tidak hanya terjadi di darat dan udara, tetapi juga ruang digital dan orbit luar angkasa. Di tengah konflik yang kian kompleks, layanan internet satelit SpaceX melalui jaringan Starlink menjadi salah satu senjata baru.

Penguasa Iran melancarkan pertempuran lain dengan menargetkan satelit SpaceX yang berada ratusan kilometer di atas planet. Jaringan ini menjadi satu-satunya akses ke dunia luar setelah negara itu memberlakukan pemadaman internet nasional pada awal Januari 2026, menyusul gelombang protes besar.

Analis luar angkasa, Brian Hurley mengatakan Iran berupaya mengganggu sinyal satelit dan memutus koneksi antara satelit Starlink dan terminal di darat dengan dukungan perangkat perang elektronik dari Rusia. Mereka menggunakan teknologi pengacauan GPS dan komunikasi untuk melumpuhkan jaringan tersebut.

Dalam wawancara dengan Forbes pada Rabu (25/3), Hurley mengatakan para engineer SpaceX tidak tinggal diam. Mereka terus memperbarui perangkat lunak Starlink untuk mengatasi gangguan, menjaga konektivitas, dan melindungi komunikasi pengguna di Iran.

Hurley yang juga pendiri New Space Economy di Kanada. mengungkapkan dalam laporan terbaru bahwa konflik satelit yang paling terlihat sebelum perang Iran tidak ada hubungannya dengan penergetan atau pengintaian. “Itu adalah pertarungan untuk akses internet bagi 90 juta warga Iran dan itu dimulai beberapa minggu sebelum bom pertama jatuh,” kata Hurley.

Tokoh kunci di balik dukungan terhadap akses internet ini adalah Elon Musk. Ia bahkan menyatakan akan menyediakan akses Starlink gratis bagi warga Iran yang berhasil mendapatkan terminal, meski perangkat tersebut masuk secara ilegal melalui jalur penyelundupan dan berisiko hukuman berat bagi penggunanya.

Lembaga pemantau konektivitas mencatat pola naik-turun akses Starlink di Iran terjadi secara berkala. Lonjakan dan penurunan ini mencerminkan siklus serangan dan pertahanan. Saat pasukan Iran meningkatkan upaya gangguan, tim SpaceX merespons dengan penangkal perangkat lunak untuk menjaga jaringan tetap hidup.

Persaingan antara unit perang elektronik Iran dan para engineer SpaceX yang memperbarui sistem secara real-time kini menjadi bagian dari bentrokan satelit yang lebih luas di Timur Tengah. Dalam perspektif modern, pertempuran satelit tidak lagi sekadar soal menghancurkan objek di orbit, tetapi juga siapa yang mampu mempertahankan atau memutus arus komunikasi berbasis satelit.

“Itu menjadikan konfrontasi ini sebagai pertempuran komunikasi satelit yang nyata,” kata Hurley.

Sementara itu, tekanan terhadap pengguna Starlink juga semakin keras. Aparat Iran dilaporkan mengerahkan polisi rahasia dan drone pengintai untuk memburu terminal yang tersembunyi di atap-atap gedung.

Situasi ini bahkan disamakan dengan pengawasan total dalam novel Nineteen Eighty-Four karya George Orwell, di mana negara memata-matai warganya secara intensif.

Media Iran International bahkan melaporkan penggerebekan di Teheran, di mana sejumlah anak muda ditangkap saat menggunakan Starlink untuk memperbarui media sosial mereka. Mereka dituduh melakukan spionase dan upaya menggulingkan pemerintah.

Ke depan, tekanan terhadap pengguna Starlink diperkirakan semakin meningkat. Bahkan, ada kemungkinan pemerintah Iran menggelar persidangan terbuka dan menjatuhkan hukuman berat, termasuk hukuman mati untuk menimbulkan efek jera.

“Saya tidak akan terkejut jika pemerintah Iran menggelar beberapa persidangan publik terhadap mereka yang dituduh menggunakan terminal Starlink, dan bahkan menjatuhkan hukuman mati setidaknya kepada satu orang, hanya untuk menakut-nakuti seluruh penduduk agar tidak menggunakan terminal Starlink,” ujar Hurley.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...