Adopsi AI Global Melejit Jadi 78%, Produktivitas Piutang Bisnis Naik 82%

Rahayu Subekti
16 April 2026, 12:14
AI
ANTARA FOTO/Makna Zaezar/bar
Warga melihat barang dagangan pada aplikasi dan website platfrom niaga elektronik (e-commerce) yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dari rumahnya di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (31/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan mesin utama penggerak efisiensi di sektor keuangan global. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (komdigi), Nezar Patria mengungkapkan, adopsi AI di dunia bisnis telah melonjak drastis dan memberikan dampak nyata terhadap performa perusahaan.

Berdasarkan laporan Stanford AI Index 2025, tingkat adopsi AI di organisasi global meningkat signifikan dari 55% menjadi 78%. Dampaknya pun terlihat nyata. Dalam studi terhadap 500 perusahaan pengadopsi AI dalam proses piutang, terdapat peningkatan produktivitas hingga 82% serta efisiensi operasional yang dapat mencapai 60%.

“Teknologi dan digitalisasi kini menjadi prioritas utama para CFO dalam menghadapi tahun ini. Mereka memandang AI bukan sekadar alat otomasi, tetapi sebagai motor untuk merespons perubahan pasar dan dinamika pelanggan secara lebih cepat dan presisi,” kata Nezar dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (15/4).

Meskipun begitu, Nezar menekankan bahwa tantangan utama transformasi digital di sektor keuangan bukan hanya terletak pada aspek teknologinya saja. Tetapi juga dari sisi kepemimpinan dan budaya organisasi di suatu perusahaan.

“Hambatan terbesar bukan teknologi, tetapi leadership dan budaya organisasi. Banyak inisiatif AI berhenti di tahap uji coba tanpa memberikan dampak nyata,” ujarnya.

Nezar juga menyoroti tiga tantangan strategis yang perlu diatasi oleh para pemimpin keuangan. Yang pertama yaitu jebakan pilot project. Banyak organisasi terjebak pada proyek percontohan AI yang tidak berkembang menjadi implementasi skala penuh dan tidak menghasilkan nilai tambah signifikan.

Lalu yang kedua mengenai kualitas dan tata kelola data. Hal ini dikarenakan AI sangat bergantung pada data yang bersih, terintegrasi, dan aman. Tanpa fondasi data yang kuat, inisiatif AI berisiko gagal atau menghasilkan analisis yang menyesatkan.

“Kita tahu bahwa AI secara apa pun akan gagal jika tidak didukung oleh kualitas data yang baik. Mari perhatikan arsitektur data yang bersih, terintegrasi, dan aman sebagai landasan seluruh inisiatif dari project-project AI,” katanya.

Selanjutnya, yang ketiga adalah kesiapan sumber daya manusia lewat pentingnya pendekatan human in the loop dalam pengembangan AI. Menurutnya, nilai sejati AI justru muncul ketika teknologi berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas manusia.

“Ini poin yang paling penting saya kira, yakni membangun manusia, bukan hanya sistem. World Economic Forum mencatat bahwa produktivitas sejati dari AI hanya tercipta ketika kemampuan manusia turut berkembang bersamanya. Jadi jangan sisihkan manusia dalam proses sistem yang bertopang pada AI,” ujar Nezar.

Sebagai langkah strategis, Kementerian Komdigi juga tengah menyiapkan peta jalan AI nasional dan etika AI. “Mudah-mudahan dalam satu hingga bulan ke depan presiden bisa menandatangani dokumen Peta Jalan Pengembangan Artificial Intelligence Nasional," ucap Nezar. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...