Komdigi Investigasi Dugaan IGRS Bocorkan Data Game bahkan yang Belum Dirilis

Rahayu Subekti
17 April 2026, 13:15
Riot Games, igrs, komdigi
Riot Games
Riot Games
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi melakukan investigasi terkait dugaan kebocoran data pengembang gim lewat sistem Indonesia Game Rating System (IGRS). Kebocoran IGRS sebelumnya menjadi sorotan karena diduga kebobolan dan menyebabkan cuplikan sejumlah gim besar, bahkan yang belum dirilis.

“Untuk menghindari asumsi-asumsi yang tersebar di media sosial, jadi sekarang dalam proses investigasi secara keseluruhan, baik dari sisi kebijakan, sistem, dan proses, ataupun tools dan metodologinya, sampai ke organisasi dan sumber daya manusianya-nya,” kata Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Sonny Hendra Sudaryana dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/4).

Proses investigasi sudah dilakukan sejak 8 April. Kementerian Komdigi juga menerima banyak masukan dari teman-teman asosiasi industri dan masyarakat.

“Kami sangat menghargai tingginya perhatian masyarakat terhadap isu ini, dan hal tersebut menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kami,” ujarnya.

Oleh karena itu, Sonny mengatakan penyelidikan dan evaluasi dilakukan secara menyeluruh. Hal ini baik dari sisi sistem, proses, maupun penguatan tata kelola, organisasi, dan sumber daya manusianya.

Komdigi Tunda Sementara Proses Rating IGRS

Kementerian Komdigi memutuskan untuk menunda sementera proses rating IGRS secara keseluruhan. "Saya tegaskan sekali lagi, penundaan ini hanya bersifat sementara. Langkah ini kami ambil untuk memastikan bahwa ke depannya sistem IGRS dapat berjalan jauh lebih kuat, lebih kredibel, dan transparan," kata Sonny.

Dari hasil investigasi ini, Kementerian Komdigi akan melakukan perubahan sesuai saran dan perbaikan yang dihasilkan. Sonny mengatakan hal ity termasuk strategi implementasi IGRS ke depan.

Sonny berharap setelah proses investigasi selesai, masyarakat dan pelaku industri gim kembali dapat mempercayai sistem IGRS. ia menegaskan, pada dasarnya IGRS dibangun murni untuk kepentingan publik. Terlebih lagi selama ini Indonesia belum memiliki standar klasifikasi yang jelas bagi industri gim di Indonesia.

“Melalui IGRS, pemerintah hadir untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat, khususnya anak-anak kita, sekaligus memberikan kepastian kepada para pelaku industri,” ujarnya. 

Dugaan Kebocoran IGRS

Dugaan kebocoran IGRS muncul setelah VGC melaporkan cuplikan gameplay sejumlah gim besar yang belum dirilis luas di internet. Termasuk judul gim yang paling dinanti yaitu 007: First Light.

Insiden ini bermula dari celah keamanan dalam sistem IGRS yang membuat materi pengajuan privat yang seharusnya hanya digunakan untuk proses klasifikasi dapat diakses publik. Mengutip VGC pada Senin (13/4), hal tersebut mengakibatkan lebih dari satu jam cuplikan penuh spoiler dari gim garapan IO Interactive itu beredar, bahkan termasuk bagian akhir cerita.

Tak hanya itu, kebocoran juga mencakup gameplay dari Echoes of Aincrad milik Bandai Namco yang menampilkan sejumlah momen penting dalam alur cerita.

Lebih jauh lagi, laporan yang diterima VGC menyebutkan bocoran ini juga membuka ribuan alamat email milik pengembang gim. Hal ini memperluas kekhawatiran soal keamanan data di industri.

Manajer Peringkat Usia di Riot Games, Nic McConnell, ikut buka suara. Ia mengungkapkan bahwa proses di IGRS masih berkembang dan berpotensi memiliki celah.

"IGRS, sejauh yang saya tahu, sedang meninjau setiap pengajuan secara manual (kami membagikan rekaman kami melalui tautan Google Drive yang terkunci dan baru-baru ini menerima permintaan berbagi dari anggota tim IGRS yang berbeda). Saya tidak akan heran jika beberapa tautan dibuka lebih luas entah bagaimana," tulis McConnell melalui akun media sosial BlueSky.

Ia juga menyoroti keterbatasan sumber daya yang dimiliki IGRS. “Tim di IGRS menurut saya kecil dan diberi tugas besar tanpa sumber daya yang memadai,” katanya.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...