RI Sasaran Empuk Hacker Backdoor, Catat Kasus Paling Tinggi di Asia Tenggara

Rahayu Subekti
21 April 2026, 19:30
hacker, backdoor, serangan siber, Indonesia
Bing Image Creator, Katadata/Desy Setyowati
Indonesia menjadi salah satu target utama hacker (peretas) yang melakukan serangan siber jenis backdoor.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indonesia menjadi salah satu target utama hacker (peretas) yang melakukan serangan siber jenis backdoor. Data terbaru dari perusahaan keamanan siber Kaspersky menunjukkan, lebih dari 1,58 juta insiden backdoor terdeteksi di Indonesia pada tahun lalu, menjadikannya yang tertinggi di Asia Tenggara.

Secara keseluruhan, Kaspersky mencatat lebih dari tiga juta serangan backdoor yang menargetkan bisnis di Asia Tenggara sepanjang tahun lalu.

Backdoor adalah salah satu ancaman siber paling berbahaya karena memungkinkan pelaku kejahatan memperoleh akses jarak jauh ke sistem korban tanpa terdeteksi. Berbeda dengan akses resmi, backdoor dapat beroperasi secara diam-diam untuk mencuri data, mengendalikan sistem, hingga memantau aktivitas pengguna.

Dalam catatan Kaspersky, Indonesia menyumbang porsi terbesar dengan sekitar 1,58 juta serangan backdoor terdeteksi. Dibandingkan lima negara lainnya di Asia Tenggara, serangan backdoor di Indonesia paling tinggi sepanjang 2025.

Berikut rincian lengkap angka serangan backdoor di Asia Tenggara pada 2025 berdasarkan data Kaspersky:

  1. Indonesia: 1,58 juta insiden
  2. Vietnam: 1,29 juta insiden
  3. Thailand: 251.502 insiden
  4. Malaysia: 212.239 insiden
  5. Singapura: 50.511 insiden
  6. Filipina: 35.232 insiden

Tak hanya tinggi dari sisi jumlah, Indonesia juga mencatat lonjakan signifikan dalam serangan jenis ini. Kaspersky menyatakan bagian yang paling mengkhawatirkan adalah peningkatan deteksi backdoor dari tahun ke tahun yang menargetkan bisnis di kawasan ini.

Malaysia mencatat lonjakan tertinggi sebesar 86%, diikuti oleh Indonesia sebesar 36%. Vietnam juga mengalami peningkatan deteksi backdoor sebesar 3%. Thailand stagnan dari tahun ke tahun. Sementara itu, Singapura dan Filipina mengalami penurunan masing-masing sebesar 49% dan 35%.

Managing Director Asia Pasifik Kaspersky Adrian Hia mengatakan secara keseluruhan, bisnis di Asia Tenggara mengalami peningkatan serangan backdoor sebesar 17% pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.” Meningkatnya deteksi ini, menyoroti pergeseran kritis dalam lanskap ancaman di seluruh Asia Tenggara, dari menerobos ke dalam sistem menjadi bertahan di dalam sistem,” kata Hia dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (21/4).

Ia menilai, bagi dunia bisnis, insiden itu menggarisbawahi pentingnya pemantauan berkelanjutan, deteksi canggih, dan kemampuan respons cepat. Khususnya untuk mengungkap akses tersembunyi dan mencegah serangan siber berkelanjutan.

Ancaman terhadap Perangkat Bisnis

Selain backdoor, ancaman terhadap perangkat bisnis di Indonesia juga masih sangat tinggi. Sepanjang 2025, lebih dari 46 juta serangan terdeteksi melalui media offline seperti USB, CD, dan DVD. Begitu juga melalui file yang masuk ke komputer dalam bentuk yang tidak terbuka seperti yang terdapat dalam penginstal yang kompleks atau file terenkripsi.

“Sebagai simpul penghubung utama ke rantai pasokan global, Asia Tenggara telah dan akan tetap menjadi target utama kampanye siber berbahaya,” ujarnya.

Terlebih lagi, hal ini semakin berisiko seiring dengan terus berlanjutnya pengaturan kerja jarak jauh dan hibrida. Praktik kerja jarak jauh ini seringkali melibatkan penggunaan perangkat yang tidak terkelola, permukaan serangan hanya akan terus meluas.

“Oleh karena itu, sangat penting bagi bisnis di seluruh wilayah untuk berinvestasi secara memadai dalam pengamanan perangkat mereka, tidak hanya untuk mencegah potensi kerugian finansial dan data, tetapi juga untuk menghindari terbentuknya saluran bagi kejahatan siber lebih lanjut,” kata Hia. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...