Perang Cip Global Memanas, Indonesia Cari Celah lewat Nikel dan Kobalt

Rahayu Subekti
7 Mei 2026, 10:12
Indonesia, semikonduktor, cip, nikel, kobalt
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym.
Wakil Menteri (Wamen) Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menyebut semikonduktor adalah "the new oil" atau kekuatan baru di abad ke-21.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Persaingan global kini tidak lagi hanya soal minyak dan energi fosil. Di era kecerdasan buatan atau AI, perebutan pengaruh dunia bergeser ke industri semikonduktor atau cip yang menjadi otak berbagai teknologi modern.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria mengatakan perang cip kini menjadi arena utama persaingan geopolitik negara besar.

“Pada abad lalu, kita berbicara tentang minyak sebagai sumber kekuatan utama. Kini, semikonduktor menjadi kekuatan utama di abad ke-21. Setiap negara, baik Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa, maupun negara kekuatan menengah berupaya menetapkan posisi dalam perang cip dan penguasaan pabrik semikonduktor,” kata Nezar dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (7/5).

Di tengah rivalitas global tersebut, Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan besar untuk masuk ke rantai pasok industri AI dan semikonduktor dunia. Nezar mengakui keterlibatan Indonesia dalam proses produksi cip global masih sangat terbatas.

“Indonesia saat ini belum berada dalam rantai pasok global AI. Berdasarkan kunjungan saya ke salah satu produsen di Batam yaitu Nvidia, saya melihat proses perakitan semikonduktor dan tidak ada komponen dalam proses tersebut yang berasal dari Indonesia,” ujarnya.

Peluang Besar Nikel dan Kobalt Masuk Rantai Pasok Industri Cip Global

Meski demikian, pemerintah melihat peluang besar bagi Indonesia untuk masuk ke ekosistem industri cip global. Hal ini melalui kekuatan sumber daya alam yang dimiliki, khususnya mineral kritis seperti nikel dan kobalt.

Menurut Nezar, mineral tersebut memiliki peran penting dalam proses produksi semikonduktor dan teknologi pendukung AI. “Indonesia memiliki sejumlah mineral penting, seperti emas, kobalt, dan nikel, yang digunakan dalam proses pembuatan semikonduktor. Tantangannya adalah bagaimana mengolah mineral tersebut agar siap menjadi bagian dari komponen yang dibutuhkan industri,” katanya.

Selain mengandalkan sumber daya alam, pemerintah juga menilai penguatan talenta digital menjadi faktor penting. Hal ini agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah dalam ekosistem AI global.

Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital tengah menyiapkan program AI Talent Factory yang melibatkan perguruan tinggi, pusat riset, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mencetak talenta AI nasional.

Dengan mengombinasikan kekuatan sumber daya alam dan talenta digital, Indonesia menegaskan komitmennya untuk mengambil posisi strategis dalam industri AI global. Hal ini melalui pendekatan jalan tengah tanpa bergantung pada kontrol penuh negara, namun tetap menjaga kepentingan nasional.

“Sebagai negara kekuatan menengah, Indonesia memilih jalan tengah dengan memanfaatkan mineral kritis yang dimiliki serta meningkatkan talenta digital sebagai fondasi utama dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat,” kata Nezar. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...