Jepang Mau Kirim Listrik dari Bulan ke Bumi, Ini Teknologi dan Cara Kerjanya
Jepang kembali menjadi sorotan berkat rencana ambisius untuk menghasilkan listrik di Bulan dan mengirimkannya ke Bumi. Gagasan ini dikenal sebagai Luna Ring atau Lunar Solar Ring, konsep pembangkit listrik tenaga surya raksasa yang dibangun mengelilingi ekuator Bulan.
Konsep Luna Ring pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan konstruksi Jepang, Shimizu Corporation. Dalam laman resminya, perusahaan menggambarkan proyek ini dengan memasang cincin sel surya di sepanjang ekuator Bulan, lalu mengonversi energi itu menjadi gelombang microwave dan laser untuk dikirim ke Bumi dari sisi Bulan yang selalu menghadap planet kita.
Penelusuran terhadap roadmap riset tenaga surya luar angkasa milik Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) menunjukkan bahwa JAXA memiliki peta jalan sendiri untuk pengembangan Space Solar Power Systems (SSPS) yang justru tidak memasukkan Luna Ring di dalamnya. Hingga kini, Shimizu belum mengamankan pendanaan apa pun, dan proyek ini tidak memiliki dukungan program resmi dari lembaga antariksa seperti JAXA maupun NASA.
Meski demikian, riset Jepang soal transmisi energi nirkabel dari luar angkasa memang berjalan, hanya saja terpisah dari Luna Ring. JAXA mengembangkan konsepnya sendiri bernama SSPS, pembangkit listrik tenaga surya yang ditempatkan di orbit Bumi, bukan di permukaan Bulan. Berbeda dengan Luna Ring yang mengandalkan hamparan panel surya di tanah Bulan, SSPS bekerja dari satelit yang mengorbit planet, lalu mentransmisikan energinya ke Bumi lewat microwave atau laser, prinsip transmisinya serupa, tapi lokasi pembangkitnya sama sekali berbeda.
Berdasarkan dokumentasi proyek ini, Luna Ring diajukan Shimizu Corporation setelah gempa bumi dan tsunami Tohoku 2011 yang merusak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi dan memicu penolakan publik terhadap energi nuklir, mengingat Jepang sebelumnya sangat bergantung pada tenaga nuklir.
Teknologi dan Cara Kerjanya
Berdasarkan proposal resmi Shimizu Corporation, Luna Ring dirancang dengan memasang sabuk panel surya di sepanjang ekuator Bulan. Sabuk ini membentang sekitar 11.000 kilometer mengelilingi ekuator Bulan, dengan lebar yang bervariasi dari beberapa kilometer hingga maksimum 400 kilometer. Jika direalisasikan secara penuh, proyek ini diklaim berpotensi menghasilkan hingga 13.000 terawatt— jauh melampaui kebutuhan listrik global saat ini.
Cara kerjanya: cahaya matahari dikonversi menjadi listrik oleh sel surya yang dipasang di sepanjang ekuator Bulan, lalu menyalurkan energi yang dihasilkan ke fasilitas transmisi di sisi Bulan yang menghadap Bumi, sebelum dikirim ke Bumi dalam bentuk gelombang microwave atau laser. Dari titik itu, energi dipancarkan sebagai gelombang microwave dan laser menuju antena penerima (rectenna) di Bumi, sebelum diubah kembali menjadi listrik yang siap dipakai.
lalu menyalurkan energi yang dihasilkan ke fasilitas transmisi di sisi Bulan yang menghadap Bumi, sebelum dikirim ke Bumi dalam bentuk gelombang microwave atau laser.
Panel surya ditempatkan di Bulan karena satelit alami Bumi ini nyaris selalu menerima sinar matahari tanpa gangguan awan, hujan, maupun atmosfer — sehingga satu sisi sabuk akan selalu terkena cahaya matahari secara konstan.
Pembangunan infrastruktur di Bulan rencananya mengandalkan robot otomatis yang dikendalikan dari jarak jauh. Shimizu juga merancang pemanfaatan material lokal Bulan (regolith) untuk membuat beton, kaca, dan komponen struktural lain, guna menekan kebutuhan pengiriman material dari Bumi.
Luna Ring bukan proyek yang akan dibangun dalam waktu dekat. Pada 2013, Shimizu Corporation menyatakan konstruksi Luna Ring dapat dimulai paling cepat pada 2035. Proyeksi ini sudah berusia lebih dari satu dekade dan belum direvisi secara resmi oleh perusahaan. Bahkan, hingga awal 2026, Luna Ring tetap berstatus sebatas konsep di situs korporat Shimizu, persis seperti kondisinya saat pertama kali diumumkan pada 2013, tanpa progres signifikan menuju tahap konstruksi.
Di sisi lain, Jepang memiliki program yang jauh lebih realistis dan dekat untuk menguji teknologi pengiriman listrik dari luar angkasa, yakni program OHISAMA yang dikembangkan Japan Space Systems (JSS), lembaga riset yang bekerja sama dengan pemerintah dan industri Jepang, namun tidak terkait langsung dengan Luna Ring. Program ini menargetkan demonstrasi satelit kecil yang mengubah energi matahari menjadi microwave untuk dikirim ke Bumi, sebagai langkah awal menuju pembangkit listrik tenaga surya luar angkasa komersial berbasis orbit, bukan berbasis Bulan.
Hingga saat ini belum ada angka investasi resmi yang diumumkan untuk pembangunan Luna Ring, karena proyek masih berada pada tahap konseptual. Shimizu tidak memberikan estimasi biaya resmi untuk pembangunan sabuk panel surya sepanjang 11.000 kilometer ini.
Sejumlah analis memperkirakan biaya proyek semacam ini berpotensi mencapai ratusan miliar hingga triliunan dolar AS jika benar-benar direalisasikan, mengingat besarnya kebutuhan transportasi antariksa, robot konstruksi, sistem transmisi energi, dan infrastruktur penerima di Bumi, namun ini murni estimasi pihak luar, bukan angka resmi dari Shimizu.
Apabila berhasil diwujudkan, konsep pembangkit listrik di Bulan berpotensi mengubah cara manusia memperoleh energi. Namun untuk saat ini, proyek itu masih sepenuhnya berada pada tahap konsep korporat, berjalan terpisah dari program-program resmi lembaga antariksa seperti JAXA, sementara realisasinya, jika pernah terjadi, kemungkinan masih membutuhkan waktu beberapa dekade lagi.
