16 Ribu Karyawan Amazon Kena PHK, Sulit Cari Kerja di Tengah Gelombang AI
Gelombang pemutusan hubungan kerja alias PHK di Amazon membuat ribuan mantan karyawan harus menghadapi persaingan ketat untuk mendapatkan pekerjaan baru. Kondisi pasar tenaga kerja teknologi semakin menantang di tengah maraknya PHK dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Salah satunya dialami Jake Linsley, mantan manajer keuangan Amazon yang mengetahui dirinya dihentikan melalui pesan singkat yang masuk ke ponselnya pada bulan Januari.
"Saya kira itu pesanan paket tertunda. Setelah saya baca lagi, saya langsung sadar saya dipecat," kata Linsley dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (12/7).
Linsley merupakan satu dari sekitar 16 ribu karyawan yang terkena PHK massal Amazon pada akhir Januari. Gelombang ini terjadi hanya beberapa bulan setelah perusahaan memangkas lebih dari 14 ribu pekerja lainnya, sehingga menjadi salah satu putaran PHK terbesar dalam sejarah perusahaan.
Selama hampir enam tahun bekerja di Amazon, Linsley menikmati berbagai keuntungan sebagai pegawai salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia. Namun setelah kehilangan pekerjaan, ia harus menghadapi kenyataan baru bahwa pasar kerja teknologi semakin memakan korban PHK dan mempengaruhi otomatisasi berbasis AI.
Bagi sebagian mantan karyawan, pengalaman kehilangan pekerjaan juga mengubah cara mereka memandang karier di industri teknologi.
Linsley akhirnya memperoleh posisi sebagai wakil presiden di sebuah startup teknologi kesehatan setelah tiga bulan mencari pekerjaan. Namun pengalaman terkena PHK membuatnya kini lebih mengutamakan stabilitas dibandingkan mengejar pertumbuhan karier yang cepat.
“Saya lebih memilih pekerjaan yang stabil daripada pekerjaan yang bisa berkembang lima kali lipat tetapi hilang dalam semalam,” katanya.
Menurut perusahaan konsultan Challenger, Gray & Christmas, sektor teknologi menjadi industri dengan jumlah PHK terbesar di Amerika Serikat sepanjang tahun ini. Sekitar 140 ribu pekerja teknologi kehilangan pekerjaan, melampaui sektor lainnya.
Laporan Challenger juga menunjukkan AI menjadi alasan utama perusahaan melakukan PHK selama empat bulan berturut-turut. Secara keseluruhan, sekitar 23% pengumuman PHK sepanjang tahun 2026 menyebut pemanfaatan AI sebagai salah satu faktor utama.
"AI menjadi kekuatan dominan karena perusahaan melakukan rekonstruksi, mengotomatisasi berbagai peran, dan mengalihkan anggaran untuk membangun kemampuan baru," tulis Challenger dalam laporannya.
Eks Karyawan Amazon Kirim ratusan Lamaran Kerja
Gelombang PHK di Amazon terjadi bersamaan dengan pengurangan tenaga kerja yang dilakukan sejumlah perusahaan teknologi besar lainnya seperti Meta, Salesforce, dan Cisco. Kondisi tersebut membuat ribuan mantan pekerja teknologi harus bersaing memperebutkan jumlah lowongan yang semakin terbatas.
Courtney Haeflinger, mantan karyawan Amazon Web Services atau AWS, mengaku menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melamar pekerjaan setelah terkena PHK pada Januari tahun ini.
Setiap pagi, ia menampilkan situs lowongan pekerjaan dan menunggu balasan dari perekrut. Namun, hampir setiap posisi yang dibuka langsung dibanjiri pelamar.
“Begitu lowongan dipublikasikan, langsung ada 200 hingga 300 pelamar. Sulit bagi pencari kerja asli untuk bisa masuk,” ujarnya.
Haeflinger mengaku telah mengirim ratusan lamaran sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan baru di AT&T pada pekan lalu.
Pengalaman serupa dialami Dorian Smith. Ia menghabiskan lebih dari satu dekade berkarier di Amazon hingga menjadi insinyur pengembangan web.
Setelah terkena PHK, Smith mengirim sedikitnya 250 lamaran pekerjaan. Dari ratusan lamaran tersebut, hanya empat perusahaan yang memberikan respon. Itu pun berupa persetujuan email standar.
Smith akhirnya mendapatkan pekerjaan di perusahaan rintisan setelah terhubung dengan seorang perekrut melalui LinkedIn.
"Saya selalu berpikir nama Amazon di CV saya akan sangat membantu. Tapi ketika besar-besaran PHK terjadi, saya sadar ada puluhan ribu orang lain yang memiliki CV serupa," katanya.
Pengalaman para mantan karyawan tersebut menunjukkan ketatnya persaingan di pasar kerja teknologi. Ribuan pekerja dari perusahaan teknologi besar kehilangan pekerjaan pada saat yang sama dan harus bersaing memperebutkan lowongan yang tersedia.
Amazon Pangkas 57 Ribu Pekerja Sejak 2022
Amazon menjadi salah satu perusahaan yang paling agresif melakukan efisiensi tenaga kerja dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak tahun 2022, perusahaan telah memangkas lebih dari 57 ribu pekerja atau sekitar 16% dari total tenaga kerja korporatnya.
Berdasarkan data Layoffs.fyi, Amazon menyumbang sekitar 13% dari seluruh PHK yang terjadi di industri teknologi sepanjang tahun ini.
Gelombang PHK tersebut terjadi ketika perusahaan-perusahaan teknologi meningkatkan investasi dan pemanfaatan AI. Teknologi itu digunakan untuk mengotomatisasi berbagai pekerjaan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
CEO Amazon Andy Jassy sebelumnya telah diperingatkan bahwa AI akan mengubah cara kerja perusahaan. Menurutnya, peningkatan efisiensi dari teknologi tersebut akan membuat kebutuhan tenaga kerja korporat berkurang dalam beberapa tahun mendatang.
Meski demikian, Amazon berpendapat bahwa AI menjadi penyebab utama sebagian besar PHK yang dilakukan perusahaan.
Juru bicara Amazon Montana MacLachlan mengatakan pengurangan energi kerja dilakukan agar perusahaan dapat bergerak lebih cepat dan tetap fokus pada investasi di bidang-bidang strategi.
“Kami tidak mengambil keputusan untuk menghilangkan posisi dengan mudah, dan kami bekerja keras mendukung karyawan yang terdampak,” ujar MacLachlan.
