Permintaan GPU AI Meledak, Google Pastikan Belum Kehabisan Pasokan
Google Cloud memastikan masih mampu memenuhi lonjakan permintaan Graphics Processing Unit (GPU) untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI), meski industri global tengah menghadapi tingginya permintaan cip AI.
Vice President of Technology and Customer Engineering APAC Google Cloud Moe Abdula mengatakan permintaan terhadap infrastruktur AI terus meningkat dari berbagai kalangan, mulai dari perusahaan, pemerintah, hingga organisasi. Berbeda dengan siklus teknologi baru pada umumnya, permintaan AI belum menunjukkan tanda-tanda melambat.
"Biasanya ketika teknologi baru seperti Tensor Processing Unit (TPU) atau GPU hadir, akan terjadi lonjakan permintaan di awal, kemudian sedikit menurun ketika produksi dan pasokan mulai mengejar. Namun dalam kasus AI, permintaannya justru terus bertumbuh," kata Moe dalam Google Cloud Media Briefing di Jakarta, Rabu (15/7).
Meski permintaan terus melonjak, Moe memastikan Google Cloud belum menghadapi kendala berarti dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Menurut dia, Google mengandalkan kombinasi TPU yang dikembangkan sendiri serta GPU yang disediakan melalui kemitraan dengan Nvidia, untuk menyediakan akselerator AI.
"Kami terus bekerja sama dengan jaringan pemasok kami untuk menyediakan akselerator AI. Kami memiliki TPU yang kami kembangkan sendiri, dan pada saat yang sama kami juga menawarkan GPU kepada pelanggan. Kami merupakan mitra yang kuat bagi Nvidia," ujarnya.
Ia mengakui sesekali terjadi keterlambatan atau gangguan kecil dalam pasokan. Namun kondisi ini masih dapat diatasi sehingga tidak mengganggu kemampuan Google Cloud dalam melayani pelanggan.
"Saat ini tidak ada kekhawatiran atau masalah berarti terkait kemampuan kami memenuhi permintaan yang terus meningkat. Memang ada kalanya terjadi sedikit keterlambatan, tetapi kami mampu mengatasinya melalui kemitraan yang kuat," katanya.
Moe menambahkan kemampuan Google menyediakan infrastruktur AI menjadi salah satu alasan mengapa sembilan dari sepuluh laboratorium AI terbesar di dunia menggunakan layanan Google.
Google Andalkan TPU dan GPU
Moe mengatakan Google telah mengembangkan TPU jauh sebelum ledakan AI generatif terjadi. Menurutnya, keputusan itu diambil setelah perusahaan menyadari beban kerja AI membutuhkan arsitektur komputasi yang berbeda dibanding komputasi konvensional.
Ia menjelaskan pengembangan TPU berawal dari analisis internal mengenai kebutuhan komputasi apabila seluruh pengguna Google Search beralih menggunakan pencarian berbasis suara atau voice search. Hasil analisis menunjukkan Google harus membangun pusat data dalam jumlah sangat besar jika tetap mengandalkan arsitektur komputasi lama.
"Dari situlah kami mengembangkan TPU yang dirancang khusus untuk melakukan pemrosesan paralel sehingga lebih sesuai untuk sistem AI," ujarnya.
Meski demikian, Moe tidak mengungkapkan porsi penggunaan TPU dibanding GPU di Google Cloud. Ia hanya menegaskan kedua jenis akselerator ini sama-sama digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Selain memperluas pasokan cip, Google berupaya mengurangi ketergantungan terhadap perangkat keras tercanggih melalui pengembangan model dan algoritma AI yang lebih efisien.
Menurut Moe, tidak semua model AI membutuhkan GPU generasi terbaru. Ia mencontohkan DeepSeek yang mampu membangun model AI menggunakan GPU Nvidia L4 yang memiliki spesifikasi lebih rendah dibanding GPU AI kelas atas.
"Ini menunjukkan pengembang dapat memanfaatkan berbagai jenis cip yang lebih mudah tersedia dan tetap mengoptimalkan penggunaannya," katanya.
Google juga mengembangkan algoritma yang memungkinkan pelatihan model AI menggunakan kapasitas komputasi, penyimpanan, dan memori yang lebih sedikit. Pendekatan tersebut dinilai dapat meningkatkan efisiensi sekaligus membuat pengembangan AI lebih berkelanjutan.
"Fokus kami bukan hanya meningkatkan kemampuan model AI, tetapi juga membuatnya lebih efisien sehingga bisa memperoleh kinerja yang lebih tinggi dari infrastruktur yang sudah ada," ujar Moe.
Sementara itu, Country Director Google Cloud Indonesia Karim Siregar mengatakan lonjakan permintaan AI membuat kapasitas komputasi atau compute di industri cloud global sangat padat. Menurutnya, kapasitas penyediaan komputasi untuk AI bahkan telah dipesan penuh dalam satu hingga dua tahun ke depan.
"Kalau kita lihat memang di dunia penyediaan total compute itu sampai satu sampai dua tahun ke depan sudah fully booked. Dengan demikian harganya bisa lebih stabil," kata Karim.
Meski demikian, Karim menilai kondisi tersebut tidak hanya dialami Google Cloud, melainkan seluruh penyedia layanan cloud berskala besar atau hyperscaler. Karena itu, perusahaan akan berupaya menjaga harga layanan tetap kompetitif, meski tidak menutup kemungkinan melakukan penyesuaian apabila harga cip AI melonjak tajam.
"Kami akan mencoba sebisa-bisanya memastikan harga tetap di level yang tepat. Tapi kalau memang ada lonjakan harga yang sangat tinggi, memang kami harus melakukan penyesuaian," ujarnya.
