Kaspersky: 57% Warga RI Simpan KTP hingga Paspor di Ponsel, Data Rentan Bocor
Ponsel pintar kini bukan lagi sekadar alat komunikasi. Survei terbaru Kaspersky yang melibatkan responden di Indonesia menunjukkan sebanyak 57% masyarakat menyimpan dokumen pribadi seperti Kartu Tanda Penduduk atau KTP, paspor, dokumen asuransi, dan tiket di ponsel mereka.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata kawasan Asia Pasifik yang mencapai 49%. Tak hanya dokumen identitas, masyarakat Indonesia juga semakin banyak menyimpan informasi sensitif lainnya di smartphone.
“Sekarang ponsel pintar kita berfungsi sebagai asisten lengkap yang menyentuh setiap aspek kehidupan kita. Data yang kita percayakan kepada mereka jauh melampaui foto, nomor telepon, atau pesan teks,” kata pakar kemanaan siber Kaspersky Anton Kivva dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (17/7).
Survei tersebut juga mengungkapkan sebanyak 57% responden menyimpan email pekerjaan, 47% menyimpan kata sandi dan detail login, dan 45% menyimpan catatan serta pengingat. Selain itu 44% responden juga menyimpan riwayat belanja beserta alamat pengiriman.
Selain itu, survei yang dilakukan pada Maret 2026 itu juga menunjukkan perubahan pola penggunaan internet di Indonesia. Sebanyak 77% responden mengandalkan ponsel pintar sebagai perangkat utama untuk mengakses internet, lebih tinggi dibanding rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 72%.
Kondisi tersebut membuat ponsel semakin berperan sebagai pusat aktivitas digital, baik untuk keperluan pribadi maupun pekerjaan.
Selain menyimpan foto, video, kontak, dan pesan, masyarakat kini juga menggunakan smartphone untuk mengakses layanan perbankan, menyimpan data keuangan, hingga riwayat percakapan dengan aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau AI. Hal ini membuat nilai informasi yang tersimpan dalam satu perangkat semakin tinggi.
Kivva mengatakan perubahan tersebut membuat perhatian terhadap keamanan perangkat menjadi semakin penting. “Pertanyaan utamanya bukan lagi apa yang kita simpan, tetapi bagaimana kita melindunginya," ujarnya.
Risiko Kehilangan Data Semakin Besar
Menurut Kaspersky, meningkatnya jumlah data sensitif yang tersimpan di smartphone membuat dampak kehilangan perangkat atau serangan siber menjadi semakin besar. Karena itu, perusahaan keamanan siber tersebut mengimbau masyarakat tidak menjadikan ponsel sebagai satu-satunya tempat penyimpanan dokumen penting.
Pengguna juga disarankan menyimpan kata sandi dan dokumen penting di layanan penyimpanan yang lebih aman. Selain itu juga menggunakan perlindungan keamanan pada perangkat, serta rutin melakukan pencadangan data agar informasi tetap dapat dipulihkan apabila ponsel hilang atau dicuri.
Managing Director Kaspersky Asia Pasifik Adrian Hia menilai hubungan masyarakat dengan smartphone telah berubah secara mendasar. Menurutnya, perangkat tersebut kini menjadi tempat mengelola keuangan, pekerjaan, hingga aktivitas sehari-hari yang didukung AI.
"Keamanan siber seluler saat ini bukan lagi hanya tentang melindungi ponsel, ini juga tentang melindungi kehidupan digital yang kita bawa di saku kita setiap hari," ujarnya.
