Indonesia Berburu Cuan AI tetapi Terancam Berhenti di Level Bahan Mentah
Pemerintah tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar akal imitasi (AI), tetapi juga masuk ke rantai pasok industri melalui pengembangan infrastruktur, semikonduktor hingga hilirisasi mineral. Namun para analis menyoroti potensi Indonesia hanya mendapatkan nilai tambah yang minim jika hanya mengandalkan sumber daya alam.
Peluang ekonominya memang tidak kecil. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan US$ 99 miliar atau Rp 1.770,3 triliun (kurs Rp 17.992 per US$) pada tahun lalu, yang merujuk pada laporan Google, Temasek, dan Bain bertajuk eConomy SEA 2025.
Angka itu bahkan belum menghitung AI. Oleh karena itu, pemerintah ingin masuk ke sektor ini, terlebih lagi dengan banyaknya sumber daya alam seperti nikel, kobalt, timah, pasir silika hingga zinc sebagai modal untuk masuk ke rantai pasok industri AI dan semikonduktor.
Namun, ambisi itu dinilai menghadapi persoalan mendasar, yakni bukan ekspor bahan baku, melainkan pada proses lanjutan.
Head of Research Analis Korea Investment Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengatakan booming AI memang menciptakan permintaan baru terhadap silika. Silika atau SiO2 merupakan bahan baku dalam rantai panjang produksi silicon wafer.
Namun, naiknya permintaan itu tidak otomatis berbanding lurus dengan pertumbuhan industri AI. Sebab, nilai tambah terbesar justru berada pada proses pemurnian dan wafer fabrication, bukan ekstraksi pasir mentah.
Artinya, jika Indonesia hanya berperan sebagai pemasok pasir silika mentah, bagian nilai yang dapat ditangkap dari pertumbuhan industri AI global relatif kecil. “Booming AI bikin demand baru untuk silika, tetapi translation-nya tidak proportional 1:1,” kata Wafi kepada Katadata.co.id, Jumat (14/8).
Kondisi itu menjadi tantangan bagi ambisi Indonesia untuk masuk lebih dalam ke industri AI. Sebab, rantai pasok industri teknologi tidak berhenti pada sumber daya alam.
Menurut Ketua Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma, perusahaan silika Indonesia perlu bergerak dari resource company menjadi technology material company.
Perubahan tersebut dapat dilakukan melalui investasi teknologi, peningkatan kualitas pemrosesan, R&D, strategic partnership dengan pemain global serta kemampuan memenuhi standar dan konsistensi kualitas industri semikonduktor.
“Kalau itu berhasil dilakukan, Indonesia tidak hanya memiliki resources, tetapi bisa mulai mengambil bagian dari value chain yang nilainya jauh lebih tinggi,” katanya kepada Katadata.co.id.
Dengan demikian, rantai pasok yang dibutuhkan tidak berhenti pada pasir silika dan ekspor, melainkan sebagai berikut: Pasir silika → pemurnian → silicon-based materials → wafer → komponen → chip → AI infrastructure.
Tantangan Naik Kelas ke Industri Semikonduktor
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai booming AI memang dapat menjadi katalis struktural bagi komoditas silika Indonesia. Namun, efeknya terhadap emiten silika kemungkinan bersifat jangka menengah hingga panjang.
Ekspansi AI akan mendorong pembangunan data center, jaringan fiber optik, perangkat elektronik hingga industri semikonduktor. Seluruh ekosistem tersebut membutuhkan berbagai produk berbasis silika maupun silicon.
Namun, Nafan mengingatkan agar tidak langsung mengasumsikan setiap AI Factory akan menyerap pasir silika dalam volume besar. Kebutuhan terbesar baru muncul ketika Indonesia berhasil membangun rantai nilai semikonduktor.
“Pasir silika biasa tidak otomatis bisa digunakan untuk membuat wafer semikonduktor,” ujarnya kepada Katadata.co.id.
Industri semikonduktor membutuhkan material dengan tingkat kemurnian sangat tinggi dan spesifikasi impuritas yang ketat. Untuk mencapainya dibutuhkan teknologi pemurnian, fasilitas pengolahan, quality control, sertifikasi, investasi modal serta perjanjian pembelian dengan pengguna industri.
“Oleh karena itu, saya lebih melihat narasi hilirisasi sebagai faktor yang lebih penting daripada sekadar besarnya cadangan pasir silika,” katanya.
Pandangan tersebut juga disampaikan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama. Menurutnya, perusahaan yang paling berpeluang mendapatkan manfaat dari booming AI bukan sekadar perusahaan yang menjual bahan mentah, tetapi perusahaan yang mampu melakukan value-added processing.
“Untuk bisa masuk lebih dalam ke rantai pasok semikonduktor, tantangannya bukan hanya soal memiliki cadangan pasir silika, tetapi juga kemampuan melakukan pemurnian hingga mencapai spesifikasi dan tingkat kemurnian yang sangat tinggi,” kata Elandry.
Oleh karena itu, investor perlu melihat lebih jauh daripada sekadar cadangan mineral. Kapasitas produksi, fasilitas pengolahan, rencana ekspansi, kualitas produk serta kemampuan membangun hubungan dengan industri hilir menjadi faktor penting.
Indonesia memang memiliki modal berupa sumber daya. Akan tetapi, untuk mendapatkan nilai tambah lebih tinggi, rantainya harus bergerak dari pasir mentah menuju material yang dapat memenuhi kebutuhan industri semikonduktor.
Jika proses tersebut tidak terjadi, booming AI memang tetap dapat menciptakan permintaan baru terhadap silika dan berbagai material pendukung data center. Namun, bagian nilai yang ditangkap Indonesia berpotensi tetap berada pada level yang lebih rendah.
Sebaliknya, jika hilirisasi, teknologi pemrosesan, R&D, strategic partnership dan kemampuan memenuhi standar industri dapat dikembangkan, Indonesia berpeluang bergerak lebih dalam ke value chain AI.
