Bisnis Telko Makin Jenuh, Data Center Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Industri telekomunikasi Indonesia mulai memasuki fase matang setelah pertumbuhan bisnis konektivitas melambat. Di tengah kondisi ini, perusahaan telekomunikasi dinilai perlu mencari sumber pertumbuhan baru melalui pengembangan data center dan infrastruktur digital untuk menangkap peluang dari ledakan kecerdasan buatan (AI).
Dalam riset bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks, DBS Indonesia mencatat pertumbuhan sektor telekomunikasi Indonesia melambat dari sekitar 9% pada 2015 menjadi 7% pada kuartal I 2026.
Di sisi lain, meski trafik data terus meningkat, pertumbuhan rata-rata pendapatan per pengguna atau average revenue per user (ARPU) dan margin keuntungan perusahaan telekomunikasi dinilai masih tertinggal. Kondisi tersebut membuat nilai pertumbuhan industri semakin bergeser dari bisnis konektivitas menuju layanan teknologi bernilai tambah, seperti IT, cloud, dan hyperscaler.
Indonesia Head of Research DBS Indonesia William Simadiputra mengatakan, industri telekomunikasi saat ini tengah mengalami perubahan dari perusahaan telekomunikasi menjadi perusahaan teknologi atau tech-co. “From Telco to Tech-co, sebagai perusahaan teknologi,” kata dia dalam acara peluncuran riset di Jakarta, Kamis (20/8).
Menurutnya, selama dua dekade terakhir perkembangan industri telekomunikasi ditandai dengan perubahan teknologi dari 2G, 3G hingga 4G. Begitu juga dengan perluasan jaringan dari Jawa ke luar Jawa, serta pergeseran penggunaan layanan suara (voice) menuju data.
Namun, perkembangan tersebut mulai mencapai titik matang. Industri telekomunikasi juga tengah melakukan konsolidasi sehingga hanya tersisa tiga pemain utama di pasar. "Kedepannya, kalau kita lihat saat ini industri telko itu sedang melakukan konsolidasi. Only three players in the market,” kata William.
Data Center Jadi Mesin Uang Baru Operator Seluler
Dalam kondisi tersebut, William melihat data center dan infrastruktur digital sebagai salah satu peluang pertumbuhan berikutnya bagi perusahaan telekomunikasi.
“Yang mungkin jadi salah satu peluang pertumbuhan untuk sektor telekomunikasi adalah bagaimana mengembangkan yang pertama adalah data center dan infrastruktur digital,” ujarnya.
Menurut William, ekspansi ke pusat data merupakan kelanjutan dari perkembangan bisnis perusahaan telekomunikasi yang sebelumnya bertumpu pada konektivitas.
“Ini menjadi the next telco company expansion, dari konektivitas menuju pusat data,” katanya.
Peluang tersebut semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital dan AI di Indonesia. Dalam paparan DBS Indonesia, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar US$ 99 miliar atau Rp 1.766,5 triliun pada 2025. Selain itu, sekitar 79% pengguna telah familiar dengan AI.
Perkembangan AI diperkirakan mendorong kebutuhan terhadap layanan cloud, keamanan siber, Internet of Things (IoT), serta layanan enterprise. William mengatakan dorongan AI membuat kebutuhan pemrosesan data meningkat ke level baru.
Ia menilai pusat data akan menjadi salah satu infrastruktur utama untuk mengakselerasi penetrasi AI di Indonesia. “Data center platform ini menjadi salah satu tulang punggung jika Indonesia ingin success on current AI era,” katanya.
Kebutuhan Listrik Jadi Tantangan
Namun, pertumbuhan pusat data juga membawa tantangan besar dari sisi energi. DBS Indonesia mencatat konsumsi listrik Indonesia diproyeksikan meningkat drastis dari sekitar 300 TWh pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060.
Kenaikan tersebut antara lain akan didorong oleh kendaraan listrik, hilirisasi industri, AI dan data center, serta elektrifikasi memasak. William juga menyebut ekspansi pusat data Indonesia ke depan dapat membutuhkan tambahan kapasitas listrik sekitar 2.000 megawatt (MW).
Besarnya kebutuhan tersebut membuat pusat data harus bersaing dengan kebutuhan listrik sektor lain. “Data center di Indonesia memiliki penambahan misalnya 2.000 megawatt. Sedangkan untuk dari satu power plant yang saat ini tersedia 2.000 megawatt itu cenderung dapat memberikan kapasitas atau memberikan pasokan listrik untuk at least satu kabupaten,” ujarnya.
Menurut dia, Indonesia membutuhkan energy backbone yang kuat untuk menopang ekspansi pusat data sekaligus investasi hilirisasi industri.
Di sisi lain, kebutuhan energi pusat data juga semakin diarahkan pada sumber energi yang lebih rendah karbon. Dalam paparan DBS, sekitar 85% energi primer Indonesia masih berasal dari energi fosil, terdiri dari batu bara 40%, gas alam dan produk gas 16%, serta minyak dan produk minyak 29%. Sementara energi terbarukan baru sekitar 15%.
Padahal, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 GW, tetapi pemanfaatannya masih kurang dari 0,5% dari total potensi tersebut.
DBS menilai pengembangan energi ke depan tidak cukup hanya mengandalkan pembangkit energi terbarukan. Indonesia juga membutuhkan pengembangan baterai dan penyimpanan energi, transmisi dan modernisasi jaringan listrik, elektrifikasi industri, serta green data center dan infrastruktur digital.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi perusahaan pusat data maupun telekomunikasi untuk mengintegrasikan energi terbarukan dalam pengembangan infrastruktur digital.
Meski peluangnya besar, pengembangan green data center di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala.
Dalam paparan DBS, terdapat setidaknya tiga hambatan utama investasi green data center, yakni akses langsung terhadap listrik energi terbarukan yang masih terbatas, tingginya biaya awal untuk teknologi pendinginan yang efisien termasuk liquid cooling, serta proses perizinan yang melibatkan banyak lembaga dan membutuhkan waktu panjang.
DBS menilai perusahaan telekomunikasi perlu meningkatkan efisiensi bisnis konektivitas sekaligus menangkap peluang pertumbuhan di luar konektivitas. Sementara bagi investor data center dan infrastruktur digital, peluang investasi ke depan mencakup integrasi energi terbarukan dan pengembangan teknologi pendinginan yang lebih canggih.
