Dari Singapura ke Indonesia, Peta Data Center Asia Tenggara Bergeser

Rahayu Subekti
24 Agustus 2026, 13:36
data center, investasi, Indonesia, Asia Tenggara, Singapura
ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/YU
Foto udara pembangunan pusat data (data center) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (16/6/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Peta industri data center atau pusat data di Asia Tenggara mulai bergeser. Ketika Singapura merasionalisasi penambahan kapasitas data center dan Johor di Malaysia menghadapi tekanan pasokan listrik, Indonesia muncul sebagai salah satu tujuan limpahan ekspansi pusat data di kawasan.

BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya pada 21 Agustus 2026, menyebut Indonesia berpotensi menjadi third leg of regional data center spillover atau kaki ketiga limpahan pembangunan data center regional.

Kapasitas terpasang data center Indonesia tercatat sekitar 580 megawatt (MW) pada semester I 2026. Angka tersebut diproyeksikan melonjak.

“Riset pasar memproyeksikan kapasitas ini akan menjadi 3,5 gigawatt (GW) pada 2030, atau tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 56,7% sepanjang 2026-2030,” kata tim analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, dikutip Senin (24/8).

Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya kebutuhan infrastruktur komputasi awan (cloud computing) dan fasilitas yang memiliki kepadatan GPU tinggi untuk kebutuhan kecerdasan buatan alias AI. Pada saat yang sama, Singapura mulai merasionalisasi kapasitas baru melalui rezim DC-CFA, sedangkan Johor yang sebelumnya menjadi lokasi limpahan pertama dari Singapura mulai menghadapi keterbatasan listrik.

Indonesia Berpeluang Ambil Peran Lebih Besar

Perubahan tersebut membuat Indonesia memiliki peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai industri data center regional. Namun, peluang tersebut tidak tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.

BRI Danareksa mencatat Jakarta masih menjadi pusat utama data center Indonesia. Sekitar 55% kapasitas terpasang nasional masih berada di Jakarta.

Berikut pipeline data center Asia Tenggara pada semester I 2026 berdasarkan data Cushman & Wakefield yang dikutip dalam riset BRI Danareksa:

Singapura

  • Pasar utama: Singapura
  • Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 1.043 MW
  • Kapasitas dalam pembangunan (under construction/U/C): 20 MW
  • Kapasitas yang masih direncanakan: 237 MW

Malaysia

  • Pasar utama: Johor
  • Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 1.110 MW
  • Kapasitas dalam pembangunan: 602 MW
  • Kapasitas yang masih direncanakan: 3.088 MW

Indonesia

  • Pasar utama: Jakarta
  • Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 322 MW
  • Kapasitas dalam pembangunan: 395 MW
  • Kapasitas yang masih direncanakan: 1.699 MW

Thailand

  • Pasar utama: Bangkok
  • Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 134 MW
  • Kapasitas dalam pembangunan: 895 MW
  • Kapasitas yang masih direncanakan: 2.084 MW

Riset tersebut menyebutkan Jakarta lebih banyak ditopang permintaan domestik. Sementara itu, Batam diposisikan sebagai bagian dari limpahan data center regional, terutama karena kedekatannya dengan Singapura dan akses terhadap konektivitas kabel bawah laut.

Di Batam, 71% komposisi pasar data center merupakan hyperscale. Sebagian besar kapasitas tersebut dikembangkan oleh operator swasta dan asing. Beberapa pemain yang tercatat antara lain DayOne, BW Digital, Princeton Digital Group, Global Data Centre, dan Racks Central.

Bahkan, sejumlah proyek di Batam mulai diarahkan untuk memenuhi kebutuhan AI. DayOne, misalnya, memiliki rencana pembangunan fasilitas berkapasitas 450 MW di Kabil yang disebut berorientasi pada kebutuhan AI compute.

AI Ikut Mengubah Peta Pusat Data Asean

Perubahan kebutuhan industri juga menjadi faktor penting dalam pembangunan data center baru. Infrastruktur AI membutuhkan fasilitas dengan kepadatan komputasi yang lebih tinggi dibandingkan kebutuhan data center konvensional.

BRI Danareksa mencatat pasar Jakarta masih lebih banyak berorientasi pada cloud, meskipun semakin banyak operator mulai mengembangkan kapasitas yang siap digunakan untuk AI. Sementara di Batam, karakter hyperscale lebih kuat dan mulai semakin berorientasi pada AI.

Besarnya peluang tersebut juga terlihat dari komposisi pemain yang membangun kapasitas pusat data di Indonesia.

BRI Danareksa mencatat sejumlah pipeline terbesar berasal dari operator swasta dan asing memiliki rencana kapasitas sebagai beriut:

  • Princeton Digital: 360 MW
  • ST Telemedia: 322 MW
  • DayOne: 450 MW
  • EdgeConneX: 200 MW
  • GDC: 200 MW
  • DAMAC Digital: 163 MW
  • BW Digital: 120 MW
  • Racks Central: 95 MW

Di sisi perusahaan terbuka domestik, sejumlah emiten juga mulai membangun eksposur terhadap bisnis tersebut.

DCI Indonesia atau DCII, misalnya, telah memiliki 128 MW kapasitas IT yang beroperasi. Perusahaan juga memiliki opsi ekspansi besar melalui H3 Sky DC Park di Bintan yang memiliki kapasitas yang dapat dikembangkan lebih dari 1.000 MW. Lokasi tersebut dinilai strategis untuk menangkap permintaan limpahan dari Singapura.

Telkom melalui NeutraDC juga menargetkan peningkatan total kapasitas menjadi 300 MW pada 2030. Sementara Indosat memiliki eksposur melalui BDx Indonesia dan potensi investasi di Zankore, perusahaan AI neocloud yang dikembangkan bersama induk Ooredoo.

Dengan demikian, persaingan bisnis pusat data Indonesia ke depan tidak hanya terjadi antarperusahaan domestik. Indonesia juga menjadi arena bagi operator global yang ingin menangkap pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital di kawasan.

Meski prospeknya besar, pembangunan data center dalam skala tersebut menghadirkan tantangan tersendiri. Pipeline yang besar tidak otomatis berarti seluruh kapasitas akan segera beroperasi.

BRI Danareksa menilai industri data center Indonesia masih berada pada fase awal pertumbuhan dengan pipeline yang jauh lebih besar dibandingkan kapasitas yang sudah beroperasi.

Dalam kondisi tersebut, ketersediaan listrik yang telah diamankan serta skala operasi akan menjadi faktor penting yang membedakan pemain yang berhasil merealisasikan ekspansi dari mereka yang hanya memiliki rencana pembangunan.

Infrastruktur listrik, konektivitas, kemampuan membangun dalam skala besar, serta kesiapan fasilitas untuk kebutuhan AI akan menentukan seberapa besar Indonesia dapat mengambil manfaat dari perubahan tersebut.

 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...