Drone Emprit: Mas Botok Bukan Aktor Tunggal Narasi Demo 27 Agustus di Medsos

Rahayu Subekti
27 Agustus 2026, 14:30
demo 27 agustus, mas botok, drone emprit
Katadata
Demonstrasi warga Pati di depan Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (27/8).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nama Mas Botok menjadi salah satu figur yang menonjol dalam percakapan digital menjelang aksi demonstrasi 27 Agustus. Berdasarkan analisis Drone Emprit yang dibagikan pendiri, Ismail Fahmi, Mas Botok muncul sebagai salah satu key narrative carrier dalam perkembangan narasi aksi tersebut.

Namun, bukan berarti Mas Botok sebagai pengendali atau aktor tunggal di balik demonstrasi. Perannya lebih tepat disebut sebagai pembawa narasi yang berpengaruh dalam ekosistem percakapan di medsos menjelang aksi.

Ismail Fahmi menjelaskan, percakapan mengenai demonstrasi 27 Agustus tidak terbentuk secara tiba-tiba. Ekosistem isu telah berkembang sejak sekitar 16 Agustus dan kemudian semakin menguat menjelang hari aksi. Dalam proses tersebut, sejumlah figur, organisasi, isu, hashtag, dan lokasi saling terhubung.

Kata Kunci ‘Mas Botok’ Muncul Sejak 16 Agustus

Berdasarkan analisis tersebut, nama Mas Botok sudah muncul dalam percakapan sejak 16 Agustus dan bertahan hingga 25 Agustus. Ia disebut muncul lintas-platform dalam perkembangan narasi terkait aksi.

Posisinya dalam percakapan kemudian dikategorikan sebagai key narrative carrier, yakni figur yang membawa atau menyebarkan narasi tertentu dalam ekosistem percakapan digital.

Meski demikian, analisis Drone Emprit tidak menyebut Mas Botok sebagai satu-satunya penggerak aksi. Sebaliknya, perkembangan percakapan menunjukkan adanya pergantian dan perluasan aktor dari waktu ke waktu.

Pada fase awal, percakapan lebih banyak berangkat dari figur lokal. Setelah itu, narasi berkembang dengan melibatkan aktor politik nasional, aparat, hingga figur publik dan influencer.

Ismail Fahmi menggambarkan evolusi tersebut sebagai pergeseran dari figur lokal → politik nasional → aparat → figur publik/influencer.

Temuan itu menjadi penting karena narasi mengenai aksi 27 Agustus tidak menunjukkan pola gerakan yang dikendalikan oleh satu figur.

Sebaliknya, virality atau penyebaran percakapan terbentuk melalui keterlibatan berbagai aktor dan komunitas. Mas Botok merupakan salah satu figur yang menonjol dalam proses tersebut, tetapi bukan satu-satunya aktor yang muncul.

Analisis Drone Emprit menunjukkan kekuatan percakapan berkembang melalui konvergensi berbagai grievance, komunitas, aktor, dan platform, yang kemudian mengarah pada satu tanggal aksi dan lokasi tertentu.

Dengan kata lain, posisi Mas Botok lebih tepat dilihat sebagai salah satu simpul dalam jaringan narasi tersebut, bukan sebagai pusat tunggal mobilisasi.

Drone Emprit juga menemukan bahwa hashtag #Demo27Agustus bukanlah titik awal terbentuknya percakapan.

Sebelum hashtag tersebut menguat, sejumlah isu sudah lebih dahulu berkembang dan saling beririsan. Salah satunya adalah #ruuperampasanaset, yang muncul lebih awal dan kemudian berfungsi sebagai salah satu narrative bridge menuju percakapan aksi 27 Agustus.

Karena itu, munculnya hashtag aksi dapat dilihat sebagai bagian dari proses konsolidasi berbagai isu yang sebelumnya telah berkembang secara terpisah.

Analisis tersebut sekaligus membalik anggapan bahwa sebuah hashtag selalu menjadi pemicu utama viralitas. Dalam kasus ini, hashtag justru muncul setelah ekosistem isu mulai terbentuk dan kemudian menjadi payung bagi berbagai percakapan.

Dari Pati hingga DPR

Perkembangan lokasi percakapan juga menunjukkan perubahan seiring mendekatnya hari aksi.

Percakapan pada awalnya memiliki keterkaitan kuat dengan Pati dan Jawa Tengah, sebelum kemudian bergeser menuju Jakarta. Menjelang aksi, percakapan semakin terkonsentrasi pada Gedung DPR/Senayan sebagai lokasi yang berkaitan dengan demonstrasi.

Perubahan tersebut menunjukkan adanya perpindahan dari isu atau grievance yang lebih lokal menuju isu dengan sasaran dan konteks yang lebih nasional.

Dalam perkembangan itu, berbagai aktor kemudian masuk ke dalam percakapan, termasuk organisasi masyarakat, mahasiswa, institusi politik, aparat, media, dan figur publik.

Drone Emprit juga menemukan bahwa organisasi masyarakat lokal terlihat lebih dominan pada fase awal percakapan. Sementara itu, kelompok mahasiswa semakin terlihat pada fase pertengahan perkembangan narasi.

Pola tersebut kembali menunjukkan bahwa percakapan tidak bergerak dari satu kelompok secara linear. Aktor yang muncul dan tingkat keterlibatannya berubah mengikuti perkembangan isu.

Dalam konteks ini, Mas Botok menjadi salah satu figur yang bertahan cukup panjang dalam percakapan, yakni sejak 16 Agustus hingga 25 Agustus. Namun, keberadaannya berada dalam ekosistem yang lebih luas dan melibatkan banyak simpul percakapan.

Perkembangan narasi juga berlangsung lintas platform. Analisis Drone Emprit menemukan adanya pola cross-platform reinforcement, ketika percakapan di berbagai platform saling memperkuat.

Dengan demikian, penyebaran narasi tidak berjalan secara sederhana dari satu platform menuju platform lainnya. Hashtag yang digunakan kemudian menjadi semacam shared hashtag bagi sejumlah komunitas yang berbeda.

Media juga ikut menjadi bagian dari proses amplifikasi. Sejumlah media muncul sebagai amplifier yang menandai perpindahan percakapan dari community conversation menuju mediated public discourse.

Berdasarkan analisis yang dibagikan Ismail Fahmi, Mas Botok memang merupakan salah satu figur penting dalam pembentukan dan penyebaran narasi digital menjelang demo 27 Agustus. Ia muncul sejak 16 Agustus dan bertahan dalam percakapan hingga 25 Agustus serta dikategorikan sebagai key narrative carrier.

Namun, bukan berarti Mas Botok merupakan penggerak tunggal atau pengendali aksi demo.

“Dari sisi aktor, tidak ada satu tokoh tunggal yang mengendalikan percakapan. Figur lokal seperti Mas Botok, Teguh Istiyanto, Eki Pitung, dan lainnya muncul sejak fase awal. Mas Botok menonjol karena memiliki persistence tinggi dan berpindah lintas platform, sehingga dapat dipandang sebagai salah satu key narrative carrier,” demikian dikutip.

Sebaliknya, temuan Drone Emprit menggambarkan aksi 27 Agustus sebagai hasil konvergensi banyak isu, komunitas, aktor, organisasi, lokasi dan platform yang secara bertahap mengarah pada satu tanggal dan lokasi aksi.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...