Cara Kerja Teknologi OMC untuk Atasi Kebakaran Hutan: Satelit hingga Tabur Garam
Indonesia dan Malaysia sama-sama mengandalkan teknologi modifikasi cuaca untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap atau jerebu yang melanda kawasan Borneo. Namun, sasaran operasi keduanya berbeda.
Malaysia menggelar cloud seeding atau penyemaian awan di Sarawak untuk membantu mengurangi dampak kabut asap lintas batas sekaligus meningkatkan cadangan air. Sementara Indonesia menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) langsung di sejumlah wilayah Kalimantan sebagai bagian dari penanganan karhutla.
Mengutip Jurnal publikasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Paradigma Baru Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Karhutla, teknologi tersebut dikenal sebagai operasi modifikasi cuaca (OMC) atau cloud seeding. Meski sering disebut hujan buatan, teknologi ini sebenarnya tidak menciptakan hujan dari langit yang cerah.
OMC bekerja dengan memanfaatkan awan yang sudah memiliki potensi menghasilkan hujan, kemudian melakukan penyemaian untuk mengoptimalkan proses pembentukan hujan di dalam awan.
“Banyak negara di dunia melaksanakan program modifikasi cuaca untuk berbagai tujuan. Secara umum, teknologi modifikasi cuaca dilaksanakan untuk tujuan penambahan curah hujan guna mengatasi permasalahan krisis sumber daya air,” demikian tertulis dalam jurnal tersebut dikutip Selasa (8/9).
Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB menggunakan OMC sebagai salah satu instrumen penanganan karhutla. Pada 25 Agustus 2026misalnya, BNPB melakukan dua sorti OMC di Kalimantan Barat dengan menyebarkan dua ribu kilogram natrium klorida atau NaCl ke awan di wilayah Bengkayang, Landak, dan Sanggau.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan menyebut operasi tersebut dilakukan setelah teridentifikasi adanya potensi pertumbuhan awan. “Potensi pertumbuhan awan yang teridentifikasi memberikan peluang hujan dalam penanganan karhutla,” kata Berton dikutip dari situs resmi BNPB.
Secara sederhana, OMC membutuhkan tiga komponen utamayaitu awan potensial, bahan semai, dan pesawat. Awan menjadi faktor paling penting karena bahan semai tidak dapat bekerja tanpa media awan yang sesuai.
Dalam penilituan bertajuk Penelitian 'Pemanfaatan Skema Daytime Microphysics RGB Himawari 8 untuk Mendeteksi Awan Cumulus Potensial dalam Kegiatan Teknologi Modifikasi Cuaca', BRIN menyebut awan cumulus potensial merupakan salah satu target penyemaian dalam kegiatan teknologi modifikasi cuaca untuk menghasilkan hujan.
Dalam prosesnya, pesawat membawa bahan semai menuju awan yang telah ditentukan. Di Indonesia, salah satu bahan yang digunakan adalah NaCl atau garam.
Bahan tersebut bukan bahan pembuat hujan, melainkan partikel yang digunakan untuk memengaruhi proses mikrofisika awan. Dalam publikasi BRIN, penyemaian bahan higroskopis berukuran tertentu digunakan untuk meningkatkan efisiensi proses tumbukan dan penggabungan butir air di dalam awan hangat yang menjadi bagian penting dari proses hujan di wilayah tropis.
Sebelum pesawat melakukan penyemaian, kondisi atmosfer dan perkembangan awan harus dipantau.
Teknologi satelit bahkan digunakan untuk membantu mencari awan yang potensial. Penelitian BRIN dan BMKG mengenai satelit Himawari 8 menunjukkan skema daytime microphysics RGB dapat membantu mendeteksi kemunculan awan cumulus potensial.
Dalam penelitian tersebut, metode ini dapat mendeteksi awal kemunculan awan potensial sekitar satu hingga dua jam sebelum pesawat TMC mencapai lokasi awan. Data satelit tersebut dapat menjadi informasi pelengkap bagi data radar cuaca dalam menentukan lokasi penyemaian.
Dengan demikian, operasi hujan buatan bukan hanya soal pesawat dan bahan semai. Di belakangnya terdapat analisis meteorologi, pemantauan radar, satelit, arah angin dan perkembangan awan.
Hujan Tak Bisa Dipaksa
Lantas mengapa OMC tidak selalu berhasil menghasilkan hujan? Hal ini karena bergantung pada kondisi atmosfer.
Kajian BRIN menyebut angin yang kuat dan tidak adanya awan potensial merupakan sejumlah kendala dalam pelaksanaan modifikasi cuaca. Penentuan waktu, lokasi, jenis awan dan jumlah bahan semai juga menjadi bagian penting dalam operasi.
Dalam operasi karhutla yang berlangsung saat ini, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) juga menyebut penerbangan OMC ditentukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer, pertumbuhan awan potensial, arah dan kecepatan angin, persebaran titik panas serta kebutuhan pembasahan wilayah rawan karhutla.
Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan KLH/BPLH Dasrul Chaniago menjelaskan, pendekatan tersebut dilakukan untuk memastikan penyemaian awan diarahkan secara terukur ke wilayah yang memberikan dampak optimal terhadap penanggulangan kebakaran.
“OMC bukanlah upaya yang berdiri sendiri. Pelaksanaannya harus berjalan bersama dengan patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman darat, pembasahan gambut, pengelolaan tata air, pelibatan masyarakat, pengawasan badan usaha, dan penegakan hukum,” ujar Dasrul.
Teknologi yang sama juga digunakan Malaysia untuk menghadapi persoalan jerebu di Sarawak. Pada 24 Agustus 2026, Reuters melaporkan Indonesia memberikan izin resmi kepada lembaga Malaysia untuk memasuki wilayah udara Indonesia guna melakukan operasi cloud seeding.
Kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya kedua negara mengatasi kabut asap yang menyelimuti kawasan akibat kebakaran hutan dan lahan. Operasi tersebut menjadi penting karena jerebu dari kebakaran di Borneo berdampak langsung terhadap wilayah Sarawak.
Agensi Pengurusan Bencana Negara atau National Disaster Management Agency (NADMA) Malaysia mengungkapkan pada Jumat (4/9) indeks pencemaran udara di Serian, Sarawak mencapai 510 pada pukul 09.00 waktu setempat. Angka tersebut masuk kategori sangat berbahaya dan melewati ambang 500 yang menjadi level darurat di Malaysia.
Reuters pada hari yang sama melaporkan Malaysia kemudian menetapkan keadaan darurat di distrik Serian setelah indeks polusi mencapai 519. Operasi cloud seeding penyemaian awan juga dilakukan sebagai salah satu upaya menghadapi kondisi tersebut.
Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Hidup Malaysia Arthur Joseph Kurup dalam sebuah pernyataan menyatakan Langkah tersebut dilakukan dengan berkoordinasi Bersama militer Indonesia.
Dengan begitu, Indonesia memang melakukan OMC di Kalimantan. Malaysia juga melakukan cloud seeding atau penyemaian awan untuk menghadapi jerebu di Sarawak. Keduanya menggunakan teknologi modifikasi cuaca untuk menghadapi persoalan yang saling berkaitan di kawasan Borneo.
