AI Mulai Menggerus Upah Pekerja, Fresh Graduate Paling Rentan

Rahayu Subekti
14 September 2026, 11:17
ai, gaji,
Gemini AI, Katadata/Desy Setyowati
Robot melayani konsumen di bioskop yang tengah membeli popcorn
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perkembangan akal imitasi atau AI mulai menunjukkan dampaknya terhadap pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Bukan hanya dalam bentuk pemutusan hubungan kerja atau PHK, tetapi juga lambatnya kenaikan upah pekerja.

Pertumbuhan lapangan kerja AS memang melampaui ekspektasi pada Agustus 2026. Namun, pertumbuhan upah tertinggal dari inflasi terbaru.

Data pemerintah AS menunjukkan perlambatan pertumbuhan upah. Indeks Biaya Ketenagakerjaan atau Employment Cost Index dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) mencatat upah dan gaji riil turun 0,4% secara tahunan hingga Juni.

Di sisi lain, porsi tenaga kerja terhadap output atau pendapatan bisnis nonpertanian turun menjadi 52,8% pada kuartal II-2026. Angka tersebut merupakan level terendah dalam rangkaian data BLS sejak kuartal I-1947.

Sejumlah peneliti mengaitkan tren jangka panjang tersebut dengan otomatisasi yang telah berlangsung selama beberapa dekade, yang berpotensi dipercepat oleh AI.

Meski demikian, perlambatan upah tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan AI. Pertumbuhan upah pada era Covid-19 sebelumnya tergolong tidak biasa karena pasar tenaga kerja sangat ketat.

Selain itu, sektor dengan upah tinggi seperti teknologi dan jasa profesional mengalami pengurangan lapangan kerja. Sementara sektor berupah lebih rendah seperti perhotelan dan layanan kesehatan mencatat pertumbuhan tenaga kerja lebih besar.

Sebuah penelitian dari Kepala Ekonom Apollo Global Management Torsten Slok dan Sania Edlich memberikan indikasi bahwa AI mulai berperan dalam perlambatan pertumbuhan upah.

Penelitian itu menemukan pekerja pada jenis pekerjaan dengan tingkat keterpaparan tinggi terhadap AI mengalami pertumbuhan upah riil 6,7 poin persentase lebih lambat setelah 2023, dibandingkan pekerja pada pekerjaan dengan keterpaparan AI lebih rendah.

Namun, penelitian tersebut tidak menemukan dampak signifikan secara statistik terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja.

Ekonom senior Economic Policy Institute Ben Zipperer mengingatkan agar temuan tersebut tidak ditarik terlalu jauh. Menurutnya, AI memang dapat memengaruhi permintaan terhadap jenis pekerjaan tertentu dan memberikan tekanan terhadap upah, tetapi studi Apollo memiliki ukuran sampel yang terlalu kecil.

Ia juga menilai dampak AI terhadap pekerjaan tertentu dapat terlihat lebih buruk jika tidak memperhitungkan perpindahan dana ke sektor lain. "Hal itu membuat pekerjaan yang sangat terdampak AI tampak lebih buruk jika dibandingkan, padahal sebagian dari 'kerugian' yang terukur itu sebenarnya hanyalah peningkatan pendapatan bagi pekerja lain," kata Zipperer dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (13/9).

“Hal itu membuat pekerjaan yang sangat terdampak AI tampak lebih buruk jika dibandingkan, padahal sebagian dari 'kerugian' yang diukur itu sebenarnya hanyalah peningkatan pendapatan bagi pekerja lain,” kata Zipperer dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (13/9).

Pihak Apollo sendiri menyebut penelitian tersebut sebagai bukti awal. Studi itu hanya menggunakan 321 dari sekitar 800 kategori pekerjaan BLS, dan hanya 11 kategori yang memenuhi ambang tingkat paparan AI tinggi.

Fresh Graduate Jadi Kelompok Rentan

Ekonom MIT Daron Acemoglu mengatakan belum ada bukti meyakinkan mengenai dampak signifikan AI terhadap upah. Namun, ia melihat bukti yang semakin banyak mengenai dampaknya terhadap pekerjaan tingkat pemula.

"Pada akhirnya, mengingat pasar tenaga kerja AS relatif fleksibel dan memiliki jaring pengaman sosial yang cukup lemah, saya memperkirakan dampak terhadap upah akan lebih besar dibandingkan dampaknya terhadap lapangan kerja," ujar Acemoglu.

Analisis Dallas Federal Reserve juga menemukan pekerja muda dengan pengalaman lebih rendah berpotensi menghadapi tekanan upah lebih besar. Pada pekerjaan dengan experience premium rendah, AI dapat menggantikan pekerja pemula maupun pekerja berpengalaman karena pekerjaan tersebut relatif tidak membutuhkan banyak pengetahuan implisit.

Kondisi ini berpotensi mengganggu pola pengembangan karier pekerja kerah putih. Selama ini, lulusan baru memulai karier dari pekerjaan tingkat pemula, kemudian mengumpulkan pengalaman sebelum naik ke posisi yang membutuhkan keahlian lebih tinggi.

Dallas Fed memperingatkan bahwa AI dapat membuat model pengembangan karyawan tersebut tidak efisien. Khususnya dari sisi biaya bagi perusahaan, setidaknya dalam jangka pendek.

"Pada akhirnya, adopsi AI akan menuntut peninjauan kembali mengenai bagaimana karyawan tingkat pemula memperoleh pengalaman kerja," tulis peneliti Dallas Fed.

Sementara itu, Ekonom ketenagakerjaan MIT David Autor mengingatkan bahwa sekadar mengetahui suatu pekerjaan terpapar AI, tidak cukup untuk menentukan nasib profesi tersebut.

"Masalahnya adalah, mengetahui bahwa suatu pekerjaan terpapar AI tidak memberikan informasi apa pun mengenai nasib pekerjaan tersebut. Tidak memberi tahu apakah lapangan kerja akan bertambah atau berkurang, ataupun apakah upah akan naik atau turun," ujar Autor.

Penelitiannya menunjukkan bagaimana teknologi dapat menghasilkan dampak berbeda pada profesi yang sama-sama menghadapi otomatisasi. Upah staf administrasi akuntansi naik 39% dalam 40 tahun meski jumlah pekerjanya turun 32%. Sementara itu, upah petugas inventaris turun 13%, tetapi jumlah pekerjanya justru tumbuh 175%.

Karena itu, Acemoglu mendorong agar AI tidak hanya dikembangkan sebagai teknologi untuk menggantikan pekerja. "Hal terpenting adalah bahwa AI tidak harus menjadi teknologi otomatisasi murni," ujarnya.

Menurutnya, AI juga dapat menciptakan tugas dan keahlian baru bagi pekerja. Namun, hal tersebut membutuhkan investasi teknologi dan kebijakan yang mendukung agar manfaat AI tidak hanya datang melalui pengurangan biaya tenaga kerja.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...