Bukan Lagi Jual Pulsa dan Data, dari Mana Industri Telekomunikasi Cari Cuan?

Rahayu Subekti
15 September 2026, 18:12
telekomunikasi, DBS, ekonomi digital
Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Smartfren, Katadata/Desy Setyowati
Industri telekomunikasi Indonesia membidik mesin pertumbuhan baru dari bisnis layanan digital B2B.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Industri telekomunikasi Indonesia mulai memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun mengandalkan bisnis konektivitas seperti layanan suara, SMS, pulsa, dan paket data, operator kini menghadapi tantangan untuk mencari sumber pertumbuhan baru di tengah pasar yang semakin matang.

Riset DBS Indonesia bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia Industrial Landscape in Five Key Sectors – Opportunity and Risk yang dirilis pada Agustus 2026 mengungkapkan kemampuan operator telekomunikasi untuk menghasilkan tambahan laba dari layanan konektivitas tradisional semakin terbatas.

Kondisi tersebut tercermin dari perlambatan pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi Indonesia, dari 9,69% pada 2015 menjadi 7,14% pada kuartal I 2026. Di sisi lain, konsumsi data terus meningkat, tetapi margin laba industri menurun dan pendapatan rata-rata per pengguna atau average revenue per user (ARPU) cenderung stagnan.

Sementara itu, perlambatan industri konektivitas terjadi ketika ekonomi digital Indonesia justru terus berkembang. DBS mencatat nilai gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia mencapai US$ 99 miliar atau Rp 1.745,87 triliun pada 2025, setara sekitar 33% dari total GMV enam ekonomi terbesar Asia Tenggara.

Kondisi itu membuat operator telekomunikasi harus mencari cara untuk mengambil porsi yang lebih besar dari nilai ekonomi digital yang terus tumbuh.

Salah satu sumber pertumbuhan baru yang dibidik adalah bisnis business-to-business (B2B). DBS mencatat operator telekomunikasi global mulai berekspansi agresif ke layanan digital B2B seiring perusahaan tidak lagi hanya membutuhkan konektivitas, tetapi juga berbagai layanan digital untuk mendukung kegiatan operasional mereka.

"Seiring teknologi digital semakin terintegrasi ke dalam operasi bisnis, perusahaan tidak hanya memerlukan konektivitas, tetapi layanan digital," kata DBS dalam riset tersebut, dikutip Selasa (15/9).

Di Indonesia, sejumlah operator seperti Telkom Indonesia, Indosat, Biznet, dan XLSMART disebut telah meningkatkan investasi pada konektivitas perusahaan, layanan terkelola, komputasi cloud, keamanan siber, kecerdasan buatan (AI), hingga solusi Internet of Things (IoT).

Peralihan menuju pelanggan korporasi juga dinilai memiliki alasan bisnis yang kuat. DBS menyebut pelanggan perusahaan umumnya memberikan margin yang lebih tinggi, tingkat perpindahan pelanggan yang lebih rendah, serta membutuhkan solusi yang lebih terintegrasi dan disesuaikan. Selain itu, bisnis B2B membuka peluang kontrak jangka panjang yang tidak sekadar menjual konektivitas.

Dengan demikian, operator tidak lagi sekadar menjual kapasitas jaringan kepada perusahaan, tetapi berupaya menjadi penyedia solusi digital dari hulu hingga hilir.

Cloud, AI, hingga Keamanan Siber Jadi Bisnis Baru

Perubahan tersebut semakin didorong oleh pertumbuhan AI dan komputasi awan. DBS menilai peluang pertumbuhan masa depan industri telekomunikasi semakin berada pada layanan perusahaan, komputasi cloud, keamanan siber, aplikasi AI, dan infrastruktur digital.

AI bahkan disebut menjadi katalis bagi ekosistem digital yang lebih luas. Dalam riset tersebut, DBS mencatat 79% pengguna telah mengenal AI melalui berbagai saluran dan aplikasi, sedangkan pendapatan dari aplikasi berkemampuan AI tumbuh 127% secara tahunan.

Perkembangan itu menciptakan kebutuhan baru terhadap jaringan, komputasi, penyimpanan data, dan pusat data. Salah satu bisnis yang mendapat perhatian besar adalah pusat data.

DBS menyebut pusat data sebagai pusat baru penciptaan nilai digital. Pasalnya, meskipun jaringan telekomunikasi tetap menjadi tulang punggung ekspansi digital, sebagian besar nilai ekonomi digital semakin dinikmati perusahaan platform digital dan hyperscaler, bukan penyedia konektivitas.

Karena itu, operator didorong bergerak naik dalam rantai nilai dengan menyediakan solusi digital terintegrasi. "Pusat data menawarkan peluang strategis untuk memperoleh bagian yang lebih besar dari penciptaan nilai digital sekaligus mengurangi ketergantungan pada layanan konektivitas yang semakin terkomoditisasi," tulis DBS.

Bisnis pusat data juga dinilai cocok dengan aset yang telah dimiliki operator telekomunikasi, mulai dari jaringan, keahlian operasional, hingga hubungan dengan pelanggan bisnis.

Perkembangan AI semakin memperkuat peluang tersebut. Menurut DBS, aplikasi AI membutuhkan daya komputasi, kapasitas penyimpanan, dan kinerja jaringan yang jauh lebih besar dibandingkan layanan digital konvensional. Kondisi ini meningkatkan kebutuhan terhadap pusat data yang siap mendukung beban kerja AI.

Perubahan model bisnis tersebut pada akhirnya membawa industri telekomunikasi menuju konsep Telco menjadi TechCo.

DBS menilai transformasi ini bukan sekadar diversifikasi bisnis. Ketika konektivitas tradisional semakin menjadi komoditas, penciptaan nilai ke depan akan semakin bergantung pada kemampuan perusahaan memiliki, mengintegrasikan, dan mengorkestrasi ekosistem infrastruktur digital.

"Transisi dari Telco menuju TechCo bukan sekadar strategi diversifikasi, melainkan pendefinisian ulang secara mendasar mengenai cara nilai diciptakan dan diperoleh dalam ekonomi digital," kata DBS.

Strategi tersebut tidak berarti operator harus berhadapan langsung dengan perusahaan teknologi global atau hyperscaler. DBS justru menilai model kemitraan dapat menjadi strategi yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan.

Operator dapat memanfaatkan keunggulan yang sudah dimiliki, seperti infrastruktur lokal, pemahaman terhadap regulasi, hubungan dengan pelanggan perusahaan, serta keahlian operasional.

Perubahan sumber pendapatan tersebut juga berjalan beriringan dengan perubahan struktur aset operator.

DBS mencatat perusahaan telekomunikasi mulai menerapkan strategi asset-light dengan memisahkan atau mendivestasikan aset infrastruktur seperti menara dan jaringan serat optik kepada perusahaan infrastruktur khusus, sembari mempertahankan akses melalui perjanjian layanan jangka panjang.

Strategi tersebut memberikan fleksibilitas keuangan lebih besar dan memungkinkan operator mengalihkan modal ke bisnis dengan pertumbuhan lebih tinggi, termasuk layanan perusahaan, cloud computing, keamanan siber, AI, dan infrastruktur digital.

Dengan kata lain, aset dan bisnis lama tidak serta-merta ditinggalkan, tetapi dimanfaatkan untuk membiayai mesin pertumbuhan berikutnya. DBS menilai modal yang dilepaskan melalui monetisasi aset dapat dialihkan khususnya ke pusat data dan layanan digital perusahaan.

Arah baru industri telekomunikasi Indonesia bukan lagi soal siapa yang memiliki jaringan paling luas atau mampu menjual paket data paling murah. Persaingan bergeser ke siapa yang mampu mengambil bagian lebih besar dari nilai yang tercipta di balik pertumbuhan ekonomi digital.

"Penciptaan nilai di masa depan tidak akan terutama dinikmati oleh pihak yang sekadar menyediakan konektivitas, tetapi oleh pihak yang mampu membangun, membiayai, dan mengorkestrasi ekosistem infrastruktur digital," kata DBS dalam risetnya.

 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...