IDPRO: Pembangunan Data Center Harus Memperhatikan Aspek Lingkungan
Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) menilai pembangunan data center, termasuk yang direncanakan di kawasan Waduk Jatiluhur, perlu memperhatikan aspek keberlanjutan atau sustainability.
Ketua Umum IDPRO Hendra Suryakusuma mengatakan, kekhawatiran mengenai penggunaan air, kebutuhan listrik, emisi karbon, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat sekitar merupakan hal yang valid.
“Aspek-aspek tersebut harus menjadi bagian dari perencanaan, analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), serta pengelolaan operasional data center,” kata Hendra kepada Katadata, Selasa (29/9).
Meski demikian, Hendra mengingatkan agar pembahasan mengenai dampak lingkungan dilakukan secara proporsional dan berdasarkan data serta teknologi yang benar-benar digunakan oleh fasilitas tersebut.
Menurut dia, teknologi data center terus berkembang, termasuk dalam hal efisiensi energi, penggunaan air, sistem pendinginan atau cooling, pemanfaatan energi terbarukan dan rendah karbon, serta pengukuran dan pengurangan emisi.
Karena itu, penggunaan air dan energi pada setiap fasilitas data center tidak bisa disamaratakan. Penilaian terhadap dampak lingkungan perlu mempertimbangkan karakteristik dan teknologi yang diterapkan pada masing-masing proyek.
“Data center saat ini tidak bisa digeneralisasi seolah seluruhnya menggunakan teknologi cooling, sumber energi, atau konsumsi air yang sama,” ujarnya.
Sebagai informasi, operator pusat data asal Singapura, BDx Data Centers, telah memulai pembangunan kompleks pusat data berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berkapasitas 640 megawatt (MW) di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Hendra mengatakan, IDPRO telah menempatkan isu keberlanjutan sebagai salah satu agenda utama industri. Pada 2022, asosiasi tersebut menerbitkan Green Data Center White Paper bersama Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI).
Dokumen tersebut mendorong penerapan berbagai aspek pusat data ramah lingkungan, mulai dari efisiensi energi, pengelolaan lingkungan, pemanfaatan energi terbarukan, hingga pengelolaan emisi.
Komitmen tersebut, lanjut Hendra, akan diperkuat melalui rencana peluncuran Indonesia Sustainable Data Center Indexpada 2026. Indeks ini disiapkan untuk menyediakan kerangka pengukuran keberlanjutan data center yang mempertimbangkan karakteristik dan kondisi Indonesia.
“Kami ingin Indonesia memiliki framework yang lebih terukur untuk melihat sustainability sebuah data center sesuai dengan karakteristik dan kondisi Indonesia. Jadi pembicaraan mengenai sustainability tidak berhenti pada persepsi atau klaim, tetapi semakin berbasis indikator dan data yang dapat diukur,” katanya.
Khusus untuk proyek di Jatiluhur, Hendra menilai kajian proyek secara menyeluruh perlu dilihat terlebih dahulu sebelum menarik kesimpulan mengenai dampaknya terhadap lingkungan.
Dalam aspek penggunaan air, misalnya, sejumlah hal yang perlu diketahui mencakup kebutuhan air aktual, sumber air yang digunakan, teknologi pendinginan, tingkat efisiensi, serta pengelolaan air buangan.
Kajian juga perlu memastikan apakah penggunaan air untuk operasional data center berpotensi memengaruhi alokasi air bagi masyarakat dan sektor pertanian.
Sementara dari sisi kelistrikan, menurut Hendra, perlu ada kejelasan mengenai besaran kebutuhan energi, sumber pasokan listrik, efisiensi penggunaan energi, serta porsi energi rendah karbon atau energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan.
“Jadi IDPRO mendukung adanya transparansi dan kajian yang proper,” katanya.
Data center Bagi Ekonomi Digital
Di sisi lain, Hendra mengingatkan agar kekhawatiran terhadap dampak lingkungan tidak serta-merta membentuk persepsi bahwa pembangunan data center selalu berdampak buruk atau tidak memberikan manfaat yang sebanding.
Menurut dia, data center merupakan infrastruktur dasar bagi berbagai layanan digital, mulai dari komputasi awan (cloud), kecerdasan buatan (AI), layanan keuangan digital, perdagangan elektronik (e-commerce), telekomunikasi, hingga layanan pemerintahan digital.
“Investasinya juga menciptakan aktivitas ekonomi bukan hanya ketika data center sudah beroperasi, tetapi sejak tahap konstruksi, melalui kebutuhan engineering, mechanical-electrical, jaringan, security, maintenance, supply chain, hingga pengembangan tenaga kerja dengan keahlian teknis,” katanya.
Hendra menambahkan, pembangunan kapasitas data center dan komputasi AI di dalam negeri semakin strategis bagi Indonesia. Menurut dia, Indonesia perlu memiliki infrastruktur komputasi sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, sementara infrastrukturnya dibangun di negara lain.
“Karena itu, menurut IDPRO diskusinya sebaiknya bukan ‘data center versus lingkungan’. Yang harus kita dorong adalah bagaimana Indonesia bisa membangun data center dan infrastruktur AI yang besar, kompetitif, tetapi pada saat yang sama semakin sustainable,” ujar Hendra.
