Danantara Siapkan Industri Semikonduktor untuk Perkuat Ekosistem AI Indonesia

Desy Setyowati
26 Oktober 2026, 15:26
Danantara, semikonduktor,
ANTARA/HO-BPI Danantara
Chief Technology Officer Danantara Indonesia sekaligus Ketua DTIIF 2026 Sigit Puji Santosa (kedua dari kiri) menyampaikan keterangan di Jakarta.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia menyiapkan pengembangan industri semikonduktor untuk memperkuat ekosistem akal imitasi (AI) di Indonesia. Upaya ini menjadi bagian dari strategi Danantara untuk mendorong industrialisasi berbasis teknologi dan inovasi.

Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit Puji Santosa mengatakan, Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral yang besar untuk mendukung pengembangan industri material maju dan semikonduktor. Namun, Indonesia perlu meningkatkan kemampuan industri agar tidak hanya mengandalkan penjualan bahan mentah dan kegiatan perakitan.

"Kita harus meningkatkan kompleksitas industri," kata Sigit dalam paparannya pada acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10).

Menurut Sigit, struktur industri Indonesia masih banyak bertumpu pada sektor ekstraktif di hulu dan kegiatan perakitan di hilir. Indonesia perlu memperkuat industri pengolahan menengah serta mengembangkan kemampuan riset, desain, dan produksi untuk menciptakan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Ia mencontohkan, Indonesia memiliki sumber daya tembaga yang melimpah. Namun, industri pertahanan dalam negeri masih mengimpor tembaga dan kuningan untuk kebutuhan amunisi.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan industri pengolahan agar sumber daya alam Indonesia dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan industri nasional.

Danantara Siapkan Enam Sektor Semikonduktor

Sigit mengatakan, Danantara memiliki enam kelompok prioritas industri yang akan dikembangkan untuk meningkatkan daya saing Indonesia. Kelompok tersebut mencakup energi; pangan dan teknologi kesehatan; telekomunikasi dan mobilitas; pertahanan, maritim, dan kedirgantaraan; material terkini; serta sektor lain yang mendukung pengembangan industri.

Dalam pengembangan industri telekomunikasi dan mobilitas, Danantara akan memperkuat kemampuan manufaktur perangkat keras pusat data. Menurut Sigit, pengembangan industri pusat data di Indonesia selama ini masih banyak berfokus pada penyediaan infrastruktur dan lahan.

Ke depan, Danantara ingin memperluas pengembangan industri tersebut hingga mencakup peralatan dan manufaktur perangkat keras. "Kami juga akan membawa kembali produsen peralatan," ujar Sigit.

Danantara juga bekerja sama dengan mitra untuk membangun industri semikonduktor di Indonesia. Sigit menyebut terdapat enam sektor semikonduktor yang akan dikembangkan bersama Danantara, salah satunya adalah pengembangan pengendali dan cip untuk pusat data.

Pengembangan tersebut juga mencakup penguatan keamanan jaringan pita lebar untuk mendukung industri telekomunikasi.

Selain semikonduktor, Danantara menyiapkan sejumlah proyek infrastruktur digital, antara lain AI nasional yang berdaulat, komputasi awan atau sovereign cloud, pusat data berkapasitas satu gigawatt, serta perdagangan elektronik nasional.

Secara keseluruhan, Danantara memiliki lebih dari 40 proyek di enam kelompok industri strategis. Proyek-proyek tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan industri nasional sekaligus membuka peluang investasi dan kemitraan dengan pelaku usaha dalam negeri maupun mitra internasional.

Sigit mengatakan, pengembangan industri berbasis teknologi perlu didukung peningkatan kemampuan sumber daya manusia, riset dan pengembangan, serta sistem pembelajaran industri.

Menurut dia, Indonesia perlu bergerak melampaui kegiatan perakitan menuju penciptaan pengetahuan dan penguasaan teknologi. Dengan demikian, industri nasional dapat meningkatkan kompleksitas produk dan bersaing di pasar global.

Danantara juga menargetkan badan usaha milik negara yang berada dalam pengelolaannya memiliki daya saing global. Pada 2030, Indonesia diharapkan memiliki industri kelas dunia yang mampu bersaing di tingkat regional maupun internasional.

Sigit sebelumnya menyebut Indonesia memiliki sumber daya mineral dan pasar yang besar, baik di dalam negeri maupun di kawasan Asia Tenggara. "Kini kita ingin bangun talenta dan industrinya, dan inilah yang kami tawarkan kepada investor melalui peta jalan yang akan kami jabarkan bersama," kata Sigit, dikutip dari Antara.

DTIIF 2026 berlangsung pada 26-28 Oktober 2026 di Jakarta. Forum ini menjadi bagian dari upaya Danantara untuk menghubungkan inovasi, investasi global, dan peluang industrialisasi di Indonesia.

Melalui pengembangan industri berbasis teknologi dan inovasi, Danantara berharap dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya alam serta memperkuat kemampuan industri nasional. Sigit mengatakan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% atau lebih.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...