Malaysia Airlines hingga Singapore Airlines Kena Hack, Data Penumpang Bocor
Sejumlah maskapai penerbangan di Asia melaporkan kebocoran data imbas kejadian peretasan platform pemesanan tiket ( booking ) perjalanan asal Spanyol, Amadeus. Maskapai-maskapai yang sudah mengonfirmasi kebocoran data ini termasuk Singapore Airlines, Malaysia Airlines, Japan Airlines, Cathay Pacific Airways, All Nippon Airways, Korean Air, hingga Asiana Airlines.
Singapore Airlines melaporkan sebanyak 46.000 data pemesanan tiket penumpang bocor akibat insiden peretasan Amadeus. Data-data ini termasuk nama pemesan, kode booking, kelas maskapai, hingga jadwal perjalanan pelanggan.
Maskapai juga menduga data-data seperti alamat email, nomor telepon, dokumen perjalanan dan nomor keanggotaan program loyalitas KrisFlyer juga bocor. Sebagai langkah pencegahan, maskapai telah menghubungi pelanggan terdampak untuk mengubah kode pemesanan mereka untuk penerbangan selanjutnya.
“Perlindungan data pribadi pelanggan kami menjadi prioritas utama Singapore Airlines,” kata maskapai Singapore Airlines, dikutip dari CNA , Selasa (3/11).
Cathay Pacific Airways milik Hong Kong juga melaporkan setidaknya 53.000 data pemesanan tiket maskapainya bocor. Pada tanggal 23 Oktober, dua maskapai Korea Selatan yaitu Korean Air dan Asiana Airlines mengeluarkan pernyataan bahwa kedua maskapai juga ikut terdampak.
Asiana Airlines milik Korea Selatan menyebut mendapat notifikasi dari Amadeus terkait kejadian peretasan data pemesanan penerbangan pada Selasa (20/10). Baik Korean Air maupun Asiana Airlines tidak menawarkan berapa data pemesanan yang bocor, tetapi mengonfirmasi bahwa data yang bocor termasuk kode pemesanan pelanggan.
Dua maskapai utama Jepang, yaitu Japan Airlines dan All Nippon Airways juga masing-masing melaporkan kebocoran data hingga puluhan ribu data pemesanan. Setidaknya 92.000 data pemesanan tiket Japan Airlines bocor. Kebocoran data termasuk kode reservasi, nama pelanggan, tanggal penerbangan, kelas maskapai, bahkan sebagian nomor paspor pelanggan.
Sedangkan All Nippon Airways melaporkan setidaknya 37.800 data pemesanan pelanggan dalam periode 10 Agustus 2023 hingga 23 September 2026 telah bocor. Sebanyak 36.100 data pelanggan yang bocor termasuk nama pelanggan, kode booking, tanggal penerbangan, rute penerbangan, sampai kelas maskapai. Sisanya sebanyak 1.700 data pelanggan yang bocor bahkan termasuk email pelanggan, nomor telepon, nomor paspor, sampai nomor kursi pada maskapai.
"Penting untuk dicatat bahwa kejadian ini tidak melibatkan nomor kartu kredit ataupun kata sandi akun pelanggan. Kami menerima bahwa kredensial autentikasi informasi yang terdampak telah ditarik kembali, dan protokol pemantauan telah ditingkatkan secara signifikan," tulis All Nippon Airways pada situs resminya, Jumat (30/10).
Maskapai Malaysia Airlines juga melaporkan kejadian peretasan Amadeus berdampak pada informasi pemesanan perjalanan yang diproses dalam periode Agustus 2023 hingga September 2026. Meskipun maskapai tidak memiliki data apa pun yang bocor dan jumlah.
“Kami menangani masalah ini dengan sangat serius dan terus bekerja sama dengan Amadeus dan pihak terkait untuk menyelidiki dan menakar dampak kejadian ini,” tulis Malaysia Airlines dikutip dari situs resminya, Jumat (30/10).
Seluruh pihak pembawa terdampak ini memastikan bahwa peretasan tidak sampai pada sistem IT perusahaan. Selain itu, sejauh ini Amadeus menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti peretasan sampai mengakses data-data pembayaran pelanggan, seperti akun bank maupun informasi kartu kredit pelanggan.
“Meskipun penyelidikan kami masih terus berlanjut, kami dapat mengonfirmasi bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan adanya akses terhadap data pembayaran atau data keuangan,” tulis Amadeus dalam pernyataan resmi, Oktober lalu.
Insiden peretasan platform Amadeus diduga terjadi pada sekitar 20 Oktober 2026. Perusahaan mulai mendeteksi adanya aktivitas akses tanpa izin dan mulai mengirimkan pemberitahuan peringatan awal kepada maskapai pengguna layanan platform. Meski Amadeus belum secara resmi membuka penyebab peretasan, peretasan ini diduga memanfaatkan akses masuk salah satu akun di Amadeus dalam rentang waktu tiga tahun, dari Agustus 2023 hingga September 2026.
“Amadeus menerapkan langkah-langkah untuk memperbaiki kerentanan tersebut, serta meningkatkan kemampuan pemantauan dan deteksi,” tulis Amadeus.
