Rentetan Serangan Hacker Global: Kulkas, Bank Darah, Data Penumpang Pesawat
Serangan siber oleh hacker semakin meluas dan menyasar berbagai sektor di dunia. Peretasan tidak hanya membidik lembaga keuangan dan perusahaan teknologi, tetapi juga sistem pendingin supermarket, fasilitas penyimpanan darah, hingga platform pemesanan tiket pesawat.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah negara melaporkan insiden peretasan yang berdampak pada operasional perusahaan dan keamanan data masyarakat. Bahkan, beberapa serangan menyasar sistem yang berkaitan langsung dengan penyimpanan makanan dan produk darah.
Dikutip dari media ANSA, Asosiasi Keamanan Informasi Italia Clusit melaporkan serangan siber global mencapai rekor tertinggi pada semester I/2026, yakni 4.911 insiden. Jumlah ini melonjak 71% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laporan Clusit juga menyoroti tanda-tanda awal agent hacking, yakni serangan yang dilakukan agen kecerdasan buatan (AI) dengan tingkat otonomi yang semakin meningkat. Kelompok agen AI yang terkoordinasi diperkirakan dapat melancarkan serangan secara otomatis, menyesuaikan strategi, dan mengombinasikan berbagai teknik untuk mengeksploitasi kerentanan sistem organisasi.
Berikut rentetan serangan siber yang menyasar berbagai sektor di sejumlah negara.
Kulkas Supermarket di Eropa Diretas
Salah satu insiden terbaru menyasar sistem pendingin dan freezer di sejumlah supermarket Eropa pada awal November.
Peretasan yang terjadi pada Senin (2/11) menyebabkan suhu freezer di beberapa toko meningkat drastis, bahkan mencapai 50 derajat Celcius. Kondisi ini mengakibatkan makanan yang tersimpan di dalamnya rusak.
Sejumlah negara yang melaporkan terdampak insiden tersebut termasuk Belgia, Luksemburg, Swedia, Irlandia, Belanda, Estonia, hingga Finlandia.
Dikutip dari Deutsche Welle (DW), serangan siber juga menyasar sistem pendingin supermarket di Prancis dan Jerman pada Minggu (1/11) dan Senin (2/11). Insiden tersebut menyebabkan kerusakan stok makanan beku dalam jumlah besar.
Serangan ini bukan pertama kalinya terjadi. Pada Oktober, sejumlah supermarket di Prancis juga melaporkan serangan serupa yang menyebabkan kerugian akibat makanan yang harus dibuang.
Jaringan supermarket Belanda Ahold Delhaize memperkirakan serangan siber pada Oktober akan memangkas penjualan kuartalannya hingga €250 juta atau Rp 5 triliun.
CEO Ahold Delhaize Franz Muller mengatakan sebagian besar gangguan memang berhasil diatasi dalam waktu dua pekan. Namun, perusahaan masih melakukan pemulihan untuk mengembalikan operasional sepenuhnya ke kondisi normal.
Bank Darah Prancis Jadi Sasaran Hacker
Serangan siber juga menyasar sektor kesehatan. Kali ini, peretas menargetkan sistem pendingin fasilitas penyimpanan darah dan plasma di Prancis.
Dikutip dari DW, Badan Darah Prancis atau French Blood Establishment (EFS) mengungkapkan insiden keamanan siber yang menargetkan penyedia layanan pendingin pada Minggu (1/11) dan Senin (2/11).
Serangan tersebut memengaruhi sistem kendali di tiga lokasi penyimpanan plasma dan sampel darah. Peretas berupaya menaikkan suhu fasilitas penyimpanan hingga tingkat yang sangat tinggi.
Menurut laporan surat kabar mingguan Prancis Le Canard Enchaîné, suhu fasilitas pendingin bahkan diprogram mencapai 110 derajat Celsius, padahal seharusnya dipertahankan pada minus 30 derajat Celsius.
Namun, upaya tersebut berhasil digagalkan sebelum menimbulkan kerusakan. Sistem pemantauan dan alarm mendeteksi anomali sehingga petugas dapat segera mengambil tindakan.
EFS menyatakan plasma darah di lemari pendingin yang terdampak telah dipindahkan atau diamankan. Tidak ada produk darah yang hilang maupun dampak terhadap kesehatan masyarakat.
Distribusi produk darah juga tetap berjalan normal tanpa gangguan.
Badan keamanan siber Prancis dan Kementerian Kesehatan Prancis masih menyelidiki insiden tersebut. Hingga laporan DW diterbitkan pada Kamis (5/11), keduanya belum mengungkap pihak yang diduga bertanggung jawab atas serangan.
Sementara itu, akses jarak jauh ke lemari pendingin yang terdampak telah dinonaktifkan. Perusahaan penyedia peralatan pendingin, Coolworld, menyatakan kerentanan tersebut berkaitan dengan komponen yang disediakan pihak ketiga dan berada di luar kendali langsung perusahaan.
Data Penumpang Maskapai Asia Bocor Akibat Peretasan Amadeus
Sektor penerbangan juga tidak luput dari serangan siber. Sejumlah maskapai di Asia melaporkan kebocoran data pelanggan setelah platform pemesanan tiket perjalanan Amadeus mengalami insiden peretasan.
Maskapai yang mengonfirmasi kebocoran data antara lain Singapore Airlines, Malaysia Airlines, Japan Airlines, Cathay Pacific Airways, All Nippon Airways, hingga Asiana Airlines.
Insiden peretasan ini diperkirakan terjadi sekitar 20 Oktober.
Ratusan ribu data pemesanan penerbangan pelanggan dilaporkan bocor. Informasi yang terdampak mencakup kode penerbangan, jadwal penerbangan, kelas maskapai, hingga dalam sejumlah kasus data paspor pelanggan.
Namun, Amadeus menyatakan tidak menemukan bukti bahwa peretas mengakses informasi pembayaran pelanggan, seperti rekening bank maupun data kartu kredit.
Hingga saat ini, Amadeus belum mengungkap penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Binance Dibobol, Aset Kripto US$ 6,3 Miliar Dicuri
Sektor keuangan digital juga menghadapi serangan besar. Bursa kripto terbesar dunia, Binance, mengalami peretasan sistem keamanan yang berdampak pada pencurian aset senilai US$ 6,3 miliar pada Kamis (29/10).
Reuters menyebut pembobolan tersebut sebagai peretasan terbesar dalam sejarah, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan aset keuangan digital.
Sejumlah perusahaan analisis blockchain asal Amerika Serikat menduga kelompok peretas yang didukung Korea Utara berada di balik serangan tersebut. Namun, Korea Utara membantah tuduhan itu.
Setelah insiden terjadi, harga sejumlah mata uang kripto langsung jatuh. Binance juga menghentikan sementara penyetoran dan penarikan aset.
Serangan tersebut diduga hanya berlangsung sekitar 20 menit. Menurut Binance, peretas masuk ke laptop seorang pengembang perusahaan melalui wawancara kerja palsu dan sebuah alat AI internal.
Bank-bank Besar Korea Selatan Dibobol, 437.000 Data Nasabah Bocor
Peretasan juga menyasar sejumlah lembaga keuangan di Korea Selatan pada Oktober. Insiden ini menyebabkan kebocoran sekitar 437.000 data nasabah.
Mengutip kantor berita Yonhap, sejumlah bank besar yang terdampak termasuk Shinhan Bank, KB Kookmin Bank, Hana Bank, hingga Woori Bank.
Perdana Menteri Korea Selatan Han Seong-Sook menduga serangan tersebut melibatkan teknologi AI. Teknologi ini diduga meningkatkan efektivitas serangan phishing dan memperbesar dampak kebocoran data.
Sementara itu, firma keamanan siber Amerika Serikat CrowdStrike menduga pelaku serangan merupakan seorang pria berusia 26 tahun asal Guangdong, Cina.
Agen AI OpenAI Sempat Menyusup ke Portal Kesehatan Australia
Selain serangan yang menyasar lembaga keuangan dan infrastruktur fisik, agen AI juga dilaporkan melakukan aktivitas tanpa izin terhadap sistem pemerintah.
Pada September, OpenAI melaporkan kepada pemerintah Australia bahwa agen AI milik perusahaan tersebut menyusup ke portal kesehatan pemerintah sejak Juni dan mengakses sejumlah berkas tanpa izin.
Portal yang menjadi sasaran merupakan situs statistik medis pemerintah yang mengelola data kesehatan nonsensitif, termasuk informasi mengenai pelayanan belanja medis.
Mengutip CNN, kasus ini disebut sebagai peretasan pertama oleh agen AI terhadap situs pemerintah.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut tiga pemerintah lainnya berpotensi turut terdampak aktivitas agen AI OpenAI.
OpenAI mengakui model-model AI miliknya menelusuri dan memasuki sejumlah situs serta layanan pemerintah Australia ketika mengumpulkan data untuk mencari jawaban.
