7 dari 10 Rumah Tangga Indonesia Minum Air Terkontaminasi

7 dari 10 Rumah Tangga Indonesia mengonsumsi air minum yang terkontamiasi e-coli. Demikian hasil Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga di Indonesia.
Image title
Oleh Tim Publikasi Katadata - Tim Publikasi Katadata
1 April 2021, 12:44
Webinar Kemenkes
Katadata

Studi  tersebut dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan.

Kepala Puslibtang UKS Kementerian Kesehatan Doddy Izwardy mengatakan, studi yang dilakukan pada 2020 ini memperlihatkan, 31 persen rumah tangga di Indonesia mengonsumi air isi ulang, 15,9 persen dari sumur gali terlindungi dan 14,1 persen dari sumur bor/pompa.

“SKAMRT 2020 juga memperlihatkan bahwa akses air minum layak mencapai 93 persen di mana 97 persen ada di perkotaan dan 87 persen di pedesaan. Sedangkan akses air minum aman hanya 11,9 persen di mana 15 persen di perkotaan dan 8 persen di pedesaan. Akses air minum layak dan aman ini merupakan dua indikator yang berbeda,” jelas Doddy dalam diskusi virtual yang digelar Katadata, Kamis (1/4/2021).

Pelaksanaan Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) merupakan bentuk dukungan Kementerian Kesehatan untuk komitmen Indonesia untuk mencapai SDGs tujuan 6 dan RPJMN tahun 2030.

Doddy menambahkan, target penyediaan air minum berdasarkan RPJMN 2020-2024 dan SDG 2030  yaitu 100% akses  air minum layak dan 15% akses air minum aman dan 2030 harus mencapai air minum aman adalah 45%.

“Dalam rangka tindaklanjut pelaksanaan,  kita akan mengawal sampai seluruh kabupaten kota untuk dapat melaksanakan pemantauan kualitas air minum yang dikonsumsi RT adalah sudah kita pastikan aman. Penguatan survailans kualitas air minum di Rumah Tangga kita mentargetkan sd Tahun 2024 kami harapkan 50% Kabupaten/Kota telah siap untuk melaksanakan secara mandiri sebagai bagian dari kinerja pengawasan kualitas air minum sampai dengan pengelolaan hilir dalam hal ini adalah Rumah Tangga. Sehingga pada Tahun 2024 ditarget kan adalah 15 % air minum aman dapat kita lampaui,” jelasnya.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Vensya Sitohang mengatakan, akses air minum yang aman merupakan hak azasi manusia yang harus dipenuhi, dan pemenuhan kualitas air minum yang tidak aman sangat berkorelasi dengan tingginya kejadian penyakit infeksi khususnya, termasuk stunting yang selanjutnya berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

“Selaras dengan Tujuan Pembangunan RPJMN 2020 – 2024 dan Sustainable Development Goals (SDGs) target 6.1 pencapaian akses air minum yang aman pada tahun 2030 dan terjangkau untuk semua masyarakat Indonesia harus kita capai,” kata Vensya.

Vensya menambahkan, Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) tahun 2020 merupakan kegiatan Prioritas Nasional  sinergi antara Direktorat Kesling dan Badan Litbangkes serta Biro Pusat Statistik yang telah dilaksanakan di 34 provinsi dan 493 Kabupaten/Kota.

“Kami Ditjen Kesmas berkontribusi dalam persiapan yang sudah kita mulai dari tahun 2019, dari peralatan uji sanitarian kit yang terkalibrasi, penetapan parameter uji, dan pada tahun 2020 dukungan utama atas ketersediaan reagensia serta kesiapan tim daerah, Propinsi dan kabupaten/kota serta sanitarian dalam pengawalan pelaksanaan sesuai standar mulai tanggal 30 November hingga akhir Desember  2020,” jelasnya.

Menurut dia, hasil SKAMRT ini dapat digunakan sebagai baseline data kualitas air minum di rumah tangga Indonesia, untuk mendukung tugas semua institusi/pihak yang terlibat dalam melakukan program Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM). Sebagai tindak lanjutnya akan dilaksanakan Surveilans Kualitas Air Minum rumah tangga yang akan dilaksanakan setiap tahunnya sebagai baseline data kualitas air minum di Kabupaten/Kota.

“Diseminasi hasil ini akan diserahkan ke Bapenas untuk dapat ditindaklanjtui dalam kebijakan dan percepatan capaian tujuan Program Air Minum baik pusat daerah dan seluruh pelaku pelaksana penyelenggara air minum, mitra dan masyarakat sehingga mendapatkan hasil yang membawa manfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia,” tambah Vensya.

Technical Officer, Joint Monitoring Programme (JMP) – WHO, Rick Johnston memuji Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga 2020 yang dilakukan oleh Kementerian Indonesia. Menurut dia, studi yang dilakukan oleh Kemenkes ini merupakan yang terbesar di dunia.

“Biasanya survei yang didukung JMP melibatkan pengujian kualitas air di beberapa ribu rumah tangga. Kami baru-baru ini bekerja dengan Nigeria dalam survei terhadap 10.000 rumah tangga. Tetapi SKAM-RT lebih dari dua kali lipat ukurannya, dan dengan lebih dari 20.000 rumah tangga yang dinilai, saya yakin ini adalah survei kualitas air minum nasional terbesar yang pernah dilakukan, di mana pun. Tim JMP sekarang sedang mempersiapkan laporan kemajuan tahun 2021, yang akan keluar musim panas ini, dan saya ingin memasukkan dalam laporan cerita tentang SKAMRT, yang akan mengarah pada baseline SDG pertama untuk layanan air minum yang dikelola dengan aman di Indonesia,” ujarnya.

Johnston mengaku terkesan dengan komitmen yang telah ditunjukkan oleh Pemerintah Indonesia, untuk menanggapi secara serius tantangan pemantauan air, sanitasi dan kebersihan dalam konteks SDGs untuk mengidentifikasi dan mengisi kesenjangan data dan menerapkan langkah-langkah untuk meningkatkan layanan air dan sanitasi jika diperlukan.

“Tidak seorang pun boleh meremehkan skala tantangan yang telah diatasi agar berhasil melaksanakan survei kualitas air minum SKAM-RT. Selama hampir sepuluh tahun, JMP telah bekerja sama dengan badan statistik nasional di seluruh dunia untuk mengembangkan dan menyempurnakan alat dan metode pengukuran kualitas air minum di lapangan, serta melatih tim lapangan untuk melakukan pengujian ini. Sejauh ini kami telah mendukung lebih dari 30 negara untuk jenis penilaian ini, dan kami dengan senang hati memberikan dukungan teknis kepada Indonesia untuk survei tahun 2020. Namun SKAM-RT melampaui survei lain yang kami dukung, dalam beberapa hal,” tegasnya.

Johnston juga memuji Pemerintah Indonesia yang memiliki keberanian dan integritas untuk meluncurkan  laporan ini, meskipun beberapa temuan bukanlah kabar baik.

“Kami mengetahui bahwa puluhan juta  orang di Indonesia mengakses air minum yang tidak aman untuk diminum. Di beberapa negara, setelah survei seperti ini selesai, butuh waktu bertahun-tahun agar hasilnya dipublikasikan. Dan dalam beberapa kasus, hasilnya tidak pernah dibagikan sama sekali,” ujarnya.

Menurut dia, ada dua tindakan terpenting yang dapat diambil suatu negara untuk meningkatkan kualitas air minum adalah menerapkan pendekatan manajemen risiko seperti Rencana Pengamanan Air Minum (Water Safety Plan), dan memperkuat kapasitas pengawasan kualitas air. Seiring dengan perkembangan regulasi kualitas air minum, Rencana Pengamanan Air Minum dan pengawasan kualitas air minum menjadi elemen rekomendasi utama WHO untuk keamanan air minum dalam Panduan Kualitas Air Minum.

Editor: Doddy Rosadi
Video Pilihan

Artikel Terkait