Kopi Gayo Show
Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency
Donang Wahyu
Oleh Donang Wahyu
27 Desember 2017, 15:47

Panen Raya Kopi Arabika Gayo

Kopi sudah menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat di Kampung Gunung Rawe, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Nama Kopi Gayo terus mendunia, namun perlu banyak upaya agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kopi Gayo terkenal sebagai salah satu kopi terbaik dunia. Di budidayakan menggunakan pupuk organik dan digerakkan oleh masyarakat lokal, dengan rata-rata kepemilikan lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 hektare saja.

Bupati Aceh Tengah Nasarudin mengatakan, pihaknya berusaha mempertahankan kepemilikan dan skala bisnis Kopi Gayo. Pemerintah tidak mengizinkan perkebunan swasta membuka atau membeli lahan kopi.

Kopi Gayo kini diekspor ke paling tidak 18 negara, hanya sebagian kecil sekitar 20 persen yang diserap pasar lokal.

Perkebunannya terhampar luar di tiga kabupaten, yaitu Bener Meriah, Aceh Tengah dan Aceh Lues dengan luas sekitar 120.000 hektare. Di Aceh Tengah, luas perkebunan kopi sekitar 48.000 hektare yang merupakan tempat gantungan hidup dari 35.000 warga.

Meski sangat luas, perkebunan Kopi Gayo menghadapi masalah produktivitas lahan, yakni hanya menghasilkan sekitar 750 kilogram kopi per hektar. Jauh di bawah perkebunan kopi di Amerika Tengah dan Vietnam yang sudah mencapai 1 ton.

Pemerintah berencana membentuk kawasan ekonomi khusus Gayo-Alas untuk mengembangkan perekonomian berbasis kopi, industri kreatif dan pariwisata di kawasan tersebut.

Editor: Donang Wahyu