Marak E-Commerce, Permintaan Ruang Mal Terus Turun

Ruang kosong di pusat perbelanjaan mencapai 10%-20% dalam dua tahun terakhir.
Image title
Oleh Ekarina
20 Desember 2018, 11:41
Pertumbuhan ruang mall
Katadata/ Agung Samosir
Suasana lengang pertokoan yang masih belum buka di Kemang Village Mall, Jakarta Selatan, \Jumat (25/1). Menurut data Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), pertumbuhan jumlah mal di Jakarta saat ini masih tetap tinggi, terhitung yang sudah beroperasi mencapai 73 mall.

Maraknya perdagangan elektronik (e-commerce) dalam beberapa tahun terakhir ini memberikan dampak terhadap  turunnya permintaan ruang mal terus turun beberapa tahun terakhir hingga beberapa waktu ke depan.  Ini sekaligus menunjukan, retail konvensional menjadi kurang diminati, tergusur oleh fenomena e-commerce.

"Kalau ada pemilik mal atau pusat belanja di Jakarta yang menyebut e-commerce bukan ancaman, namun data menunjukkan sebaliknya ruang kosong mencapai 10%-20% dalam dua tahun terakhir," kata Pengamat Properti Anton  Sitorus di Jakarta, Kamis (20/12).

(Baca: Empat Alasan Indonesia Menarik untuk Bisnis E-Commerce)

Anton yang juga menjabat sebagai Kepala Riset dan Konsultasi Savills Indonesia juga mengatakan ruang kosong di mal dan pusat belanja juga dapat dilihat langsung oleh pengunjung dengan telihat banyaknya penyewa yang menutup tokonya dengan alasan melakukan renovasi atau pembenahan barang dagangan.

Advertisement

Padahal, ruang mal dan pusat belanja dalam beberapa tahun terakhir ini belum ada penambahan. Menurutnya penambahan ruang mall hanya akan  ada satu yang akan masuk yakni SOHO Pancoran.

Adapun fenomena e-commerce ini mulai dirasakan terutama untuk produk baju dan aksesoris apalagi e-commerce saat ini gencar berpromosi. Dengan demikian, hal tersebut menurutnya akan berdampak langsung terhadap pengelola departemen store. Sehingga mereka perlu merubah format dan barang dagangan agar dapat bertahan.

"Kalau melihat kondisi sekarang banyak konsep departemen store yang ditinggalkan disamping penataan barang dagangannya kurang menarik, kenyamanan kurang karena koridornya sempit, serta harganya juga tidak murah," ujar dia.

(Baca: 300 E-Commerce Targetkan Transaksi Harbolnas 2018 Capai Rp 7 Triliun)

Karenanya, pemilik mal harus segera mengubah konsep untuk mempertahankan tenant selain dengan cara mendesain kembali juga dengan menerapkan insentif khusus pada harga sewa.

Selain itu, sulitnya perizinan di mal juga dinilai telah membuat sejumlah pengembang melakukan inovasi melalui konsep podium. "Kalau selama ini kita kenal mal sebagai bagian dari komplek super blok yang di dalamnya terdapat kantor, hotel, dan hunian. Maka kini dikenal podium dalam artian yang dibangun hanya perkantoran atau hunian saja, tetapi di dalamnya terdapat mal," ujar Anton.

Namun, dia melihat potensi kehadiran mal ini ke depannya masih sangat besar terutama untuk menarik pariwisata.  Salah satu negara yang telah berhasil menerapkan konsep ini adalah Singapura.  Sementara jika dibanding Malaysia dan Thailand, ruang mal di Indonesia masih tertinggal.

"Mungkin bisa dicontoh Thailand yang mengkombinasikan mal dengan wisawatan dengan memanfaatkan areal hijau sehingga pengunjung merasa nyaman," ujarnya.

Kehadiran mal terutama di Jakarta masih sangat penting bagi warga untuk dapat berinteraksi dan mendapatkan hiburan.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait