Marak Klaim Obat Corona, Jubir Satgas Imbau Warga Tak Asal Konsumsi

Masyarakat harus terlebih dahulu mengecek produk ramuan herbal tersebut di daftar Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) atau Kementerian Kesehatan.
Dimas Jarot Bayu
3 Agustus 2020, 18:40
Marak Klaim Obat Corona, Jubir Satgas Imbau Warga Tak Asal Konsumsi.
ANTARA FOTO/Moch Asim
Peneliti dari Professor Nidom Foundation (PNF) menunjukkan cairan struktur pernafasan (respirasi) kelelawar asal Kepulauan Riau di Surabaya, Jawa Timur, Senin (10/2/2020). Penelitian respirasi kelelawar tersebut untuk memastikan apakah di dalamnya terdapat virus corona 2019-n CoV dan kemungkinan untuk dibuatkan vaksin pada tahapan proses penelitian berikutnya.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengingatkan masyarakat tidak asal mengonsumsi ramuan herbal untuk mengatasi virus corona. Pernyataan itu ia disampaikan menanggapi maraknya klaim sejumlah pihak terkait penemuan obat herbal untuk menangani virus corona, seperti yang diungkap salah seorang pria bernama Hadi Pranoto.

Wiku menyatakan, masyarakat harus terlebih dahulu mengecek produk ramuan herbal tersebut di daftar Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) atau Kementerian Kesehatan.

“Apabila ramuan herbal tersebut masih dalam tahap penelitian dan belum ada bukti ilmiah tentang keamanan dan efektivitasnya, maka tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Wiku kepada Katadata.co.id, Senin (3/8).

Dia juga mengimbau, bagi masyarakat yang memiliki keluhan sakit agar segera menyerahkan pengobatannya pada para dokter dan tenaga ahli di rumah sakit.

Di samping itu, masyarat diimbau tetap mengutamakan penerapan protokol kesehatan secara disiplin, baik oleh individu maupun kolektif. Sebab, hal tersebut merupakan cara paling efektif dalam mencegah masyarakat tertular corona.

Terkait sosok Hadi, Wiku meminta masyarakat terlebih dulu menelusuri rekam jejaknya. Dia pun ingin masyarakat tak cepat percaya pada isu yang beredar bahwa Hadi seorang profesor dan peneliti seperti yang beredar saat ini.

Masyarakat juga diharapkan tak terlalu cepat membagi informasi yang masih diragukan kebenarannya. "Silakan check dan recheck pada sumber yang benar dan ahlinya," kata dia.

Lebih lanjut, dia pun berharap publik figur dan tokoh masyarakat agar selalu berhati-hati terhadap sumber berita atau referensi sebelum menyebarkannya kepada publik. Menurutnya, figur publik dan tokoh masyarakat tak boleh menimbulkan kegaduhan karena bisa menyebarkan berita bohong terkait corona.

"Mari kita jaga ketenangan masyarakat yang sedang bersama-sama dan bersatu menghadapi Covid-19," kata Wiku.

Sebagai informasi, nama Hadi Pranoto ramai diperbincangkan masyarakat setelah diwawancarai oleh  musisi Erdian Aji Prihartanto atau Anji. Dalam wawancara tersebut, Hadi mengklaim dirinya sebagai sekaligus Kepala Tim Riset Formula Antibodi Covid-19. Dia juga mengaku memiliki gelar profesor sekaligus lulusan S3 bidang mikrobiologi di Institut Pertanian Bogor.

Berdasarkan penelusuran Katadata.co.id di laman Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kemendikbud, ada satu orang bernama Hadi Pranoto  bergelar akademik doktor lulusan S3 di IPB.

Hanya saja, Hadi yang tercantum di website Dikti ini merupakan lulusan S3 IPB  jurusan agronomi dan hortikultura. Saat ini, ia juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Mulawarman dan merupakan sosok yang berbeda dengan Hadi Pranoto yang sedang viral.

Hadi yang tengah viral ini sebelumnya mengklaim menemukan obat herbal antibodi yang mampu menyembuhkan corona dalam 2-3 hari tanpa efek samping. Menurutnya, obat tersebut telah didistribusikan ke Jawa, Bali, dan Kalimantan.

Selain itu, dia juga mengklaim telah memberikan obatnya tersebut kepada ribuan pasien yang dirawat di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Padahal, obatnya belum terdaftar di BPOM maupun Kementerian Kesehatan.

Pasien positif Covid-19 bertambah 1.679 orang per 3 Agustus 2020. Total Kasus mencapai 113.134 dengan 70.237 pasien dinyatakan sembuh dan 5.302 orang meninggal dunia.

Sementara itu, pemerintah mencatat orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 77.572 dan pasien dalam pengawasan sebanyak 0 orang. Kasus tertinggi Covid-19 tersebar di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.   

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Ekarina

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait