Kemenhut Genjot FOLU Net Sink 2030, Kontribusi 60% Target Penurunan Emisi

Tia Dwitiani Komalasari
16 Mei 2025, 16:31
Foto udara kawasan hutan mangrove di Iboih, Kota Sabang, Aceh, Rabu (14/5/2025). Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 594 tahun 2025 tentang Peta Mangrove Nasional 2024 mencatat Aceh memiliki luas potensi habitat mangrove 28.918 hektare atau seki
ANTARA FOTO/Khalis Surry/wpa.
Foto udara kawasan hutan mangrove di Iboih, Kota Sabang, Aceh, Rabu (14/5/2025). Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 594 tahun 2025 tentang Peta Mangrove Nasional 2024 mencatat Aceh memiliki luas potensi habitat mangrove 28.918 hektare atau sekitar 3,75 persen dari total potensi habitat mangrove di Indonesia yakni seluas 769.824 hektare.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus menggenjot upaya pengelolaan hutan untuk mencapai FOLU Net Sink 2030 termasuk menerjemahkannya dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk implementasi di tapak.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenhut, Mahfudz, menyampaikan Indonesia ingin mencapai kondisi serapan karbon sama atau lebih besar dibandingkan emisi di sektor kehutanan dan penggunaan lahan (Forestry and other land use/FOLU Net Sink) untuk dapat dicapai pada 2030.

"Kita terus melakukan langkah-langkah di dalam program-program yang tentu kita terjemahkan di dalam RPJMN yang selalu di-update lima tahun, sekarang 2024-2029," katanya dalam acara Journalist Workshop on Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 di Jakarta, Jumat  (16/5).

Langkah itu diperlukan mengingat sektor kehutanan menjadi penyumbang terbesar target pengurangan emisi gas rumah kaca Indonesia yang tertuang di dalam dokumen iklim Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC).

Sektor FOLU diproyeksikan akan berkontribusi hampir 60 persen dari total target penurunan emisi atau mencapai -140 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) pada 2030.

Mahfudz mengatakan Kemenhut saat ini tengah fokus dalam pengurangan emisi dari deforestasi, menekan dekomposisi gambut dan kebakaran hutan, praktik pengelolaan hutan lestari, restorasi hutan, optimalisasi pemanfaatan lahan, dan pencegahan konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian.

Dia memberikan contoh dalam pengelolaan hutan lestari ditekankan keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga hutan dan memanfaatkannya secara berkelanjutan.

"Jadi bagaimana peran hutan adat misalnya, peran kearifan lokal dalam menjaga hutan. Ini penting," jelasnya.

Menurut data Kememhut, luas lahan berhutan di Indonesia pada 2024 mencapai 95,5 juta hektare, atau 51,1 persen dari total daratan. Dari angka tersebut, sekitar 91,9 persen berada di dalam kawasan hutan.

Sementara itu, angka deforestasi netto pada 2024 mencapai sebesar 175,4 ribu hektare. Angka itu diperoleh dari deforestasi bruto sebesar 216,2 ribu hektare dikurangi reforestasi yang mencapai 40,8 ribu hektare.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...