Tangani Krisis Air, Siprus Terima Sumbangan Alat Desalinasi dari UEA
Siprus menerima 13 unit desalinasi bergerak dari Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA). Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu negara tersebut mengatasi kelangkaan air bersih menjelang musim turis yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.
Siprus memiliki empat fasilitas desalinasi dengan total kapasitas produksi air harian sebanyak 220 ribu meter kubik.
Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) memberikan dukungan 14 unit desalinasi bergerak di bawah kesepakatan bilateral. Dengan tambahan unit desalinasi ini, produksi air di Siprus akan bertambah sebanyak 15 ribu meter kubik per hari.
Menteri Pertanian Siprus Maria Panayiotou mengatakan meskipun unit desalinasi bergerak merupakan tambahan yang berharga dalam mengatasi krisis air, situasinya tetap menantang.
"Ini tidak seharusnya membuat kita berpuas diri. Masyarakat harus tetap menggunakan air dengan hemat," ujar Panayiotou seperti dikutip Reuters, Senin (26/5). Ia berterima kasih kepada UEA karena telah mengirimkan unit-unit tersebut dalam hitungan minggu.
Meskipun Siprus memiliki jaringan waduk yang luas, negara ini semakin bergantung pada desalinasi dalam beberapa dekade terakhir untuk mengimbangi penurunan curah hujan.
Hingga Senin (26/5), data resmi pemerintah menunjukkan 18 waduk terbesar di negara itu hanya terisi 21,7%.
Pada Maret lalu, Yianna Economidou, seorang insinyur senior di Departemen Pengembangan Air (WDD), mencatat cadangan air di bendungan hanya mencapai 25% dari kapasitasnya, menurun tajam dari 47% pada tahun lalu.
“Aliran air masuk tahun ini hanya mencapai 16 juta meter kubik, menjadikannya tahun terburuk ketiga dalam catatan,” kata Economidou kepada Diaspora News. “Dan berdasarkan prakiraan, kemungkinan curah hujan yang cukup untuk mengubah situasi ini sangat rendah.”
Desalinasi Tak Cukup untuk Penuhi Kebutuhan
Siprus mengandalkan lima pabrik desalinasi untuk memenuhi kebutuhan airnya, tetapi dengan tidak berfungsinya fasilitas Paphos, empat pabrik lainnya hanya dapat menyediakan 70% dari pasokan yang dibutuhkan.
Untuk membantu menutup kesenjangan tersebut, para pejabat mengeksplorasi solusi alternatif, termasuk memanfaatkan sumur bor di Asprokremmos, yang dapat memasok 10.000 meter kubik air tambahan per hari.
Meskipun pihak berwenang berusaha menghindari impor air dari Yunani, Economidou mengatakan, tidak ada yang tidak mungkin terjadi jika kondisinya memburuk.
Petani Menghadapi Penurunan Pasokan Air sebesar 37%
Dengan cadangan air yang semakin menipis, pemerintah memprioritaskan pasokan air untuk rumah tangga dan peternakan daripada pertanian, sejalan dengan pedoman Komisi Eropa. Pada 3 Januari 2025, Dewan Menteri menyetujui 32,5 juta meter kubik air untuk irigasi, 37% lebih sedikit dari tahun 2024.
Dengan tidak adanya curah hujan yang besar dan bulan-bulan musim panas yang akan datang, Siprus menghadapi perjuangan berat untuk mengelola pasokan air yang terbatas. Hal ini dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi penduduk dan sektor pertanian.
