Menhut Sebut Hanya 22 Kantong Ekosistem Gajah Sumatera Tersisa
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyebut saat ini kantong ekosistem gajah Sumatera di Indonesia hanya tersisa 22 wilayah. Jumlah ini menyusut sejak tahun 1980-an, yang kala itu mencapai 44 wilayah ekosistem.
“Itupun sudah tercabik-cabik, tidak tersambung antara ekosistem dengan ekosistem yang lain. Tidak ada koridor yang bisa menyatukan atau membuat mereka berhubungan,” tutur Raja Juli dalam peluncuran film "Berbagi Ruang untuk Bukit Tigapuluh" di Jakarta, Selasa (12/8). Berkurangnya wilayah dan lokasi ekosistem yang terpisah-pisah, akan berdampak buruk pada keberadaan gajah Sumatera dalam jangka panjang.
Direktur Eksekutif WWF Indonesia, Aditya Bayunanda, menjelaskan situasi ini berpengaruh pada kekayaan genetis gajah. Kondisi mendesak ini membutuhkan uluran tangan manusia. “Persoalan kekayaan genetis itu harus mulai dipikirkan, bagaimana gajah dari Lampung bisa kawin juga dari kantong-kantong yang lain,” ucap Aditya.
Gajah Sumatera masih harus melawan status terancam punah atau critically endangered sejak pertama kali dilabelkan pada 2011 lalu. Status sekaligus peringatan dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) ini menunjukkan bahwa gajah Sumatera memiliki tingkat ancaman kepunahan sangat tinggi.
“Kita bisa keluar itu kalau tren populasinya naik, dan itu bukan setahun dua tahun,” tutur Aditya.
Berbagi Ruang untuk Bukit Tigapuluh adalah karya film dokumenter hasil kolaborasi Permata Bank dengan WWF-Indonesia dan KITE Entertainment. Film ini menyoroti kondisi gajah Sumatera di Bukit Tigapuluh, Jambi, yang semakin terancam punah karena koridor hidupan liarnya yang semakin tergerus.
Melalui karya ini, Permata Bank mengajak masyarakat untuk ambil peran dalam menjaga jalur pergerakan alami gajah Sumatera agar ekosistem Bukit Tigapuluh tetap seimbang dan berkelanjutan.
Ruang Gajah Sumatera Terus Menyusut
Saat ini, dari 16.570 hektare habitat gajah Sumatera di bentang alam Bukit Tigapuluh, kurang dari setengahnya yang tersisa sebagai hutan alami. Kawasan ini merupakan zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan benteng terakhir gajah Sumatera.
Ahli Konservasi WWF Indonesia, Febri Widodo, menjelaskan bahwa saat ini jalur koridor gajah Sumatera banyak beralih menjadi perkebunan monokultur, permukiman manusia, dan pembangunan infrastruktur seperti jalan raya.
“Itu kemudian berpengaruh pada ketersediaan pakan gajah,” ucap Febri, dalam cuplikan film “Berbagi Ruang untuk Bukit Tigapuluh”.
Dalam hal ini, Aditya menyebut perlunya peran aktif pemerintah untuk mengantisipasi ancaman untuk gajah, sekaligus mengurangi “konflik” dengan masyarakat.
“Area yang menjadi area gajah atau satwa lain, ini harus menjadi pertimbangan, baik dalam pemberian izin konsesi ataupun diberikan untuk masyarakat,” tambahnya. Selain hilangnya habitat, perburuan liar menjadi ancaman nomor dua yang dihadapi oleh Gajah Sumatera.
Tak hanya pemerintah, Aditya menegaskan peran penting swasta dan korporasi untuk membantu menjangkau ancaman yang luas ini.
