BRIN Ungkap Potensi Sumber Ramah Lingkungan Untuk Mitigasi Karat
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan potensi besar sumber daya hayati Indonesia sebagai bahan dasar inovasi teknologi mitigasi korosi atau karat yang ramah lingkungan.
Peneliti Ahli Utama BRIN Gadang Priyotomo menyatakan pengembangan variasi zat aktif antikorosi berbahan alami dari sumber wilayah darat dan laut Indonesia sangat penting. Menurutnya, pendekatan ini menjadi alternatif strategis menggantikan bahan kimia impor yang mahal dan tidak ramah lingkungan.
“Pada orasi ini, saya menyampaikan state of the art tentang perkembangan, peluang, dan tantangan riset korosi melalui pendekatan mitigasi ramah lingkungan dengan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia,” ujar Gadang dilansir dari laman resmi BRIN, Kamis (21/8).
Menurutnya, penemuan-penemuan kunci tersebut memberikan pemahaman komprehensif mengenai mekanisme perlindungan korosi berbahan alami melalui metode inhibitor dan coating di lingkungan industri maupun maritim sehingga bisa menjadi nilai tambah alternatif berbasis kearifan lokal.
“Selama dua dekade berkarier di BRIN, kami bersama mitra universitas telah mengeksplorasi potensi hayati khas Indonesia, mulai dari ubi ungu, kulit buah, daun talas, hingga teh putih, sebagai bahan alami inhibitor korosi yang mampu menyaingi bahkan melampaui efektivitas bahan sintetik,” ujar Gadang.
Ubi Ungu hingga Daun Tembakau Diuji Jadi Zat Antikorosi
Salah satu sumber hayati khas Indonesia yang berpotensi menjadi zat antikorosi adalah tanaman ubi ungu. Bahan nabati ini mempunyai nilai fungsi fisiologis positif sebagai zat antioksidan, anti kanker, dan anti bakteri.
"Melalui riset, potensi ubi ungu dapat diaplikasikan sebagai zat aktif antikorosi di bidang industri melalui adaptasi fungsi mekanisme zat antiradikal bebas,” jelas dia.
Riset juga menemukan limbah kulit buah kelengkeng dapat berfungsi sebagai zat antikorosi dengan efisiensi hingga 93% pada konsentrasi 500 ppm, menjadikannya solusi tambahan dalam pembersihan pipa migas.
Inovasi serupa dilakukan terhadap kulit buah naga, yang mampu menekan kerusakan korosi hingga 87,73%.
Tak hanya dari buah, potensi zat alami juga datang dari daun tembakau. Melalui riset yang dilakukan bersama timnya, ekstrak tembakau terbukti dapat menurunkan kerusakan korosi hingga 80% pada injeksi optimal 60 ppm dalam media simulasi production water flowline crude oil.
Bahan alami lain seperti daun talas dan daun teh putih juga menunjukkan hasil signifikan. Ekstrak daun talas mampu menekan laju korosi hingga 72% dalam aplikasi industri, serta hampir 80% pada penyimpanan larutan asam sulfat.
Sementara itu, ekstrak daun teh putih terbukti efektif mengurangi kerusakan korosi hingga 96% pada konsentrasi rendah, yakni 80 ppm.
“Fakta riset ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa untuk dikembangkan menjadi solusi antikorosi ramah lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya mendukung ketahanan industri, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan,” tegas Gadang.
Dengan penemuan ini, Gadang berharap melalui pemanfaatan bahan ramah lingkungan dalam metode mitigasi korosi, baik inhibitor maupun coating, Indonesia dapat menghasilkan strategi mitigasi yang akurat.
"Hal ini akan mendorong praktik teknologi hijau (green technology), mengurangi jejak karbon, serta mempromosikan penggunaan sumber daya yang lebih berkelanjutan,” tuturnya.
