Peneliti BRIN Kembangkan Biopestisida untuk Pertanian Berkelanjutan

Image title
8 September 2025, 12:51
BRIN
ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/foc.
Sejumlah petani mengikuti pelatihan pembuatan Biopestisida atau pestisida berasal dari alam di Desa Ternadi, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (9/8/2022). Pelatihan oleh Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) Kementerian Pertanian tersebut guna memperkenalkan dan memberi ketrampilan kepada petani cara pembuatan biopestisida yang ramah lingkungan yang dapat menghasilkan produktivitas tanaman yang tinggi dengan biaya yang murah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan dan memanfaatkan biopestisida sebagai bagian dari upaya menciptakan pertanian berkelanjutan, terutama di sektor hortikultura.

Kepala Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Dwinita Wikan Utami mengungkapkan, hortikultura merupakan subsektor strategis yang berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB), ketahanan pangan, kesehatan, hingga kesejahteraan petani. 

Namun, perubahan iklim dan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) masih menjadi tantangan serius yang dapat menurunkan produktivitas. Selama ini, menurutnya pengendalian OPT masih banyak mengandalkan pestisida sintetis. Meski efektif, penggunaannya berdampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. 

“Di sinilah biopestisida hadir sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan prinsip pengendalian hama terpadu,” ujar Dwinita dalam pernyataan resmi, Senin (8/9).

Dwinita menegaskan, riset biopestisida berbasis mikroorganisme maupun senyawa tumbuhan telah terbukti mampu menekan hama, menjaga kesuburan tanah, serta meningkatkan daya saing hortikultura di pasar global. Senada dengan itu, Peneliti PR Hortikultura BRIN, Sri Rahajoeningsih, mengatakan bahwa penelitian mengenai biopestisida ini bisa mengendalikan hama dengan praktik yang berkelanjutan.

“Review ini diharapkan memberi arahan bagi strategi pengendalian hama berkelanjutan, mendukung keamanan pangan, serta memperkuat peran biopestisida dalam pertanian modern,” jelasnya.

Sri menambahkan, biopestisida berpotensi besar menggantikan pestisida kimia, meski masih perlu ditingkatkan efektivitas lapangan serta jaminan keamanan lingkungannya.  Ia juga menyampaikan enam rekomendasi untuk riset biopestisida, antara lain: eksplorasi sumber baru, integrasi dengan pengendalian hama terpadu, studi dampak ekologi, uji coba lapangan skala luas, pemanfaatan teknologi presisi seperti nanoteknologi, serta edukasi bagi petani dan pembuat kebijakan.

Sementara itu, Peneliti BRIN Ni Made Delly Resiani memaparkan riset mengenai Trichoderma spp., cendawan alami pengendali penyakit hortikultura. 

“Penggunaan pestisida sintetis berlebihan menimbulkan pencemaran lingkungan, resistensi hama, hingga kerusakan ekosistem. Karena itu, diperlukan inovasi yang murah, mudah, aman, dan ramah lingkungan,” ungkapnya.

Menurut Delly, Trichoderma mudah diperbanyak, ekonomis, dan ekologis. Penelitian di Tabanan, Baturiti, hingga Sumba menunjukkan cendawan ini mampu meningkatkan bobot umbi, jumlah daun, serta produktivitas tanaman. Bersama kelompok tani, BRIN terus melakukan pendampingan agar teknologi ini dapat diadopsi secara luas.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...