Terumbu Karang Buatan Hidupkan Ekosistem Laut dan Perekonomian Lokal
Terumbu karang buatan dinilai memberikan manfaat dari sisi ekologi, ekonomi, dan sosial di sejumlah wilayah pesisir di Indonesia.
Chief Sustainability Officer Yayasan Terumbu Karang, Mira Tedja, menyampaikan program artificial reefs atau terumbu karang buatan telah memberikan dampak positif baik dari sisi ekologi, ekonomi, maupun sosial.
“Spirit dari artificial reefs adalah menghadirkan sesuatu yang indah dan bermanfaat sejak hari pertama masuk ke laut. Karena itu kami menekankan nilai artistiknya, sehingga bisa langsung menjadi atraksi bagi penyelam,” ujar Mira, di acara Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) Katadata, Selasa (10/9).
Menurutnya, kehadiran artificial reefs di lokasi wisata bahari mampu menggerakkan ekosistem ekonomi setempat. Ini lantaran wisatawan yang datang untuk menyelam tidak hanya menggunakan jasa operator selam, tetapi juga membutuhkan transportasi, akomodasi, hingga konsumsi.
“Jadi memang tujuannya adalah bagaimana kehadiran artificial reef ini di lokasi, di tempatkan bisa memberikan dampak ekonomi kepada pelaku terutama pelaku wisata bahari,” tambahnya.
Dari sisi ekologi, ia menegaskan keberhasilan artificial reefs diukur bukan semata pada panjang pertumbuhan karang, melainkan pada terbentuknya ekosistem baru.
“Jadi kalau awalnya area hanya berupa pasir, lalu muncul karang, datang ikan herbivor, kemudian biota lain. Itu yang jadi indikator utama,” jelas Mira.
Selain itu, terumbu karang buatan juga memberi manfaat sosial. Di Bondalem, misalnya, Mira mengatakan jika artificial reefs dijadikan media pendidikan bagi sekolah serta program penanaman karang oleh masyarakat.
Meski demikian, Mira menekankan keberhasilan program sangat bergantung pada infrastruktur pendukung dan ketersediaan operator selam.
“Kalau infrastrukturnya tidak ada, orang malas datang. Harus ada live operator, ada tempat sewa tabung, dive kit, baru semua bisa berjalan,” pungkasnya.
